
Di tengah arus informasi dan berbagai tantangan zaman, nama Tan Malaka kembali banyak dibicarakan, terutama oleh generasi muda. Mengapa pemikiran seorang revolusioner yang gugur pada 1949 masih relevan bagi kita hari ini? Kisahnya bukan sekadar lembaran sejarah, melainkan cermin untuk melihat ke dalam diri dan bangsa, serta peta pemikiran untuk menuju perubahan yang lebih cemerlang.
Melampaui Diktum Sejarah: Siapa Tan Malaka?
Ibrahim Datuk Sutan Malaka, atau yang kita kenal sebagai Tan Malaka, adalah seorang guru, filsuf, dan pejuang kemerdekaan yang perjalanan hidupnya penuh petualangan intelektual dan pengorbanan. Lahir di Sumatera Barat pada 1897, ia menempuh pendidikan guru di Belanda, di sanalah minatnya pada revolusi dan teori sosialisme mulai tumbuh.
Sepulang ke Indonesia, ia memilih mengajar anak-anak kuli perkebunan dan mendirikan sekolah-sekolah rakyat. Ia aktif dalam pergerakan, pernah memimpin Partai Komunis Indonesia (PKI), namun juga sering berselisih paham karena dianggap terlalu radikal. Visinya tentang Indonesia merdeka 100% tanpa kompromi tertuang dalam buku Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia), yang membuatnya dijuluki “Bapak Republik Indonesia”. Pada 1949, ia dieksekusi oleh pasukan Republik sendiri, dan namanya sempat terkubur dalam narasi sejarah resmi.
Spektrum Pemikiran Tan Malaka
Pertama, Membongkar “Logika Mistika”: Musuh Dalam Diri
Salah satu kontribusi terbesar Tan Malaka adalah kritiknya yang tajam terhadap pola pikir masyarakatnya. Dalam karya Massa Actie (1926) dan Madilog (1943), ia menyoroti apa yang disebutnya “logika mistika”.
Baginya, “logika mistika” adalah cara berpikir yang mengandalkan takhayul, kepercayaan pada hal gaib, dan mitos seperti “Ratu Adil” yang akan datang menyelamatkan. Pola pikir ini, menurut Tan Malaka, melahirkan mental pasif, menyerah pada nasib, dan mudah dimanipulasi oleh penguasa kolonial maupun feodal. Ia berkata, “Lapar tak berarti kenyang buat si miskin. Si Lapar yang kurus kering tak akan bisa kita kenyangkan dengan kata kenyang saja, walaupun kita ulang 1001 kali”. Ucapan ini adalah sindiran pedas terhadap budaya “hanya berdoa” tanpa diikuti aksi nyata dan analisis rasional.
Dalam konteks kekinian, “logika mistika” bisa kita artikan sebagai segala bentuk pola pikir instan, dogmatis, dan anti-sains. Misalnya, percaya pada solusi-solusi simplistis untuk masalah kompleks, atau mudah terhasut oleh narasi-narasi populis tanpa dasar fakta. Perjuangan pertama menuju perubahan, menurut Tan Malaka, adalah membebaskan diri dari belenggu cara berpikir seperti ini.
Kedua, Pendidikan sebagai Senjata Pembebasan
Bagi Tan Malaka, pendidikan bukan sekadar untuk mencetak tenaga kerja, melainkan senjata utama untuk pembebasan mental. Sekolah-sekolah yang ia dirikan, seperti Sekolah Sarekat Islam di Semarang, bertujuan mencerdaskan rakyat sekaligus menumbuhkan jiwa merdeka dan kepedulian sosial.
Ia meyakini bahwa hanya melalui pendidikan yang membuka wawasan dan mengasah logika, rakyat yang tertindas dapat menyadari hak-haknya dan memiliki keberanian untuk memperjuangkannya. Pendidikan adalah fondasi untuk membangun kesadaran kritis, yang lebih penting dari sekadar mengumpulkan massa.
Ketiga, Visi Kemerdekaan yang Holistik dan Tegas
Tan Malaka memiliki visi kemerdekaan yang sangat jelas dan tidak setengah-setengah: 100% Merdeka. Ia menentang segala bentuk perundingan yang dianggapnya melemahkan posisi Indonesia di hadapan Belanda.
Namun, kemerdekaan baginya bukan sekadar pengakuan kedaulatan politik. Dalam bukunya Naar de Republiek Indonesia, ia menegaskan bahwa kemerdekaan berarti “lepas dari segala bentuk penindasan”. Ini mencakup pembebasan dari penindasan ekonomi, kebodohan, dan pola pikir feodal. Ia membayangkan Republik Indonesia yang tidak hanya berdaulat, tetapi juga adil dan makmur bagi seluruh rakyatnya.
Konsepnya tentang perjuangan juga praktis. Dalam Gerpolek (1948), ia menulis bahwa “Revolusi harus dimenangkan di hati rakyat, bukan hanya di medan perang”. Ini menunjukkan pemahamannya yang mendalam bahwa keberhasilan suatu perubahan besar bergantung pada dukungan dan kesadaran rakyat banyak, bukan hanya pada kekuatan senjata.
Relevansi Tan Malaka Bagi Kita Hari ini
Lalu, mengapa kita perlu merenungkan pemikiran Tan Malaka sekarang?
Pertama, Melawan Hoaks dan Polarisasi: Di era digital yang penuh dengan misinformasi, metode Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) mengajak kita untuk selalu mengedepankan logika, verifikasi fakta, dan berpikir kritis. Ini adalah tameng paling efektif terhadap hoaks dan narasi yang memecah belah.
Kedua, Menjawab Kesenjangan Sosial: Semangat Tan Malaka yang membela rakyat kecil dan menentang ketidakadilan ekonomi masih sangat relevan. Ia mengingatkan kita bahwa pembangunan bangsa harus inklusif dan berkeadilan.
Ketiga, Semangat Orisinalitas dan Keberanian: Tan Malaka adalah figur yang tidak takut melawan arus, baik melawan kolonialis maupun melawan rekan seperjuangan jika prinsipnya berbeda. Di dunia yang penuh dengan konformitas, semangatnya menginspirasi kita untuk berani memiliki pendapat yang independen dan berdiri untuk kebenaran.Keempat, Mencari Identitas Bangsa: Kembalinya minat pada Tan Malaka, terutama di kalangan muda, mencerminkan pencarian terhadap narasi dan nilai-nilai alternatif dalam membangun Indonesia. Ia menjadi simbol perlawanan terhadap kemapanan dan inspirasi untuk mendobrak status quo.
Warisan yang Hidup
Warisan Tan Malaka bukan berupa monumen megah, tetapi terpatri dalam gagasan-gagasannya yang tertulis. Dari kritik terhadap “logika mistika” hingga impian tentang republik yang sepenuhnya merdeka, ia meninggalkan seperangkat alat berpikir untuk menganalisis masalah dan bertindak.
Tan Malaka dan kita dihubungkan oleh hasrat yang sama: untuk menciptakan masa depan yang lebih cemerlang. Perjuangannya mengajarkan bahwa perubahan besar diawali dari perubahan dalam cara berpikir. Sebelum mengubah dunia luar, kita harus terlebih dahulu membebaskan diri dari belenggu pikiran yang pasif, takhayul, dan tidak logis.
Perubahan yang cemerlang dimulai dari pikiran yang cemerlang. Di situlah percakapan kita dengan Tan Malaka menjadi sangat personal dan mendesak. Ia mungkin telah tihat, tetapi pertanyaannya masih menggema: Sudahkah kita membebaskan diri dari segala “kotoran kesaktian” dan cara pikir lama yang menghambat kemajuan, untuk bersama-sama menuju Indonesia yang benar-benar merdeka, berdaulat, adil, dan makmur? Jawabannya ada pada tindakan dan pemikiran kita hari ini.
Devon Richard Hafids Fadhillah Purba, adalah penulis muda dari Kediri. Sekarang menempuh pendidikan di MAN 2 Kota Kediri. Ia merupakan anggota dari Pers Jurnalis dan Media Sosial MAN 2 Kota Kediri, sekaligus anggota dari Kelompok Ilmiah Remaja “An-Nahl” di sekolahnya. Kini ia aktif di komunitas Aksara Nalar. Dapat disapa melalui Ig: @devonrichard2009




