
Kalau ada pertanyaan tentang apa yang dicari dalam kehidupan, maka hampir kebanyakan menjawab secara general tentang kebahagiaan. Bahagia tentu dalam perspektif yang berbeda-beda, ada yang diturunkan menjadi makna jabatan atau posisi, kekayaan dan aset yang melimpah, kehormatan, dan hampir jarang yang berbicara tentang kesehatan, tentu dalam diksi sehat jasmani dan rohani, lebih-lebih sehat mentalnya. Bahagia menjadi sangat beragam pemaknaannya, dan hidup menjadi panggung perlombaan atas keberagaman itu.
Agaknya persepsi tentang kebahagiaan, kesenangan dan kesukaan juga tidak dipadukan dalam satu frame yang sama; rasa dan kecenderungan. Memang, arti dari diksi-diksi tersebut berbeda, namun rasa dan kecenderungannya sama; sama-sama berbicara keberpihakan pada kesesuaian antara pikiran dan ekspektasinya. Sehingga penempatan rasanya dipukul rata pada ketersesuaian, akibatnya akan goyah dan runtuh saat tidak sesuai dengan ekspektasi idealnya.
Agar tidak sakit lagi maka berobat, dan jarang obat yang manis atau disuntik itu tidak terasa, pasti pahit, pasti tidak enak, dan pasti sakit juga, wong namanya disuntik dan dioperasi ya pasti sakit. Paling-paling dipatirasa, idiom yang kerap muncul juga di publik, pengalihan isulah atau apalah – yang penting aman dan semua senang.
Pendidikan kita juga demikian, tidak jarang menyuguhkan like and dislike, kita tidak perlu berbicara kurikulum atau model pembelajaran, nyatanya persepsi tentang pendidikan juga belum benar-benar utuh dan sama persepsinya.
Jiwa kompetitif dibangun bukan untuk meningkatkan kualitas manusianya, melainkan prestasi, trophy dan ragam sertifikat, itu semua menjadi piranti atas capaian kebahagiaan walaupun entah itu ilusi atau bahkan delusi. Prinsip teologis praktisnya jelas, alaa bidzikrillah tathmainnu al qulub, bahwa dengan senantiasa mempelajari tanda-tanda dan selalu mengingat-Nya maka akan tentram hatinya. Interpretasinya adalah untuk merasakan bahagia maka perlu ada titik keseimbangan tentang sikap dan kesadaran, tentu wajib dipelajari terus menerus.
Bukan berarti harus zikir terus, atau salat terus, tapi mengejawantahkan zikir dan salat itu juga penting, karena sifatnya adalah pengabdian pada-Nya. Baik pada sesama, menjaga perasaan dan tidak membuka aib orang lain juga bagian dari salat yang diejawantahkan menjadi perilaku. Pun tentang menjaga alam, menjaga stabilitas perkembangan sosial, tidak memihak ini dan itu, dan lain sebagainya. Bukankah polanya adalah kembali ziarah pada diri sendiri agar sampai pada tahu diri, dan kenal Tuhannya. Bahagia adalah proses yang dilalui bukan hasil yang dicapai.
Jadi harus jelas fakultasnya, ini fakultas praktis atau substantif, fakultas dhohir atau batin, sehingga rules-nya jelas. Mana yang asupan otak, mana yang asupan hati. Sayangnya sengkarut dalam memahami “kebahagiaan” itu dianggap kaprah. Pendidikan yang menjadi wadah penempaan diri bukan berbicara praktis dan substantif, namun copy paste pembelajaran dari yang sebelumnya, jika ada pengembangan hanya dianggap sebagai penyesuaian diri.
Memang tidak ada yang ideal dalam pola pendidikan, tapi dalam proses yang sedang menumbuh, apalagi di zaman dengan informasi begitu cepat diterima, mengapa pendidikan kehilangan ruhnya; ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Filosofi ini hanya menjadi seperti baliho-baliho pemilu dengan foto para calon yang menampilkan epok-epok sebagai personal yang ideal. Apakah kebahagiaan kolektif dapat dilalui? kita perlu ngilu dan ngaca lalu kembali berdiskusi dengan diri sendiri secara jujur.
Jangan-jangan apa yang dipahami sebagai kebahagiaan itu adalah kesenangan, atau kesukaan, dan bahkan kecenderungan yang dibenarkan, bukan secara kolektif tapi oleh dirinya sendiri. Jika demikian maka diksi pendidikan dengan idiom mutu, idiom berakhlak, beragama, biasanya disebut iptek dan impact, semua itu masih bersifat cita-cita, bukan benar-benar demikian.
Belum lagi perangkat untuk menuju kebahagiannya, kadang benar-benar tidak disiapkan. Kalaupun siap, tapi enggan evaluasi, lebih suka membicarakan di luar diri daripada menengok ke dalam saku dan bajunya. Perangkat itu adalah kemauan dan kesadaran, yang mana perangkat ini juga perlu disinauni, dipelajari terus menerus. Artinya tidak ada yang luput dari belajar terus. Bukan hanya wajib belajar sembilan atau tiga belas tahun.
Ilmu iku kelakone kanti laku, bahwa ilmu dan pengetahuan secara praktis harus dinyatakan dalam kehidupan, dan prosesnya tentu tidak hanya terbatas pada batas tahun lalu dianggap selesai, wong jelas minal mahdi ila allahdi, dari lahir sampai mati.
Kalau saja pendidikan hanya menjadi pabrik capaian, tempat angka, gelar, dan validasi-validasi, maka kita sedang menanam generasi yang lihai meraih, tapi gagap merasakan. Mereka mungkin sampai pada “puncak”, tetapi asing terhadap dirinya sendiri. Kalau pakai persepsi tujuan, maka kebahagiaan bukan lagi tujuan, melainkan sekadar dekorasi dan hiasan-hiasan dinding belaka.
Barangkali yang perlu kita sinauni bukan sekadar sistemnya, melainkan substansinya untuk apa kita belajar, dan untuk siapa kita menjadi? Sebab pendidikan sejatinya bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tapi siapa yang paling sadar sedang berjalan. Bukan tentang seberapa banyak yang kita kumpulkan, tetapi seberapa dalam kita memahami.
Jika kebahagiaan adalah proses, maka pendidikan adalah jalan sunyi yang menuntut kejujuran. Ia tidak selalu nyaman, tidak selalu manis, dan seringkali menuntut kita merobohkan ilusi yang kita bangun sendiri. Namun justru di situlah letak kemerdekaannya, ketika kita berani mengoreksi diri, menata ulang makna, dan tidak lagi menggantungkan bahagia pada tepuk tangan luar.
Hari ini kita membutuhkan “fakultas kebahagiaan” sebagai institusi, melainkan sebagai kesadaran. Sebuah disiplin batin yang terus dilatih untuk tahu diri, mengerti batas, dan tetap berjalan tanpa kehilangan arah. Karena ketika pendidikan kembali menemukan ruhnya, kebahagiaan tidak perlu dikejar. Ia akan tumbuh, diam-diam, dari cara kita menjalani hidup dengan utuh.
Ahmad Dahri adalah seorang pegiat budaya kelahiran Malang. Saat ini, ia aktif berkontribusi di beberapa kolektif dan lembaga riset, di antaranya Republik Gubuk, Muktilaku, Pancasuma, dan Neras Suara Institute. Bisa disapa lewat Instagram @a.dahri01.




