Kesadaran Kolektif Masyarakat Akar Rumput dan Persaudaraan Antar Bangsa

Aksi demonstrasi yang terjadi di seluruh Indonesia sejak tanggal 25 Agustus hingga hari ini, September 2025, merupakan aksi demonstrasi terbesar pasca 1998. Rakyat merasa tidak puas dengan Pemerintahan Prabowo Subianto sejak awal pemerintahannya di akhir 2024 lalu. Berbagai kebijakan dianggap tidak pro-rakyat. Selain itu, terungkapnya berbagai kasus korupsi dengan nilai yang tidak terbayangkan, juga cukup andil menciptakan situasi jenuh. Namun demikian, situasi masih bisa dikendalikan sampai rakyat merasakan dampak dari efisiensi anggaran pemerintah, ekonomi sulit, dan angka pengangguran meroket. Sementara itu, kaum elit pemerintah khususnya anggota DPR, merayakan kenaikan tunjangan puluhan kali lipat UMR Jakarta dengan berjoget di parlemen dan mengejek rakyat yang memilihnya.

Pada aksi buruh yang dilakukan pada tanggal 28 Agustus 2025 yang berpusat di Jakarta, sebuah tragedi yang sangat memilukan terjadi. Sebuah mobil barracuda menembus aksi massa dan memakan korban. Korban merupakan seorang supir onjek online yang sedang bekerja mengantarkan makanan, namun sialnya hapenya jatuh dan kemudian Ia ditabrak hingga tak bernyawa. Kejadian tersebut viral dan mendapatkan kecaman rakyat. Tragedi Affan Kurniawan mengusik rasa kemanusiaan, dan menciptakan solidaritas bersama sebagai sesama rakyat. Rasa sedih, kecewa, marah dan terhina berkecamuk dan tak tertahankan hingga menjadi amuk massal di berbagai wilayah seluruh Indonesia, dari Jakarta hingga kabupaten.

Amukan yang tertahankan yang tersusupi provokasi, memanifestasi menjadi pembakaran berbagai fasilitas umum serta penjarahan berbagai tempat seperti rumah anggota DPR ataupun pencurian barang-barang purbakala di museum. Pembakaran dan penjarahan massif di berbagai tempat khususnya Jakarta. Namun berdasarkan laporan Republika.com (31/8), ada kejanggalan dalam huru hara pembakaran sejumlah fasilitas umum. Laporan tersebut mengatakan adanya mobilisasi massa dari Jawa Barat yang menjadi massa bayaran yang bertugas untuk melakukan provokasi. Dengan demikian, kendati demonstrasi yang terjadi dalam beberapa hari ini merupakan aspirasi rakyat yang terjadi secara organik, ada pihak-pihak lain yang mencoba untuk menunggangi rakyat dengan motif tertentu.

Munculnya provokator, tidak saja terjadi di dunia nyata namun juga bermunculan di dunia digital yang dikenal dengan buzzer. Mereka bertugas untuk memprovokasi dan memecah belah masyarakat. Kondisi yang gaduh, menimbulkan ancaman adanya darurat militer. Tentu, keadaan ini sama sekali tidak dikehendaki oleh rakyat, dan bukan ini yang diinginkan. Situasi mengalami puncak kegaduhan terjadi di Jakarta, ketika live streaming di berbagai platform sosial media dibatasi, dan listrik dipadamkan. Seluruh massa lari kocar kacir dalam ketakutan dan kecemasan diburu aparat kepolisian yang memiliki persenjataan penuh. Untungnya, ada beberapa pihak, sosok intelektual organik yang bisa mempengaruhi rakyat seperti Salsa Erwina dan Fery Irwandi, yang berhasil menghalau massa melalui seruan di sosial media untuk segera balik kanan.

Tanpa adanya seruan tersebut, tanpa adanya sosok yang menjadi intelektual organik, kondisi Indonesia saat ini barangkali sudah ditetapkan dalam status darurat militer. Sehari kemudian, pada tanggal 31 Agustus 2025, Presiden Prabowo Subianto dan beserta jajarannya memberikan mandat untuk merumuskan tuntutan rakyat. Hal ini memberikan angin segar bagi rakyat. Beberapa influencer kemudian menghimbau untuk menunggu sikap pemerintah, dan tidak turun aksi. Setidaknya, memastikan bahwa aksi yang dilakukan terjadi dengan damai. Maka tanggal 1 September, di berbagai lokasi seperti di Yogyakarta, Lampung dan berbagai wilayah lainnya massa aksi turun dengan damai.

Sayangnya, pasca situasi mulai reda, Presiden Prabowo Subianto memberikan pernyataan yang menyakiti rakyat.

“Saya sampaikan ke Kapolri saya minta untuk yang bertugas dinaikkan pangkat luar biasa, bagi mereka yang bertugas di lapangan membela negara, membela rakyat, menghadapi anasir-anasir. Kalau demonstran murni yang baik justru oleh aparat harus dilindungi. Hak menyampaikan pendapat dijamin oleh undang-undang. Kira-kira saya datang karena polisi kadang-kadang, yang namanya menegakkan hukum kadang-kadang ada yang khilaf, kadang-kadang ada keterpaksaan, yah. Kalau ada korban, yang benar-benar salah adalah yang buat kerusuhan sampai rakyat tidak berdosa menjadi korban. Dan polisi menindak anggotanya yang mungkin keliru ini sedang diselidiki kalau ada kesalahan akan ditindak. Tapi jangan lupa puluhan petugas yang berkorban, polisi siang malam menjaga keamanan di seluruh pelosok tanah air. Jadi saya sebagai kepala negara kepala pemerintah saya merasa harus menengok mereka, keluarga mereka, orang tua mereka, anak mereka ada disitu. Saya ucapkan terimakasih atas negara, saya perintahkan mereka mendapatkan penghargaan, masuk sekolah”, sebagaimana dikutip dari akun YouTube Kumparan yang diunggah pada 1 Septemper 2025.

Pernyataan Presiden Prabowo sayangnya dinilai berkebalikan dengan kehendak rakyat. Di platform sosial media Thread, banyak warganet yang mengungkapkan kekecewaannya. Mereka menyebutkan pemberian penghargaan boleh-boleh saja, namun konteks waktunya tidak tepat. Kekecewaan mereka didasarkan pada represi yang dilakukan Polri dan menimbulkan banyak korban nyawa di berbagai wilayah yang seharusnya lebih dulu didisiplinkan. Selain Affan, adan 8 korban lainnya yang disebabkan oleh tindakan polisi yang sangat represif.

Belum selesai dengan kekecewaan atas pernyataan Prabowo, kondisi kembali mencekam. Malam sebelumnya, kelompok massa mendatangi Bekasi dan hendak menjarah Summerecon Bekasi. Namun untungnya, antara warga setempat, mahasiswa, dan aparat kepolisian bekerjasama sehingga situasi terkendali. Malam ini, kondisi mencekam terjadi di Bandung. Dari beberapa video yang beredar di sosial media, nampak aparat gabungan Polisi dan TNI berada di sekitar kampus UNPAD dan UNISBA. Hingga tulisan ini ditulis, belum bisa dipastikan kondisi yang sebenarnya.

Solidaritas Antar Bangsa dan Martabat Manusia

Apa yang tengah terjadi di Indonesia beberapa hari ini menjadi sorotan masyarakat dunia terutama masyarakat kawasan ASEAN. Mereka terus mengikuti perkembangan yang terjadi di tengah pergolakan dalam upaya menegakkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Ketika media nasional mengalami pengetatan dan keterbatasan dalam penyiaran, media nasional memberitakannya dengan gamblang. Dengan demikian, apa yang terjadi di Indonesia menjadi tontonan masyarakat dunia.

Gejolak yang terjadi di Indonesia, mendulang simpati dari warga dunia terutama bangsa satu rumpun seperti Malaysia, Singapura, Filipina, dan Thailand. Warga Malaysia terutama, mereka benar-benar mengikuti setiap perkembangan yang terjadi di Indonesia. Terlepas dari rasa keterkejutannya, mereka juga mengapresiasi keberanian rakyat Indonesia dalam memeprtahankan hak dan keadilan sebagai sesuatu yang harus diperjuangkan. Banyak pula warga Filipina yang membandingkan kekompakan warga Indonesia dengan mereka yang masih terfragmentasi.  

Kita selama ini selalu ribut dalam banyak hal. Warga Malaysia selalu tertarik untuk beberapa hal yang dimiliki Indonesia seperti kebudayaan, kuliner, film maupun musik. Sebaliknya, warga Indonesia pun, selalu iri dengan Malaysia dalam hal kesejahteraan, kemajuan pendidikan, teknologi dan stabilitas politik. Ribut-ribut dua bangsa ini sering muncul di sosial media seperti dua bangsa yang memiliki perseteruan abadi.  Namun siapa sangka, momentum yang terjadi menciptakan tali kasih antar bangsa. Di tengah kekacaun yang terjadi, warga Malaysia menunjukan kebesaran hatinya dengan membantu warga Indonesia. Mereka berinisiatif untuk membelikan makanan menggunakan aplikasi Grab yang bisa diakses dari Malaysia untuk dibagikan ke warga Indonesia.

Gerakan ini disebarkan di sosial media dan diikuti oleh banyak warga dari bangsa lain seperti Thailand, Filipina, Singapura, Jepang dan bahkan dari kawasan Eropa. Kami sangat berterimakasih, karena apa yang mereka lakukan terasa seperti meminjamkan bahu sementara bagi kita untuk bersandar. Kita sangat berterimakasih, dan lebih dari itu, gerakan yang mereka lakukan bukan sekadar dukungan material, namun menguatkan hati kita, membuat kita percaya bahwa rasa kemanusiaan itu masih ada meski kita berbeda bangsa.

Khusus untuk warga Malaysia, kami senang bahwa bangsa serumpun yang selama ini saling ejek, rupanya sedang tumbuh dewasa bersama, saling memaki namun juga memberi dan melengkapi. Kita seperti kakak adik dari rahim Melayu yang kadang berseteru, namun menjadi yang paling terdepan ketika saudaranya sedang kesusahan. Semoga damai dan sejahtera senantiasa menyertai kita. Salam.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top