
Pendidikan sering kali dianggap sebagai jalan utama menuju keberhasilan. Di banyak keluarga di Indonesia, kuliah masih dipandang sebagai jaminan masa depan. Orang tua menaruh harapan yang sangat besar kepada anak-anaknya yang berhasil menembus perguruan tinggi. Namun di balik kebanggaan itu, ada kenyataan lain yang tidak jarang terasa berat bagi mahasiswa. Harapan yang besar sering kali berubah menjadi tekanan.
Saya tahu rasanya hidup dalam tekanan seperti itu. Sebagai mahasiswa dari keluarga sederhana, saya sering merasa terjebak di antara dua dunia. Di kampus, saya berusaha mengikuti alur akademik yang menuntut kedisiplinan dan refleksi. Sementara di rumah, saya menghadapi ekspektasi yang jauh lebih emosional. Saya dituntut untuk menjadi bukti bahwa pendidikan tinggi benar-benar bisa mengubah nasib keluarga.
Keluarga saya, seperti dari banyak keluarga lain di Indonesia, memandang pendidikan sebagai simbol keberhasilan ekonomi. Mereka percaya bahwa kuliah akan membuka jalan menuju pekerjaan tetap dan penghasilan yang stabil. Karena itu, saya sering mendapatkan pertanyaan yang sama setiap kali pulang ke kampung. “Sudah kerja?” “Kapan bisa bantu keluarga?” Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi kadang menusuk karena saya tahu mereka menaruh harapan yang begitu besar.
Bagi sebagian orang tua, keberhasilan anak tidak lagi diukur dari nilai akademik atau proses belajar yang dijalani. Ukuran keberhasilan di mata mereka adalah seberapa cepat anak menghasilkan uang. Ini adalah bentuk kolotisme yang tidak selalu disadari. Kolotisme bukan sekadar sikap penolakan terhadap perubahan, melainkan pola pikir yang masih memandang pendidikan hanya dari sisi ekonomi.
Arifudin dan Nasrulloh (2023) menulis bahwa pendidikan yang ideal seharusnya menyeimbangkan nilai tradisional dan modern. Pendidikan bukan hanya alat untuk mencari pekerjaan, tetapi juga proses pembentukan moral, karakter, dan kemampuan berpikir kritis. Namun dalam kenyataan sosial, pemahaman ini sering hilang. Banyak keluarga masih berpikir linear. Kuliah harus menghasilkan kerja, kerja harus menghasilkan uang, dan uang harus menjadi bukti kesuksesan.
Tekanan seperti ini berdampak besar bagi pelajar. Mereka tidak hanya berjuang dalam urusan akademik, tetapi juga harus menghadapi tuntutan emosional keluarga. Adiningsih dan Zahro (2023) menjelaskan bahwa ekspektasi sosial dan peran keluarga dapat menjadi sumber stres yang mengganggu hubungan emosional antara anak dan orang tua. Dalam banyak kasus, tekanan semacam ini membuat siswa merasa puas karena belum mampu memenuhi harapan, padahal mereka sedang berproses.
Saya pun pernah merasa puas ketika belum bisa memberi apa-apa untuk keluarga. Padahal saya sedang berjuang keras agar kuliah ini cepat selesai. Kadang saya berpikir, mengapa pendidikan yang seharusnya merdeka justru terasa seperti beban? Mungkin karena dalam keluarga seperti saya, pendidikan tidak pernah dipandang sebagai perjalanan mencari makna melainkan proyek sosial yang harus cepat selesai dan dihasilkan.
Tekanan sosial seperti ini sering kali membuat siswa kehilangan fokus pada esensi belajar. Banyak teman saya yang terpaksa bekerja sambil kuliah demi menenangkan orang tua atau sekadar membuktikan bahwa mereka tidak “bermalas-malasan.” Beberapa bahkan memilih jurusan bukan karena minat, tetapi karena dianggap menjanjikan pekerjaan cepat. Akhirnya, pendidikan kehilangan maknanya sebagai ruang pencarian diri.
Fenomena ini juga menunjukkan adanya kesenjangan pemahaman antara generasi tua dan muda. Generasi orang tua dibentuk oleh pengalaman ekonomi yang keras. Bagi mereka, pendidikan adalah kemewahan dan harapan satu-satunya untuk keluar dari kemiskinan. Maka wajar jika mereka menuntut hasil yang cepat. Namun generasi sekarang hidup dalam konteks yang berbeda. Dunia kerja semakin kompetitif dan kuliah tidak lagi menjamin kemampuan otomatis.
Perbedaan pandangan inilah yang sering menimbulkan konflik kecil di rumah tangga. Mahasiswa dianggap kurang serius hanya karena belum terlihat “menghasilkan.” Padahal mereka sedang berjuang dalam sistem pendidikan yang semakin berat, biaya hidup yang tinggi, dan tekanan sosial yang datang dari segala arah. Kadang-kadang bukan rasa malas yang membuat mahasiswa berhenti bersemangat, tetapi rasa lelah karena harus memenuhi ekspektasi yang tidak pernah selesai.
Pendidikan, sebagaimana ditegaskan dalam gagasan merdeka belajar (Suciartini: 2020), seharusnya menjadi ruang refleksi dan eksplorasi. Mahasiswa bukan robot ekonomi, melainkan manusia yang sedang tumbuh, belajar memahami dunia, dan mencari jati diri. Prosesnya tidak bisa diburu waktu atau diukur dengan gaji pertama.
Namun di sisi lain, siswa juga perlu memahami bahwa harapan keluarga lahir dari rasa cinta dan ketakutan. Mereka tidak ingin melihat anaknya gagal. Hanya saja, bentuk cinta itu sering berubah menjadi tekanan karena disampaikan dalam bahasa tuntutan. Menguasai peran komunikasi menjadi penting. Siswa perlu belajar berbicara jujur tentang proses, sementara keluarga perlu belajar mendengarkan tanpa menuntut terlalu cepat.
Kolotisme dalam keluarga bukan masalah individu, tetapi bagian dari pola sosial yang lebih besar. Ia lahir dari budaya kolektivitas yang kuat, dari nilai bahwa anak harus menjadi penopang keluarga. Di satu sisi, ini mencerminkan solidaritas yang indah. Namun di sisi lain, solidaritas itu bisa berubah menjadi beban ketika ditaruh di pundak seseorang yang belum siap.
Saya percaya, perubahan cara berpikir ini tidak akan terjadi dalam semalam. Tapi kita bisa memulainya dengan cara sederhana. Mulailah berhenti mengukur pendidikan dari seberapa cepat menghasilkan uang dan mulai melihatnya dari seberapa dalam pendidikan mampu mengubah cara berpikir manusia.
Pendidikan juga seharusnya tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi dari keberanian siswa untuk mencari jati dirinya sendiri. Di tengah tekanan sosial dan tuntutan keluarga, keberanian untuk tetap berpijak pada nilai kemanusiaan adalah bentuk keberhasilan yang sesungguhnya.Pendidikan seharusnya bukan hanya untuk bertahan hidup, tapi juga untuk memahami kehidupan. Dan pelajar bukan simbol kesuksesan keluarga, tapi manusia yang sedang berjuang tumbuh di dunia tengah yang terus berubah.
Akhmad Sofwan Jauhari berasal dari Desa Rancamaya, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Ia merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi semester 3 di Universitas Amikom Purwokerto yang tengah mendalami bidang kepenulisan, jurnalisme, dan perfilman. Saat ini, ia juga aktif sebagai staf Public Relations di Logawa.id. Akun Instagram: @sfjau




