
Gema Luka
Luka bertabur acak di atas raga
Tiap detik kau nikmati getirnya saja
Nikmati secukupnya katanya
Duka itu menetap dalam dagingnya.
Teguk rasa getir yang diseduh waktu
Kauteguk itu getir tanpa ampunmu
Meski tiap tegukan menggerus tenangmu
Luka dan getir dibiarkan membuas dalam dirimu
Betapa gigih kau menjahit ragamu
dari sobekan luka yang menganga
Menyulam seluruh kalah jadi benang kasih
Agar kuat berdiri di ujung bencana sana
Kau pernah jatuh
namun tak pernah benar-benar habis
Bertahan cukup karena esok menunggumu
takdir punya cara lembut tuk pulihkan segala remukmu
Selama napasmu ada
kau tidak tewas tapi tumbuh
Dari riuh luka perih yang menghujam langkahmu
Kau percaya luka itu bukan akhir cerita
***
Pukul Satu Pagi
Malam lelap gelap hitam adanya
Malam berganti jadi pukul satu pagi
Harap mata terpejam namun tak disangka
Masih mendelik lelehkan air mata
Hiasi pukul satu pagi dengan lagu kecemasan
Lagu kecemasan semakin keras suaranya
Tenang tak kunjung datang juga
Tiba-tiba sayup suara tamborin menelusup
Iringi nyanyian perahu layar yang sumbang
Pukul satu pagi bapak tua sambung menyanyi
Di pukul satu pagi
Lampu jalan hanya menyala setengah hati
Datang denting tamborin lirih sekali
Mencari telinga yang terjaga di pukul satu pagi
Siapa yang tiba memberi rezeki
Di jam orang yang sibuk bermimpi?
Tapi malam ini aku tahu ada jiwa yang bergetar
Suara lirih tapi lantang menembus sepi
Aku semakin terjaga lalu bertanya
Adakah keadilan untuk mereka
Yang tetap bernyanyi
Meski perutnya sunyi?
***
Perempuan Itu
Dalam sunyi malam ia menekuk lutut
Menyulam doa dari butir-butir air mata
Membisikkan ribuan lara kepada langit
Yang tak pernah menutup telinga
Mendengar keluhnya dengan sabar jembar
Kepada awan ia tumpahkan resah yang menyesak
Kepada bulan ia benamkan duka yang belum larut
Kepada bintang ia titipkan nestapa yang menyala
Kepada angin ia hembuskan derita yang membakar jiwa
Seluruh penghuni langit menadah ratapnya
Tengadah kepalanya serahkan resah
Membiarkan gundah perlahan dilepas pasrah
Bersuara lirih ia menunduk lemah
Doa diucap harap seluruh beban luruh
Memohon dengan hati yang lapang harap teduh
Ketika fajar perlahan menyingkap tirai gelap
Senyum mengembang tipis pada ranumnya
Bukan sebab seluruh beban telah pudar bubar
Tetapi kali ini karena ia percaya adanya
Tuhan dengan lembut menggandeng jemarinya
Memberi cahaya petunjuk yang tak akan hilang untuk jalannya
***
Geger Lengger
Bunyi gamelan menggema di telinga
Menebar getar sakral penuh jiwa
Energi leluhur terpatri dalam setiap langkah
Menari mesra memikat mata sarat pesona
Gadis muda menyibak sampur merah
Pijakan kakinya getarkan tanah Jawa
Mata tergoda gerak gemulainya
Meliuk-liuk elok menyatu irama
Kanan kiri tari gerak tubuh sejuta makna
Namun rupanya oh rupanya
Bukan gadis muda pemain sampur
Tapi lelaki kekar kumis tipis yang berpoles dan bersanggul
Gagah nan anggun pancar aura daksa
Elan menari sampur merah disibak atas bawah
Riuh irama gamelan iringi tarian molek nan harmonisnya
Gebyar seni lenggak lenggok lengger Banyumas raya
Tari lengger bercerita hipnotis sepasang mata
Rasuk jiwa raga menyatu dalam gerakannya
Ini seni dari tanah Jawa
Warnai langit bumi khatulistiwa
Keindahan ini nyata adanya jangan memudar dari jiwa raga
***
Safrina Aulya Adhisty, lahir di Purbalingga pada bulan April 2004. Safrina aktif mengikuti berbagai komunitas online, di antaranya Ruang Edit—yang berfokus pada dunia editing—serta PMD (Perempuan Masa Depan) Community. Safrina juga pernah menerbitkan karya tulis berjudul Imajinasi Berbalur Diksi yang dipublikasikan oleh CV. Cahaya Pelangi Media pada tahun 2021. Ia dapat dihubungi melalui Instagram dengan akun @_adhies




