Sketsa dan Puisi Lainnya

Identitas

Agar seseorang bisa menemukanku,
aku harus memasang wajahku sendiri,
menatap dengan mataku sendiri,
senyum dari bibirku sendiri.
Bayanganku harus mengenali aku dulu,
meskipun aku belum tahu siapa aku.

***

Fenomena Mekarnya Bunga Langka

Andai aku setangkai bunga langka,
yang dipagari gulungan kawat
dengan papan “Jangan Disentuh!”,
dan harus menghadapi ratusan kamera,
setiap jam, hari, selama mungkin,
maka aku hanya akan mekar
di saat kau datang mengunjungi.

Kelopak nilaku berhenti mengatup
bukan oleh matahari atau angin,
tapi karena kau di kerumunan itu.
Entah pagi atau siang.
Entah libur atau sibuk.
Orang-orang mulai mengamati.
Merangkai puluhan variabel dan peluang.
Jam, cuaca, kelembaban, atau musim.
Lalu menaikkan tarif pada waktu-waktu paling mungkin.

Bagiku, itu adalah cinta.
Bagi mereka, itu adalah bahan berita.

Dan kau pasti tahu
apa yang akan jadi judulnya.

***

Dewasa

Sendi-sendi mulai terkikis usia.
Angan-angan tergerus realita.
Kini tidur harus lebih cepat,
subuh-subuh rezeki minta digenggam.
Dulu hujan badai tak jadi penghalang,
sebab bukan aku yang takut demam.

***

Sketsa

Jemarimu lincah merangkai garis-garis sketsa.
Setiap goresan kauhitung tanpa setitik ragu.
Seperti ini, seperti itu, begini, dan begitu.
Kau tanya padaku apakah aku paham atau tidak.
Tentu tidak…
Sebab bukan sketsamu yang sedari tadi kupandang.

***

Musuh

Hidup terus kutata dengan rapi.
Rencana kususun layaknya angka.
Mencatat setiap keinginan dan kebutuhan,
setiap tugas dan mimpi.
Mana yang harus dikejar,
mana yang harus dikubur diam-diam.
Kita tahu benar bahwa segala yang hidup
akan terkulai di hadapan waktu.

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top