Surat Kecil untuk Mama

Di atas meja kecil tak jauh dari jendela, selembar kertas yang mulai menguning terlipat jelas. Hingga Maria Lidia meraihnya dengan tangan yang masih gemetar dan membaca baris pertama. Kertasnya tipis, kuning seperti kertas lama, garis hitam penanya hampir pudar. Tulisan tangannya miring dan tidak rata.

SURAT UNTUK MAMA

Mama saya pergi dulu.
Mama relakan saya pergi.
Jangan menangis ya. Mama.
Mama saya pergi.
Tidak perlu Mama menangis dan mencari
Atau merindukan saya.
Selamat tinggal Mama.

Tidak ada nama di bawahnya. Namun Maria Lidia mengenali huruf-huruf itu seperti ia mengenali wajah anaknya sendiri. Pagi itu, rumah kecil di ujung kampung dipenuhi suara tangis yang memecah udara. Dua adik Zio berdiri di sudut ruangan, memeluk lutut masing-masing, belum benar-benar mengerti apa yang telah terjadi. Mereka hanya tahu kakak mereka tidak lagi ada.

Zio berusia sepuluh tahun. Dan dunia sudah terasa terlalu berat di pundaknya.

Beberapa hari sebelumnya, pagi di rumah itu berjalan seperti biasa. Maria Lidia bangun sebelum matahari. Ia menanak nasi dengan sisa beras yang diukur hati-hati. Air direbus secukupnya. Listrik dinyalakan seperlunya. Setiap keputusan adalah perhitungan.

Zio duduk di lantai dengan tas sekolah terbuka. Buku tulisnya tinggal beberapa halaman terakhir. Pena yang ia pakai sejak awal semester sudah hampir mati; tintanya keluar-putus, seperti napas yang tersengal. 

Ia mengguncang pena itu pelan. Tidak keluar.

“Mama,” katanya, suaranya pelan seperti takut menambah beban.

“Iya, Nak?”

“Besok harus bawa buku baru sama pena.”

Maria Lidia berhenti sejenak.

“Berapa harganya?”

“Sepuluh ribu.”

Sepuluh ribu rupiah.

Angka kecil yang sering tak berarti apa-apa bagi banyak orang. Namun di rumah itu, angka itu sebesar dinding yang sulit dipanjat.

“Nanti Mama usahakan,” jawabnya pelan setengah yakin setengah ragu.

Zio mengangguk.

“Iya, Mama.” 

Zio tidak merengek. Tidak memaksa. Ia hanya menutup tasnya perlahan, seolah sedang menutup keinginannya sendiri.

Di sekolah, Zio dikenal sebagai anak yang baik. Ia tidak banyak bicara, tetapi senyumnya mudah menular. Sesekali tingkahnya yang lucu menirukan suara ayam saat pelajaran IPA atau salah menyebut istilah dengan polos tentu membuat teman-temannya tertawa dan kelas terasa lebih hidup. Guru-guru mengenalnya sebagai anak yang jarang membuat masalah.

Siang itu udara terasa lengket. Kipas angin tua di langit-langit berputar malas, berderit kecil setiap beberapa detik, seolah ikut lelah bersama murid-murid di dalamnya. Buku-buku baru tergeletak di atas meja sebagian anak; sampulnya masih kaku, beberapa bahkan masih terbungkus plastik bening.

“Semua sudah bawa buku baru dan pena?” tanya guru dari depan kelas.

“Semua sudah bawa buku baru?” tanya guru.

Hampir semua tangan terangkat.

Zio menunduk.

“Zio?”

“Belum, Pak.”

“Besok harus sudah ada.”

“Iya, Pak.”

Tidak ada bentakan. Tidak ada hukuman. Tetapi rasa malu sering kali lebih keras daripada suara tinggi. Sepanjang pelajaran, Zio hanya mendengarkan. Tangannya kosong di atas meja. Ia mencoba menulis di sisa halaman terakhir bukunya dengan huruf yang diperkecil, seolah sedang menghemat ruang hidupnya sendiri. Di ruangan kelas itu, ia merasa sendirian dalam panas yang tidak terlihat.

Sore harinya, televisi tetangga menyala keras.

“Pemerintah memastikan pendidikan gratis bagi seluruh rakyat Indonesia…”

Kalimat itu meluncur ringan dari layar. Gratis.

Zio tidak benar-benar mengerti definisi kebijakan. Ia hanya tahu bahwa besok ia tetap membutuhkan buku dan pena. Maria Lidia duduk di sampingnya.

“Mama cari pinjaman dulu ya,” katanya pelan.

Zio tersenyum tipis. “Tidak apa-apa, Ma. Zio dengar saja juga bisa.”

Kalimat itu seperti pisau kecil yang menembus pelan. Anak sepuluh tahun tidak seharusnya belajar menerima kekurangan sebagai takdir.

Malam turun dengan sunyi yang lebih berat dari biasanya. Maria Lidia menghitung uang yang tersisa. Tidak cukup. Ia menatap wajah anak-anaknya yang tertidur, lalu menatap langit-langit rumah yang retak.

Di gedung-gedung jauh di pusat kota, orang-orang berbicara tentang anggaran pendidikan triliunan rupiah. Mereka membahas masa depan generasi bangsa dengan bahasa besar dan grafik warna-warni. Namun di rumah kecil itu, masa depan tersangkut pada sepuluh ribu rupiah.

Negara terasa seperti bangunan megah yang berdiri jauh—terlihat kokoh dari luar, tetapi tak pernah benar-benar membuka pintunya bagi mereka yang mengetuk pelan.

Pagi ketika surat itu ditemukan, semuanya terlambat. Zio telah memilih pergi. Bukan karena ia tidak mencintai ibunya. Bukan karena ia tidak ingin belajar. Justru karena ia merasa menjadi beban yang terlalu mahal untuk dipikul oleh ibunya seorang diri.

Sepuluh ribu rupiah telah menjelma menjadi jurang dalam.

Tangis Maria Lidia menggema, memecah pagi. Ia memeluk tubuh kecil itu seperti ingin mengembalikan napas dengan kekuatan doa. Tetapi waktu tidak pernah berjalan mundur. Berita menyebar cepat.

“Seorang anak diduga mengakhiri hidup karena tak mampu membeli buku dan pena.”

Kata “diduga” terdengar seperti jarak aman. Seolah tragedi bisa dilunakkan dengan pilihan diksi. Pejabat menyampaikan belasungkawa.

“Kami prihatin.”

“Kami akan evaluasi.”

“Kami berkomitmen.”

Komitmen selalu terdengar indah setelah kematian. Namun bangku Zio di kelas tetap kosong. Yang kosong bukan hanya kursinya. Yang kosong adalah ruang perlindungan yang seharusnya ada sebelum semuanya terjadi.

Negara dan seisinya telah menjadi saksi. Saksi bahwa kemiskinan masih berjalan berdampingan dengan janji-janji kesejahteraan. Saksi bahwa hak pendidikan bisa tersandung oleh biaya yang disebut kecil. Saksi bahwa sistem yang megah di atas kertas bisa runtuh di hadapan kebutuhan paling sederhana.

Kematian Zio bukan sekadar luka keluarga. Ia adalah cermin yang retaknya memantulkan wajah banyak pihak.

Dosa bukan hanya milik keadaan.
Dosa adalah ketika struktur dibiarkan timpang.
Dosa adalah ketika angka lebih penting daripada manusia.
Dosa adalah ketika anak sepuluh tahun merasa hidupnya terlalu mahal untuk dipertahankan.

Beberapa hari kemudian, kelas kembali berjalan seperti biasa. Kipas kelas tetap menyala. Buku-buku baru dibuka. Pena-pena bergerak lancar di atas kertas putih. Hanya satu yang tak kembali: suara pelan yang dulu menjawab ketika namanya dipanggil.

“Zio?”

Tidak ada jawaban.

Maria Lidia menyimpan surat itu di bawah bantalnya. Ia membacanya setiap malam, berharap menemukan tanda bahwa semua ini hanya mimpi buruk. Tetapi tinta itu nyata. Tangis itu nyata. Kehilangan itu nyata. Dan sepuluh ribu rupiah tidak pernah seharusnya menjadi harga sebuah nyawa.

Jika negara benar hadir, ia seharusnya datang sebelum surat itu ditulis. Ia seharusnya berdiri di samping Maria Lidia ketika ia kebingungan. Ia seharusnya memastikan bahwa tak ada anak yang merasa keberadaannya adalah beban.

Karena pendidikan bukan sekadar program.  Ia adalah jembatan. Dan ketika satu anak jatuh dari jembatan itu karena tak mampu membayar buku dan pena, maka yang runtuh bukan hanya harapan seorang ibu. Yang runtuh adalah klaim bahwa negeri ini melindungi masa depannya sendiri. Dan kematian Zio adalah dosa besar bagi negara, bahkan bagi semua yang ada di dalamnya, karena membiarkan seorang anak berusia sepuluh tahun memilih pergi hanya karena buku dan pena terasa lebih mahal daripada hidupnya sendiri.

Sepuluh ribu rupiah tidak pernah seharusnya menjadi harga sebuah nyawa.

Namun di negeri yang terlalu sering sibuk menghitung anggaran dan lupa menghitung air mata, kadang yang paling murah justru adalah kehidupan mereka yang paling kecil.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top