Pesona yang Nyasar dan Puisi Lainnya

Kakak Serba Bisa (Katanya)

Belum selesai capek,
sudah capek lagi
Belum sempat duduk tenang,
nama dipanggil lagi
Aku ini kakak serba bisa,
padahal sering kali tak bisa apa-apa

Diminta sabar,
padahal kesabaran juga punya kuota

Lucunya,
di depan mereka aku kuat, tegas, sok dewasa

Tapi ketika malam tiba,
aku cuma anak biasa
yang ingin tidur tanpa teriakan
dan bermimpi tanpa panggilan.

***

Pesona yang Nyasar

Sudah kutaburkan pesonaku ke segala arah
senyum kanan kiri, sopan di depan,
receh di belakang.

Namun yang jatuh bukan cinta,
melainkan tugas tambahan
dan curhatan teman.

Katanya aku tempat yang nyaman,
katanya mudah diajak cerita
Tapi pada akhirnya, tetap saja aku sendiri.

Barangkali pesonaku nyasar,
salah alamat,
atau masuk folder spam.

***

Visi yang Tak Sinkron

Aku ingin jadi kaya,
tapi dompetku tak sependapat.

Aku ingin rajin,
tapi kasur punya visi misi sendiri.

Aku ingin produktif,
tapi layar ponsel lebih meyakinkan.
Katanya hidup harus bergerak,
tapi aku sedang kehabisan bensin niat.

Tak apa,
hari ini masih hidup
itu saja dulu pencapaianku.

***

Pagi di Rumah Kami

Pagi di rumahku tak pernah benar-benar sunyi.
Suara ibu jadi tanda bangun,
memanggil hari dengan nada yang akrab.
Bapak memanaskan motor dihalaman,
yang masih menyimpan sisa dingin.

Keributan kecil saling menyusul,
mengajari pagi cara hidup apa adanya.

Di balik riuh yang tampak biasa,
hidup berjalan pelan-pelan.
Sunyi sering menipu
ia menyembunyikan rindu tanpa suara.

Di rumah ini, waktu berdetak
dalam omelan singkat
dan tawa yang tumbuh tanpa diminta.

Kelak, ketika hening mulai akrab
dan usia memanggil satu-satu
keributan ini berubah menjadi kenangan
melodi lama yang terus berputar,
tentang pagi, tentang rumah,
tentang cinta sederhana
yang diam-diam tak pernah pergi.

***

Senja

Senja jatuh perlahan,
mewarnai langit dengan sisa hangat
yang tak pernah sampai padauk.
Ada hening yang terasa berat.

Cahaya memudar satu per satu,
seperti janji yang tak pernah Kembali.
Di antara jingga yang retak,
namamu datang lagi tanpa permisi.

Rindu ikut tenggelam,
tapi tak pernah benar-benar hilang.
Ia hanya sembunyi
di tempat yang tak bisa kujamah.

Dan ketika matahari lenyap,
aku akhirnya mengerti
yang gelap bukan langitnya
tapi aku yang kau tinggalja di dalamnya.

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top