
Supaya lebih utuh seluruh, bacalah terlebih dulu:
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 1)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 2)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 3)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 4)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 5)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 6)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 7)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 8)
Menuju Cahaya
yang Tak Terlihat
Langkah ini bukan kaki
tapi bayang yang membelah bayang,
menyisakan luka yang ingin bernama.
Aku mulai dari ruang
yang tak lagi punya arah.
Ia berbicara dalam bahasa benda,
dan aku mendengarnya
seperti batu mendengar hujan.
Setiap detak:
huruf yang tertinggal dari wahyu.
Aku membacanya
dengan mata yang tak selesai
belajar cahaya.
Aku tahu,
cahaya tak selalu datang dari terang.
Ia adalah suara
yang tak bisa ditulis
tapi menetap
di bawah lidah malam.
Maka aku berjalan,
bukan karena tahu,
tapi karena tubuhku
telah menjadi pertanyaan
yang menunggu dijawab oleh sunyi.
2025
***
Tersenyum Pada Hari Esok
Sayang,
esok bukan hanya waktu,
ia adalah gaun baru
yang ingin kau kenakan
dengan hati yang wangi.
Tersenyumlah …
seperti kenanga terakhir
di ujung musim penghujan,
yang tahu dirinya akan gugur,
namun tetap ingin dilihat
oleh cahaya pagi.
Esok adalah kata
yang belum kita ucapkan,
sebuah ciuman
yang belum menemukan pipi.
Jangan takut,
bibir hari ini boleh pahit,
tapi matahari esok
mungkin belajar mencintaimu lebih dalam
dari malam yang selalu lupa mendoakanmu.
Maka tersenyumlah,
dan biarlah hari esok datang
seperti kekasih
yang akhirnya berani mengetuk pintu
tanpa membawa luka.
2025
***
Peluk yang Terlambat
Tapi Nyata
Aku tidak marah
meski kau datang
saat luka sudah kubiasakan duduk diam
di samping bantal.
Pelukmu terlambat,
tapi ia nyata,
seperti embun
yang tetap setia datang
meski fajar kadang
tak membuka jendela.
Kau tahu?
rinduku sudah lama bersujud,
berharap tubuhmu
jadi sajadahnya.
Dan ketika kau datang,
aku tak butuh penjelasan
hanya lengkung tanganmu
yang membuat hatiku percaya lagi
pada rahmat yang ditunda.
Peluk itu,
bukan obat,
tapi kesembuhan.
2025
***
Waktu yang Kini Bersahabat
Waktu,
dulu kau seperti bayangan
yang tak memilih
selain memburu.
Aku adalah daun
yang gugur
di antara detikmu
yang diam-diam menciptakan
kuburan sunyi.
Kini aku temukan
dalam gelapmu yang paling lambat
sebuah ruang
tanpa jam
tanpa hitungan.
Kita tak lagi saling melukai
sebab tak ada luka
di dalam hening
yang telah mengerti arti menunggu
tanpa berharap kembali.
Kau tak lagi penguasa,
aku tak lagi tawanan.
Kita hanyalah dua peziarah
yang saling menampung bayang
menuju matahari
yang tak terburu-buru.
Dan di antara denyut
yang kini lebih pelan,
aku menyebut namamu
bukan sebagai ancaman
tapi sebagai puisi
yang tumbuh
dari luka yang telah memaafkan.
2025
***
Sakit Adalah Lembayung
yang Membuka Gerbang
Tubuhku,
sehelai ranting yang patah,
jatuh di bawah langit yang tak peduli.
Ranjang ini
bukan tempat tidur,
tapi pembaringan suci
di mana aku meletakkan
segala kesombongan
dan membiarkannya terbakar
oleh nyeri yang lambat menyala.
Sakit datang
seperti tamu
dari masa lampau
membawa kitab-kitab
yang dulu kuabaikan:
tentang makna pernafasan,
tentang detik
yang seharusnya kuhadapi
bukan kukejar.
Aku tersungkur
di dalam diriku sendiri.
Ada sungai
yang dulu kering
kini mengalir
dari ujung nyeri ke ujung pasrah,
dan di antara keduanya,
aku mendengar
getar yang bukan lagi bahasa
melainkan cahaya.
Wahai malam,
bimbing aku
menyebut nama-Nya
bukan karena takut,
tapi karena aku akhirnya tahu
apa artinya hidup
yang selama ini
hanya menjadi bayangan
di dinding waktu.
2025
***
Abdul Wachid B.S. penyair yang lahir 7 Oktober 1966 di Lamongan Jawa Timur. Ia mendapatkan penghargaan tertinggi Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Mastera) pada 7 Oktober 2021 untuk buku esainya, Sastra Pencerahan (Penerbit Basabasi, 2020). Selain sastrawan, ia menjadi Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.




