Siklus Air Harian dan Puisi Lainnya

Kawah

Kepulan belerang menyapa tanpa permisi,
Air asam biru berkilauan, misteri tak terjamah.
Warna-warna mineral di dinding curam berbatu sunyi,
Aroma tajam menusuk, mengingatkan pada sejarah.
Hening abadi di bibir raksasa bumi.

***

Jam Pasir Waktu

Detik berjatuhan perlahan
Di ruang hampa
yang sunyi,
Butir-butir
halus
masa lalu
berkumpul
di dasar, Sebuah bukit
waktu Terbalik menanti.

***

Siklus Air Harian

Kabut nol derajat merayap dari lembah,
Kristal mikron menggantung di bilah rumput.
Titik embun jenuh, perlahan pecah,
Menyerap radiasi surya yang lembut.

Siang hari, evaporasi tak terelakkan,
Air dari danau, daun, dan jalanan aspal.
Uap air naik, mengikuti hukum konveksi mendalam,
Menanti titik beku tinggi di langit yang tebal.

Malam datang, awan cirrus yang tipis menipis,
Kondensasi melambat, dingin memeluk bumi.
Setiap tetes kembali ke muara, ke hulu, ke sisi,
Siklus hidrologi yang tak pernah mati.

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top