
Teman-teman bilfest.id yang budiman, selamat datang kembali pada Mozaik Kanon: semacam ruang kecil-kecilan yang menampilkan ulasan singkat mengenai tulisan yang tayang di bilfest.id pada hari Sabtu dan Minggu. Kali ini tulisan yang akan diulas ringan-ringan – seringan berangan-angan, karena yang berat adalah mengeksekusinya – adalah cerpen berjudul “Perempuan itu Seperti Pohon Kopi yang Ada di Pinggir Kolam” karya Diaran dan seikat puisi “Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 5)” karya Abdul Wachid BS serta seutas puisi dari Aurora Nabilla berjudul “Konklusi dan Puisi Lainnya”. Ketiga tulisan tersebut tayang pada tanggal 7 & 8 Maret 2026.
Mozaik Kanon tidak berusaha mencari benang hijau – sesekali ga pake benang merah mulu – dari ketiga tulisan tersebut. Baik cerpen maupun puisi. Tulisan, sekalinya sudah ditayangkan adalah kebebasan pembaca untuk memaknainya, menafsirkannya, dan meraup nilai/hikmah darinya. Apalagi dalam sastra, khususnya dalam puisi yang hemat kata namun acapkali boros arti dan makna. Satu kalimat dalam puisi bisa sangat mungkin berkalimat-kalimat bahkan berparagraf jika dituliskan dalam teks naratif-deskriptif. Walhasil, Mozaik Kanon hanyalah selayang pandang akan tulisan yang tayang. Tidak serta merta apa yang kami tuliskan ini adalah sebagaimana yang penulisnya harapkan dari tulisannya masing-masing.
Bukankah butuh sekian purnama untuk bisa menyelami bahtera pikiran, imajinasi, dan kreativitas seorang penulis? Satu tulisan bagi kami tidak lantas membuat kami berani semena-mena megeneralisir atau gebyah uyah atas tulisan-tulisan lainnya dari si penulis. Mozaik Kanon mencoba menikmati hidangan tulisan, kreasi masakan dari penulisnya. Namanya menikmati, kadang berkomentar juga sih. Hehe.
Romantisme dalam Perempuan itu Seperti Pohon Kopi yang Ada di Pinggir Kolam
Membaca cerpen ini – bagi kaum yang tidak nir-asmara atau orang yang ga terlalu suka romantis-romantisan – mungkin akan merasa bosan atau segera hengkang dari gawai. Tapi bagi penyuka cerita bergenre romance, barangkali ini bisa menjadi sofa empuk untuk diduduki. Perpaduan antara coffee shop, sastra, dan senja adalah komposisi menarik untuk sebuah adegan romantis, rumornya. Slebew…
Dalam “Perempuan itu Seperti Pohon Kopi yang Ada di Pinggir Kolam” dihadirkan laki-laki dan perempuan yang sedang menyesap senja dan ngopi di sebuah coffee shop dengan keduanya sesama maniak buku. Si laki-laki melihat perempuannya dengan membayangkan sosok Annelies Mellema dalam Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Sedang perempuannya membaca Anak Semua Bangsa. Dalam hal ini, penulis membangun nuansa romance sejak awal cerita. Tentang laki-laki yang menghasrati perempuan secantik Annelies, pemerhati buku, kopi, dan fiksi. Laki-laki yang hidupnya cukup dengan kamu, buku, kopi, dan fiksi. Kemudian sampai pada adegan lelaki tersebut terpeleset dan masuk ke dalam kolam ikan. Ia kuyup seluruh. Barulah di sini sisi romantismenya tertimpa dengan humor.
Plot twist-nya, ternyata romantisme dalam cerpen ini hanyalah ilusi belaka. Romantisme yang penulis bangun sejak awal cerita sampai sesaat sebelum akhir cerita, ternyata tak lain adalah sebuah mimpi atau bunga tidur. Dalam realitanya aktor utama dalam cerpen, basah kuyup karena disiram air oleh temannya yang sedari tadi membangunkan untuk berangkat kuliah karena ada UAS. Bukan karena kejegur kolam ikan. Sebenarnya plot twist mimpi semacam ini sudah klise. Tapi hal ini mungkin masih jadi hal yang menarik bagi pembaca.
Tuhan dalam Tubuh yang dibalut Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 5)
Puisi dalam “Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 5)” menghadirkan tubuh sebagai medium mencari Tuhan. Tubuh menjadi media tanam bagi pohon spiritualitas penulis. Penulis melakukan perjalanan ke dalam dirinya. Perjalanan spiritual tidak hanya laku kita menuju masjid atau tempat ibadah. Melainkan perjalanan ke dalam diri. Ruang Tunggu dan Sajadah Sunyi, Detak Zikir, Iqra di dalam Darah, Mushaf di dalam Dada, dan Menyulam Harap di Ujung Infus adalah judul-judul puisi yang disajikan dalam sajian “Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 5)”.
Puisi-puisi Abdul Wachid BS dalam series “Segelas Teh Tanpa Gula” adalah puisi-puisi yang dominan mengungkapkan rihlah batiniyah aku lirik, perjalanan spiritualnya, dan sekalipun ada muatan kritik, itu kritik untuk diri sendiri. Jika bukan untuk diri sendiri, besar kemungkinan ndilalah relate saja dengan pembacanya dan fenomena saat ini. Di mana kita justru sering abai dengan diri kita sendiri, dengan nikmat-nikmat yang biasa hadir – seperti bernapas & jantung berdetak – dan segenap anugerah yang disematkan dalam diri kita. Ada ujar-ujar yang terjemahan bebasnya, “Barang siapa mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya.”
Aku lirik mengenal dan merasakan eksistensi Tuhannya tak harus bertolak ke masjid atau Masjidil Haram sekaligus. Ia dapatkan saat jantung berdetak dan hidung bernapas, // Aku mendengar detak dalam dadaku / seperti bilangan yang mengulang nama-Mu / mulai dari sunyi yang belum menjadi kata / hingga gema yang menjelma cahaya. // Tak ada yang lebih dekat dari nafas / selain Engkau yang tak teraba / tapi memeluk dalam setiap denyut / kala dunia berguguran satu demi satu. //. Tak menjadi masalah bagi aku lirik, ketika sewaktu-waktu dunia seperti daun yang berguguran. Selama Tuhan masih memeluk dalam setiap denyut semuanya aman-aman saja. “Aman saja mo ngapain mo repot…” Eits, malah nyanyi.
Di lain bait aku lirik menuliskan, // Dan Tuhan, / bukan berada di atas langit / atau di dalam buku yang tebal, / tapi dalam celah / antara dua helaan nafas, / yang kusebut: / mushaf / tanpa huruf //. Bagi aku lirik Tuhan tidak lantas berada dalam mushaf, al-qur’an, dan buku-buku agama lainnya. Melainkan sangatlah dekat, dalam celah / antara dua helaan nafas yang kemudian aku lirik menyebutnya sebagai mushaf / tanpa huruf.
Tragedi Kekuasaan dalam Konklusi dan Puisi Lainnya
Selanjutnya kita disuguhkan dengan puisi-puisi dari seorang remaja SMA di Semarang yang labil dan suka nyindir seniornya lewat puisi. Dalam “Konklusi dan Puisi Lainnya” penulis semacam menabuh genderang perang. Mengangkat senjata secara terbuka untuk menyindir elite penguasa, pejabat, dan pemangku kebijakan yang tidak sesuai SOP serta yang abai akan aspirasi dari masyarakat. Dia menuliskan, // Kau pikir kau sangar / Kau pun tak pernah istighfar / Beragam aduan menjadi ratusan eksemplar / Kau anggap semua hanya kelakar //. Dari sini kita dapati cara penulis – yang tak lain juga masyarakat – melihat fenomena pejabat yang nir-empati kepada masyarakatnya.
Di lain bait puisinya, Aurora Nabilla juga menyebutkan tentang praktik-praktik para petugas atau pegawai dan bahkan pemimpin yang menjilat kepada atasannya. Dia menuliskan, // Makin lihai petugas itu / Sukarela mencambuk sukma di atas dingin / Menggali informasi demi menjilat sang tuan //. Laku jilat-menjilat memanglah sudah menjadi rahasia publik. Terlebih sekarang dengan adanya media sosial, laku menjilat akan lebih tampak. Namun sayangnya hal semacam ini bukanlah suatu yang tabu melainkan hal yang wajar-wajar saja. Baik bagi orang-orang dalam lingkungan kerja maupun public di luar lingkungan tersebut.
Bagi Aurora Nabilla, secara hemat kami (sehemat senyum rakyat) – ia menyebut drama-drama semacam ini tak lain adalah tragedi kekuasaan. Di mana para pemimpinnya tak lagi memperhatikan masyarakatnya. Yang dalam benak-pikir mereka tak ubahnya bagaimana cara menaiki tangga jabatan sekalipun itu terkesan ugal-ugalan.
Tabik.
Tim Redaksi

dari Banyumas menyapa Indonesia




