
Ahmad Tohari, sastrawan besar kelahiran Tinggarjaya, Banyumas, telah menjahit kisah-kisah pedalaman Jawa dalam Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk seperti seorang dalang tua yang menyulam lakon pewayangan dengan darah dan tanah. Ia tidak hanya menulis novel, tetapi menulis kebudayaan. Ronggeng bukan sekadar penari. Ia adalah penjelmaan dari tubuh bumi yang bergerak dengan irama semesta. Ia adalah tubuh perempuan yang disakralkan sekaligus disangsikan. Di tangan Tohari, Ronggeng menjadi lorong spiritual dan sosial yang menyingkap nafas purba masyarakat Banyumas.
Budaya Banyumas, sebagaimana digambarkan dalam novel ini, bukan budaya yang keras kepala melawan zaman. Ia lentur, kadang lugu, kadang tajam. Penuh satire, namun tetap setia pada kesederhanaan laku. Latar Dukuh Paruk yang seolah kecil dan tertinggal, justru menampilkan kedalaman: bagaimana masyarakat membangun dunia melalui mitos, keyakinan, dan tubuh manusia sebagai persembahan pada yang gaib. Ronggeng, dalam hal ini Srintil, bukan hanya pemikat mata, tapi pemanggil kepercayaan kolektif yang telah diwariskan turun-temurun.
Namun membaca Ahmad Tohari tidak lengkap tanpa meraba akar kultural yang lebih tua, yang hingga kini masih bernapas dalam tubuh masyarakat Banyumas, yakni adat Banokeling. Komunitas ini, yang berpusat di Desa Pekuncen, Jatilawang, menyimpan nilai-nilai luhur yang sejalan dengan roh dari Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk—yaitu tentang bagaimana manusia menjaga keseimbangan dengan semesta dan leluhur.
Saya, yang juga berasal dari tanah ini, menyaksikan sendiri bagaimana laku-laku dalam Banokeling bukan sekadar tradisi, tetapi cara hidup. Saat malam-malam bulan Sura tiba, Kidung dilantunkan dalam gelap, tubuh-tubuh dijaga dari makanan yang berlebih, dan napas kehidupan dihantarkan ke langit sebagai bentuk syukur dan penghormatan pada yang tak kasat mata. Bukankah ini pula yang ingin dikisahkan Tohari? Bahwa hidup di tanah Banyumas bukan soal mengejar modernitas, tapi menjaga harmoni.
Dalam komunitas Banokeling, ritual tidak mengasingkan manusia dari dunia, tapi justru menyatukannya. Ada puasa, ada larangan, ada sabar yang dibangun dalam diam. Seperti Dukuh Paruk yang punya semacam “kiyai gaib” lewat pohon Kalpataru dan sesaji, Banokeling punya makam Buyut yang menjadi pusat spiritual. Di sinilah manusia diajak untuk mengendapkan diri, bukan hanya memohon rejeki, tapi memelihara rasa yang peka terhadap alam dan sesama.
Tohari seolah ingin mengatakan bahwa modernitas bisa datang, tapi tidak boleh menggerus akar. Melalui tokoh Rasus yang keluar dari Dukuh Paruk, kita tahu bahwa perubahan adalah keniscayaan. Tapi lewat Srintil, kita juga tahu bahwa ada hal-hal yang harus dijaga: memori, kepercayaan, dan kehormatan budaya.
Sastrawan seperti Tohari telah menjembatani dua dunia: yang lama dan yang baru, yang gaib dan yang kasat mata. Sementara masyarakat Banokeling menjalani warisan itu dengan tubuh mereka sendiri. Maka novel ini tak hanya layak dibaca sebagai karya sastra, tapi sebagai dokumen kultural yang hidup. Dan Banokeling bukan hanya sekadar komunitas adat, tapi cermin dari laku spiritual Banyumas yang masih berdenyut hingga hari ini.
Membaca Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk sambil menjalani laku Banokeling, saya merasa sedang memeluk Banyumas dari dalam: dengan seluruh kerendahan hati, keberanian menjaga, dan tekad untuk tidak tergilas zaman meski hanya berbekal kidung dan doa.
Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk bukan sekadar cerita, melainkan cermin. Dan Banokeling adalah wajah lain dari cermin itu. Bila ingin memahami Banyumas secara utuh, bacalah Tohari dan duduklah di tengah malam bersama para pelaku adat Banokeling—di antara dupa, kesunyian, dan doa yang menyatu dengan tanah. Di sanalah Jawa tidak menjadi slogan, tapi jiwa.

Aris Munandar, Ketua Dewan Pengawas Yayasan Dharma Putra Banokeling Banyumas




