
Katanya, keluargaku cemara. Begitulah kata orang-orang yang memandang. Rumah bercat putih dengan pagar besi yang selalu mengkilap, taman mungil penuh dengan bunga, dan dua buah mobil tertata dengan rapi.
“Enak banget ya kamu, Nar,” kata Rina, sahabatku, saat dia main kerumahku. “Keluargamu kayak di sinetron, rumah bagus, papa mama harmonis. Kamu beruntung banget”
Kutanggapi dengan senyum kecut. Andai dia tahu apa yang akan terjadi setelah dia pulang…. Sungguh miris untuk dinikmati. Hidupku bak lelucon, semuanya penuh kepalsuan. Teriakan dan bantingan pintu jadi lagu pengantar malamku.
Begitu langit gelap, perang pun dimulai. Meja makan yang seharusnya penuh dengan kehangatan, canda dan tawa, nyatanya tidak di rumah ini. Apa pantas kusebut rumah? Rumah penuh dengan perang di ujung malam selalu menjadi.
Mama yang sendari tadi menggerutu sebab papa tak kunjung menampakan batang hidungnya. Kata mama, papa selalu membuat hidup mama tidak tenang. Aku ingin bertanya apa alasannya, tapi nyaliku ciut ketika mama sudah marah.
Krieetttt….. Gerbang terbuka diiringi deru mesin mobil. Mama pun tengah bersiap menghadang suaminya di depan pintu untuk dihujami dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama setiap harinya.
Ketika pintu berderit. Aku lari bersembunyi ke kamar. Kupeluk boneka kesayanganku dan berusaha menutup telinga serapat-rapatnya. Tapi usahaku percuma, suara mereka menembus semua lapisan dinding.
“Jam segini baru pulang?!” Suara mama meninggi.
“Kerjaan lagi numpuk, jangan ribut, aku cape ingin istirahat”! suara papa tak kalah keras.
“Alasannya selalau kerjaan! Kamu kira aku di rumah cuma santai-santai, aku juga cape?”
“Ya sudah kalau cape, jangan ngomel terus!”
Brakk!
Entah apa yang jatuh. Mungkin gelas? Atau pintu yang dibanting. Air mataku mengalir tanpa aba-aba. Dada terasa sesak seperti tertimpa batu. Malam itu aku tak bisa tidur. Mataku panas, kepalaku pusing. Dan lama-lama mataku terpejam.
Besoknya aku pergi sekolah tanpa sarapan, sebab aku sudah muak melihat mereka terus bertengkar. Ku berangkat dengan mata sembab, hingga memantik Rina bertanya kenapa, tapi kujawab “kebanyakan begadang saja”.
Hari-hari berlalu dengan pola yang sama. Papa dan mama selalu bertengkar. Kadang karena uang, kadang karena pekerjaan, kadang hanya karena sandal salah taruh. Dan setiap kali perang dimulai, aku selalu lari ke kamar. Kadang aku bertanya-tanya, apakah mereka sadar aku ada di rumah ini? Atau aku cuma hiasan, seperti pot bunga di teras?
***
Suatu malam, pertengkaran mereka jadi yang paling parah. Aku baru selesai menyelesaikan PR, seketika suara mereka terdengar lebih keras dari biasanya.
“Kamu tuh nggak pernah ngerti aku!” teriak mama.
“Kamu juga nggak pernah ngerti aku!” balas papa.
Tiba-tiba aku berdiri. Rasanya jantungku mau meledak. Aku tidak peduli lagi. Aku keluar kamar, menuruni tangga, dan berteriak sekeras-kerasnya.
“BERHENTI!”
“Tolong berhenti”
Papa dan mama kaget. Mereka berhenti berteriak, menoleh ke arahku. Aku berdiri di ruang tengah dengan wajah penuh air mata.
“Katanya kita keluarga cemara,” suaraku bergetar. “Katanya kita bahagia. Tapi setiap malam kayak gini! Aku capek harus pura-pura bahagia di depan orang-orang! Aku takut kalian pisah!”
Mama menatapku lama. Matanya mulai berkaca-kaca. Papa memejamkan mata, lalu menghela napas panjang.
Rumah tiba-tiba sunyi. Tidak ada yang bicara lagi malam itu.
Aku berlari kembali ke kamar, menutup pintu pelan, lalu menangis sejadi-jadinya. Rasanya semua yang kutahan selama ini tumpah begitu saja. Boneka kesayanganku basah oleh air mata. Untuk pertama kalinya aku berani bicara, dan jujur saja, aku takut. Takut mereka marah karena aku ikut campur. Takut besok pagi papa sudah tidak ada di rumah.
***
Keesokan paginya, suasana terasa aneh. Rumah sangat sepi. Papa duduk di meja makan, memandangi cangkir kopinya. Mama sibuk di dapur, tapi tidak ada suara panci dibanting atau gerutuan yang biasanya terdengar. Aku hanya duduk diam, menatap roti tawar yang bahkan tak kusentuh.
“Dimakan, Nar,” kata Mama pelan. Suaranya berbeda. Tidak ada nada marah, tidak ada nada jengkel.
Aku hanya mengangguk dan memaksa menggigit roti itu. Papa sesekali melirikku, lalu kembali menunduk. Rasanya canggung, tapi entah kenapa dada tidak sesesak biasanya.
Hari-hari berikutnya, suasana rumah terasa lebih… sunyi. Bukan sunyi yang mencekam, tapi lebih seperti mereka sedang mencoba menahan diri. Tidak ada lagi teriakan keras, tidak ada pintu yang dibanting. Papa pulang lebih cepat beberapa hari terakhir. Kadang aku melihat mama menyiapkan teh hangat untuk papa tanpa mengomel panjang.
Sampai suatu sore, mereka memanggilku ke ruang tamu. Aku duduk di sofa, jantungku berdetak kencang. “Nara,” kata papa akhirnya. “Maafkan papa.” Aku terkejut. Kata-kata itu jarang sekali keluar dari mulut papa.
Mama duduk di sebelahku, menggenggam tanganku. “Kami nggak sadar selama ini kamu ikut terluka. Kami terlalu sibuk dengan masalah sendiri sampai lupa kamu juga ada di rumah ini.”
Air mataku langsung mengalir. “Aku cuma mau kita seperti keluarga lain,” kataku pelan. “Aku cuma mau rumah ini tenang. Aku nggak minta apa-apa selain itu.”
Mama memelukku. “Mulai sekarang, Mama janji akan coba lebih sabar.”
Papa mengangguk. “Papa juga akan berusaha. Papa nggak janji semuanya langsung baik, tapi Papa janji nggak akan bikin kamu takut lagi.”
Aku menangis lebih keras, tapi kali ini bukan karena sedih. Rasanya seperti ada beban besar yang terangkat dari dadaku. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, aku merasa rumah ini benar-benar rumah.
Malam itu, meja makan yang biasanya penuh ketegangan terasa berbeda. Kami makan bersama tanpa teriakan, tanpa bantingan sendok. Papa menanyakan sekolahku, Mama bercerita tentang tanaman di taman. Aku tersenyum kecil, dan papa menangkap senyum itu.
“Lihat, akhirnya anak papa senyum lagi,” katanya. Mama ikut tersenyum, dan untuk pertama kalinya aku melihat mereka tertawa kecil bersama.
Aku tahu, ini belum akhir. Aku tahu mungkin nanti mereka akan bertengkar lagi. Tapi malam itu aku percaya, kami semua sudah mulai belajar. Aku keluar sebentar ke halaman depan. Duduk di ayunan, menatap langit yang cerah. Angin malam menyentuh wajahku pelan.
“Katanya, keluargaku cemara…” aku berbisik. “Mungkin belum, tapi suatu hari nanti bisa.”
Dan entah kenapa, aku yakin malam itu adalah malam pertama kapal kami mulai diperbaiki. Kapal yang hampir terbelah itu perlahan ditambal, perlahan dikuatkan lagi. Mungkin butuh waktu lama, mungkin badai masih akan datang. Tapi kali ini aku percaya, kami akan mendayung bersama-sama. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, aku ingin cepat pulang ke rumah.
Lilis Setia Wardani, lahir di Banjarnegara tahun 2005. Perempuan asal Banjarnegara ini sekarang sedang menempuh pendidikan di PBSI UMP. Selain menulis, kegemarannya adalah fotografi (terutama potret alam). Bisa disapa melalui Ig: @is_aniyyt




