
Di hadapan mereka, palang pintu kaca otomatis berkedip merah menolak akses, tetapi tubuh mereka berdua tadi meluncur menembusnya begitu saja bagai bayangan pohon ditiup angin lisus.
Keringat mengucur dari dahi melewati pelipisnya. Air asin itu sesekali masuk ke sudut matanya. Kartam berkedip cepat untuk mengusir rasa perih tersebut.
“Kamu pucat sekali hari ini. Sakit?” tanya Tarjo.
Tarjo menyodorkan botol air mineral yang setengahnya kosong kepada Kartam. Kartam menggeleng kuat, dia menolak botol plastik itu dengan punggung tangannya.
“Aku sedang puasa.”
Tarjo tertawa keras sampai beberapa calon penumpang menoleh ke arah mereka. Tatapan orang-orang itu tampak tembus pandang, seolah Kartam dan Tarjo hanyalah sekelebat fatamorgana di ujung mata.
“Puasa? Kiamat sudah dekat rupanya. Preman stasiun tiba-tiba ingat Tuhan di siang bolong,” ejek Tarjo.
Kartam tidak membalas. Dia hanya menatap kereta yang baru tiba di jalur dua. Bentuknya tak lagi seperti kereta ekonomi yang mereka kenal. Kereta ini ramping seperti peluru perak, melambat nyaris tanpa suara di atas rel magnetik. Lautan manusia segera memenuhi ruang tunggu stasiun yang terang-benderang.
“Fokus, Tam. Lihat bapak yang pakai kemeja kotak-kotak di dekat tangga otomatis itu.”
Kartam mengikuti arah pandang Tarjo. Seorang lelaki paruh baya tengah sibuk menelepon dengan suara keras lewat kepingan kaca tipis bercahaya di telinganya. Resleting tas selempang lelaki itu sedikit terbuka.
“Biar aku saja yang turun tangan,” kata Tarjo.
Tarjo menyelinap di antara kerumunan manusia yang terburu-buru. Kartam mengawasi dari jauh. Gerakan Tarjo seperti belut, begitu halus. Tarjo sengaja menjatuhkan korek apinya di dekat pria itu, menunduk, lalu bangkit dalam sebuah gerakan yang mulus. Tubuh Tarjo nyaris menembus koper pintar yang berjalan otomatis mengikuti pemiliknya. Dalam hitungan detik, Tarjo sudah kembali ke sisi Kartam.
“Dapat apa kamu?”
Tarjo menarik sebuah dompet kulit berwarna cokelat muda yang terlihat tebal dan menjanjikan. Tarjo membuka lipatan benda itu dengan cepat. Wajahnya langsung berubah masam seketika.
“Sialan benar nasib kita,” umpat Tarjo pelan.
Kartam melongok ke dalam dompet tersebut. Deretan kartu plastik berjejal padat di celah-celahnya. Kartu ini, kartu itu, segala macam kartu yang asing. Tidak ada selembar uang kertas pun. Tidak ada.
“Orang-orang dari masa depan ini sungguh aneh. Ke mana-mana mereka tidak pernah bawa uang tunai,” gerutu Tarjo membolak-balik dompet itu mencari sela rahasia. Hasilnya sungguh nihil.
“Semua orang sudah pakai papan kaca itu sekarang untuk membayar. Mereka tinggal mendekatkan telepon mereka ke gambar kotak-kotak hitam putih di kasir.”
“QRIS namanya, Tam. Aku dengar mereka menyebutnya begitu. Mati kutu kita kalau begini terus. Tiga hari berturut-turut sejak kita terbangun di stasiun yang tiba-tiba berubah wujud ini, kita bongkar dompet copetan, tapi isinya hanya kepingan plastik keras begini. Teknologi itu benar-benar membunuh mata pencaharian orang dari zaman kita.”
Kartam mengusap bibirnya yang pecah-pecah. Matahari makin condong ke arah barat.
“Kamu benar-benar tidak mau minum sedikit saja? Matahari sedang memanggang kita hidup-hidup. Kamu bisa pingsan kalau berdiri terus.”
“Tidak, Jo. Aku harus tamat puasanya sampai magrib nanti.”
“Kenapa tiba-tiba kamu berkelakuan begini? Angin apa yang merasukimu? Kita ini sudah mati, Tam! Atau terjebak di dunia aneh ini, entahlah! Tidak ada gunanya kamu berpuasa!”
“Dahulu, almarhumah ibuku selalu memasak kolak pisang setiap kali aku berhasil puasa penuh. Ibuku mengupas pisang tanduk lambat-lambat di dapur sempit kami. Ibuku merebus santan dan gula aren sampai wanginya memenuhi rumah bilik kami yang bocor. Ibuku mengenakan daster pudar bermotif bunga, tersenyum sambil mengaduk panci. Ibuku selalu bilang kalau puasa itu membersihkan segala macam kotoran di badan dan jiwa kita.”
“Kamu mau membersihkan kotoran? Dengar, Tam. Pekerjaan kita ini sudah kotor. Kita mencopet barang milik orang lain saban hari. Tangan kita penuh dosa. Kamu mau puasa seratus hari berturut-turut pun hidupmu tidak akan pernah bersih seperti baju kiai. Mungkin itu sebabnya kita dihukum terjebak di peron masa depan ini sebagai hantu penasaran!”
“Aku tahu hal itu.”
“Lalu untuk apa kamu menyiksa diri menahan lapar begini?”
“Aku hanya ingin ingat bagaimana rasanya. Menunggu suara azan magrib datang bersama ibuku di serambi rumah. Menahan haus, menatap langit sore, menanti suara beduk. Sudah puluhan tahun aku tidak merasakan perasaan tenang itu. Biarkan aku berpuasa sehari ini saja.”
“Terserah kamu saja!”
Mereka berdua kembali berdiri mengamati lautan penumpang. Kartam menyeka keringatnya yang tak kunjung tamat. Perut kosongnya berbunyi nyaring menuntut diisi. Tarjo pura-pura tidak mendengar bunyi tersebut. Langit perlahan mulai berubah warna. Suara pengumuman terdengar bergantian dengan bunyi kedatangan kereta. Waktu berbuka puasa makin dekat.
“Itu target kita selanjutnya,” tunjuk Tarjo dengan gerakan dagunya.
Seorang pemuda berjalan tergesa-gesa sambil menelepon. Ransel hitam di punggungnya sama sekali tidak tertutup rapat. Sebuah dompet kain berwarna biru kusam menyembul keluar.
“Ini giliranmu untuk maju, Tam. Tunjukkan kepadaku kalau kamu masih bisa kerja bagus meski perutmu kosong melompong.”
Kartam berdiri dari jongkoknya perlahan. Kepalanya terasa sedikit limbung. Dia menguatkan pijakan kakinya, lalu berjalan mendekati pemuda tersebut dari arah samping kiri. Kartam menabrakkan bahu kirinya dengan sengaja. Tabrakan itu cukup keras untuk mengalihkan perhatian si pemuda selama beberapa detik. Tangan kanannya bekerja secepat kilat menarik benda biru itu dari dalam tas ransel.
“Maaf, Mas. Saya tidak sengaja.”
“Makanya kalau jalan lihat depan, Pak!”
Kartam kembali ke tempat Tarjo bersandar dengan napas memburu hebat. Tangannya menggenggam erat dompet kain berwarna biru kusam tersebut. Keringat dingin membasahi telapak tangannya.
“Cepat buka isinya sekarang.”
Kartam membuka resleting dompet itu dengan gerakan patah-patah. Matanya membesar. Ada lima lembar uang kertas berwarna merah terlipat rapi di sana.
“Akhirnya kita panen juga sore hari ini!” Tarjo menepuk punggung Kartam dengan keras dan tertawa bangga. “Kita bisa makan enak malam ini, Tam. Kamu mau makan sate kambing di depan stasiun?”
Kartam tidak menjawab, matanya menatap lembaran uang di tangannya tanpa berkedip sama sekali.
“Sebentar lagi masuk waktu magrib. Tinggal lima belas menit lagi azan berbunyi. Kamu pergi beli makanan sana ke warung depan untuk kita berdua.”
Kartam sama sekali tidak bergerak dari posisinya berdiri, matanya terus memandangi lembaran uang kertas itu lekat-lekat.
“Kenapa kamu diam saja seperti patung?”
“Uang ini, Jo… Apakah puasaku hari ini akan sah kalau aku buka puasa pakai uang hasil curian ini?”
“Kamu sudah kehilangan akal sehat ya? Puasa preman kotor seperti kita ini mana ada sahnya sejak awal kamu berniat tadi pagi.”
“Ibuku selalu berpesan keras padaku waktu aku kecil. Beliau bilang makanan yang masuk ke dalam perut saat berbuka puasa itu harus benar-benar bersih, harus didapat dari jalan yang halal.”
“Itu kata ibumu puluhan tahun lalu waktu kamu masih jadi anak baik-baik di kampung halaman. Sekarang kita berada di stasiun ibu kota di entah tahun berapanya ini, Tam. Kenyataannya, kita sangat butuh uang lembaran merah ini untuk membeli makan malam supaya kita tidak mati kelaparan!”
“Kita kembalikan dompet ini sekarang juga.”
“Kamu benar-benar sudah gila permanen!”
“Aku tidak mau merusak puasaku pada hari ini, Jo. Hanya untuk hari ini saja aku ingin mulutku menelan sesuatu yang suci.”
Kartam menatap mata Tarjo dalam-dalam. Tarjo membuang muka. Suara azan magrib sayup-sayup mulai terdengar mengalun dari pengeras suara masjid. Kartam berbalik arah meninggalkan Tarjo yang masih mengumpat. Dia berjalan gontai menuju pos keamanan stasiun di dekat pintu keluar utara. Kartam meletakkan dompet biru itu di atas meja kayu kosong tepat di depan pos jaga, lalu berjalan menjauh dengan langkah secepat mungkin sebelum petugas berseragam menyadari kehadirannya. Dari kejauhan tiang beton, Tarjo menggelengkan kepalanya, pasrah melihat kelakuan aneh temannya itu.
Kartam berjalan keluar dari area stasiun, menembus gerbang detektor logam tanpa membunyikan alarm apa pun, menuju pinggiran jalan raya yang padat merayap. Kakinya terus melangkah tanpa ragu sedikitpun menuju gerbang pagar masjid bercat putih. Bangunan itu adalah satu-satunya hal yang tidak berubah dari zaman Kartam. Di pelataran keramik masjid yang terasa sangat sejuk di telapak kaki, beberapa bapak-bapak sedang membagikan gelas plastik berisi teh manis hangat serta kotak kecil berisi tiga butir kurma kepada para musafir jalanan yang lewat.
“Silakan diambil, Pak. Ini ada takjil gratis untuk berbuka puasa bersama.”
“Terima kasih banyak, Pak.”
Kartam duduk di atas anak tangga masjid paling bawah. Dia membuka tutup plastik bening pada gelas itu dengan gerakan perlahan. Aroma teh melati yang sangat manis menguar tebal memanjakan indera penciumannya seketika. Diucapkannya doa berbuka puasa tanpa suara dalam gerakan bibir, lalu meneguk air itu perlahan-lahan. Air hangat yang manis itu mengalir membasahi kerongkongannya yang kering. Senyumnya yang lebar menampilkan deretan giginya yang kusam. Matanya menatap lurus ke arah langit senja ibu kota yang mulai menggelap damai. Angin sore berhembus pelan menyapu debu di pipinya yang kelam.
Bersamaan dengan tetes teh terakhir yang membasahi lidahnya, rasa lapar, haus, dan segala beban lenyap seketika. Tubuh Kartam makin pudar, berubah menjadi serpihan cahaya jingga yang menyatu dengan senja. Dia akhirnya pulang, meninggalkan stasiun masa depan, menuju dapur sempit beraroma kolak pisang, tempat ibunya telah lama menunggu.
Setyo W. Nugroho, lahir di Klaten tahun 1991. Pekerjaan sehari-harinya adalah menelaah kebijakan-kebijakan publik terkini dan merekomendasikan penguatan pengawasan yang diperlukan. Dapat disapa melalui Instagram @perahumabuk.




