
Segelas teh hangat di balik bilik
Kicau mania di atas pohon jati
Selalu saja kami dibuat melirik
Karya teman-teman di atas meja redaksi
Selamat siang teman-teman bilfest.id yang baik hati dan yang diam-diam mengaguminya tapi malu malu mengungkapkannya. Untuk yang barusan tadi hanya berlaku bagi yang sedang mengalaminya. Bagi yang tidak, cukuplah di siang bolong begini, berkawan dengan es teh dan sepiring gorengan anget. Uh… Nikmat mana lagi yang kau dustakan?
Jumpa lagi kita dalam mozaik kanon. Kali ini kita berkawan dengan tulisan cerpen dari penulis saking tlatah Ajibarang-Banyumas, yakni Mas W. Sefri, sengan judul cerpen “Tersandera di Balik Bilik”. Kemudian kita juga ditemani dengan tulisan puisi “Elok Nusantara dan Puisi Lainnya” dari Wulan Az Zahra, seorang pelajar asal Banyumas. Terakhir, kita dibarengi dengan tulisan puisi “Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 11)” dari sosok yang memprakarsai “Rintik Hujan di atas Buku Harian”, yakni Abdul Wachid BS. Tiga tulisan fiksi di atas, mengudara khususnya di bilfest.id dan umumnya di jagad media online sejak 18 dan 19 April 2026.
Mari kita sedikit menguliti ketiga tulisan fiksi tersebut dengan sederhana. Sesederhana menuangkan dua sendok kopi ke dalam cangkir dan menyiramnya dengan air panas yang mendidih. Sederhana bukan? Tidak, tidak sederhana sama sekali bagi orang yang sehari semalam karam di media sosial dengan kepala bersemayam di atas bantal. Tapi kita juga disebut orang kan?
Pemilu kita?
Membaca cerpen Tersandera di Balik Bilik karya W. Sefri, kita diajak untuk menengok praktik pemilihan umum, dalam hal ini pemilihan kepala desa/lurah. Namun bisa juga terjadi tak hanya lingkup desa, melainkan pemilihan umum lainnya. Tidak tahu secara pasti motif apa yang membuat penulis menulis cerpen tersebut. Apakah benar dari realita sosial penulisnya atau hanya bermodal imajinasi penulisnya. Akan tetapi seorang penulis atau siapapun orang yang bercerita, kebanyakan mengenai apa yang ia tuliskan atau ceritakan adalah sesuatu yang dekat dengan penulisnya, mungkin mengalaminya sendiri atau orang lain yang mengalami kemudian ia yang menuliskannya.
Cerpen ini memotret suatu fenomena seseorang yang kebebasan memilihnya tak benar-benar bebas. Keputusan memilihnya tak sebagaimana asas pemilu di negara kita yang katanya, “Luber Jurdil.” Terlebih saat salah satu pemain domino bertanya kepada Suryono, “Gimana, Sur? Masih mau pilih pakai hati?” Melihat Suryono seperti melihat seseorang yang sedang berada di persimpangan jalan. Ia menyadari bahwa pilihannya sudah “dibeli” jauh sebelum ia sampai di bilik suara.
Pertanyaannya, apakah di negara kita atau desa kita saja, pemilunya sebagaimana atau sebelas-duabelas dengan apa yang terjadi dalam cerpen Tersandera di Balik Bilik? Tapi hal ini, jangan coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang. Biarkanlah rumput bergoyang sebagaimana mestinya. Tapi kalau kalian kekeh untuk bertanya kepada rumput, ya silakan saja. Wkwkwk.
Cintya Nusantara
Setelah kita dihadapkan dengan problematika pemilu yang sering membuat orang mengenyam rasa pilu, kita lantas dimanjakan dengan puisi-puisi dari Wulan Az Zahra yang kali ini tersimpul dalam “Elok Nusantara dan Puisi Lainnya.” Ada empat puisi yang ditorehkan olehnya di dinding bilfest.id: Lembaran Baru, Pergi Abadi, Singgah Lembayung, dan Elok Nusantara. Akan tetapi puisi pelajar Banyumas ini, didominasi dengan puisi yang beraroma semerbak kesenangan, keindahan, dan semangat dan harum-harum nilai positif lainnya. Hanya satu puisi yang bernuansa sendu, khususnya puisi berjudul Pergi Abadi. Selain itu, dominan puisinya tentang keindahan (Sansekerta: Cintya).
Kami rasa, penulis – dalam berpuisi – suka akan diksi-diksi yang bukan dipakai dalam keseharian. Mengapa demikian? Tampak sangat banyak diksi-diksi yang lahir dari rahim bahasa Sansekerta yang kemudian oleh penulis pakai dalam mencipta puisinya. Seperti kata daksa, nirmala, anila, atma, dan nabastala. Diksi-diksi tersebut jarang didengar dalam keseharian, akan tetapi dalam puisi acap dipakai. Terutama oleh penyair-penyair yang menomorsatukan keindahan kata-kata dalam berpuisi.
// Desir angin alihkan pandangan / Nirmala, kirana, memesona / Kelopaknya melambai-lambai ke arahku / Wahai sang puspa pesona, engkau menyejukkan kalbu //. Terlihat ada kata Nirmala dan kirana yang asing cum ganjil di telinga kami (setidaknya wong Banyumasan). Dengan perantara diksi-diksi dari Bahasa Sansekerta, penulis menyajikan keindahan Nusantara yang mungkin oleh penulis maksudkan adalah Indonesia. / kulihat hamparan karpet hijau maknawi / Luas terbentang gagah sang negeri //.
Doa yang menjelma
Selanjutnya kita membaca puisi-puisi dalam “Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 11)” buatan dari Abdul Wachid BS. Puisi series ini sudah mencapai episode yang ke-11. Tayang dalam seminggu sekali, tepatnya pada minggu pagi. Rasanya puisi-puisi pada episode sebelas ini sudah mendekati ending serial puisi Segelas Teh Tanpa Gula. Melihat tema-tema puisinya seolah-olah semacam sebuah paragraf yang mengarah pada penutupan. Terdapat lima puisi dalam episode kali ini: Cinta yang Tak Diberi Nama, Tanganmu Doa, Pelukan yang Senyap, Matamu Masih Menyimpan Senja, danSepiring Kenangan Tanpa Sendok.
Semua orang berhak membaca Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 11) dan mengartikannya sebagaimana kehendaknya. Orang boleh menyebut tanpa gula itu ngga bahagia. Tapi orang lain menyebut, tanpa gula itu bahagia. Dalam hal ini kami membaca Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 11) sebagai doa yang menjelma. Doa yang kita tahu dalam bentuknya adalah pelafalan, tulisan, atau teks oleh penulis diartikan sebagai sebuah laku tindakan. Menjelma menjadi meletakkan sepiring bubur / di meja pagi /. Bahkan menjelma sebagai pelukan, // Malam itu, / dunia kehilangan bentuknya. / Yang ada hanya pelukanmu, / dan kesembuhan / yang lahir dari pelan / dan penuh. //.
Barang kali (setidaknya pada serial Segelas Teh Tanpa Gula dan Rintik Hujan di atas Buku Harian) sudah menjadi karakter Abdul Wachid BS dalam berpuisi, ia dominan merentang-ruang dan merentang-waktu bereksperimen dalam puisi-puisi yang reflektif-religius. Tak terlalu menggebu-gebu, berapi-api, dan mungkin tak ada niatan membuat pembaca berdecak kagum. Lebih-lebih dengan penggunaan bahasanya yang ramah telinga, / tanganmu telah belajar lebih dahulu / menjadi doa / yang tak bisa ditulis / oleh kitab manapun, / kecuali oleh kasih / yang menghafal luka-luka / dengan sabar. //.
***
Mozaik kanon kali ini semacam berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Berawal dengan cerpen Tersandera di Balik Bilik yang melahirkan perasaan ngilu (duka). Kemudian puisi Elok Nusantara dan Puisi Lainnya yang menelurkan perasaan senang (suka) bahwa masih ada yang patut kita syukuri di negeri sendiri dengan pemandangannya walau ketika melihat pemerintahannya, ngilu kembali. Lantas sekalipun demikian boncosnya birokrasi negeri sendiri, kita tetap perlu untuk mentradisikan doa. Baik doa dalam ucapan maupun doa dalam tindakan sebagaimana pada puisi-puisi Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 11).
Tabik,
Tim Redaksi

dari Banyumas menyapa Indonesia




