Dilema Pacaran: Antara Kemanfaatan atau Kemudaratan

Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DSP3A) Kabupaten Nunukan menyatakan keprihatinan mendalam terhadap fenomena gaya pacaran remaja yang belakangan ini semakin mengkhawatirkan. Kekhawatiran ini mencuat setelah adanya kasus remaja putri di bawah umur yang harus berurusan dengan hukum akibat video asusila yang tersebar dan menjadi alat pengancaman oleh pacarnya sendiri.

‎Dari berita tersebut kita bisa jadi lebih memperhatikan anak remaja saat ini, yang di mana itu mengancam masa depan mereka. Bisa jadi karena kurangnya rasa cinta orang tua terhadap anak yang mengakibatkan anak membutuhkan validasi cinta dari orang lain. Sehingga anak tersebut merasa lebih dicintai oleh orang lain daripada oleh orang tuanya sendiri. Bahkan bisa juga karena kurangnya pengetahuan anak yang di mana orang tua sudah memberikan segalanya cinta, kasih sayang, dan pendidikan, tetapi anaknya yang kurang (tolol), dan juga peran lingkungan juga bisa termasuk. Sebagai upaya, kita bisa mengimbau kepada orang tua, dan masyarakat untuk lebih menekankan berkomunikasi secara terbuka kepada anak-anak, pentingnya edukasi terkait pendidikan gender dan menciptakan lingkungan yang sehat.

‎Data yang diperoleh dari Survei Kesehatan Reproduksi Remaja (SKRR) pada tahun 2021 menyebutkan bahwa kelompok remaja di usia 15-17 tahun telah melakukan hubungan berpacaran di mana jumlah persentase 45,3% remaja laki-laki dan 47,0% remaja perempuan. Dari data tersebut dapat ditemukan 14,8% mengatakan belum pernah melakukan hubungan pacaran di usia rata-rata 10-24 tahun.

Lalu kenapa remaja yang paling rentan? Karena remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak menuju dewasa, sehingga pada proses ini remaja masih dalam proses belajar menengah pertama dan kedua (SMP dan SMK) di mana pada saat itu remaja masih bersifat labil, hanya mementingkan kesenangan sesaat tanpa berpikir hasil dari perbuatan yang telah dilakukan akan menimbulkan dampak yang begitu besar bagi dirinya.

Mirisnya, saat ini perilaku pacaran yang buruk menghasilkan perilaku pranikah hingga terjadi kegiatan yang mengakhirkan penyesalan, yaitu: Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD).  Karena pada fase SMP dan SMK itu fase yang bisa dikatakan cinta monyet (ketertarikan romantis pertama yang muncul pada masa peralihan ke dewasa yang mana itu bersifat sementara).

‎Cinta sendiri memiliki arti yang luas tergantung siapa yang menjelaskan. Jadi, cinta di sini adalah perasaan dalam diri seseorang akibat faktor pembentuknya. Sedangkan menurut Libowitz (dalam Wortman, 1992) cinta adalah suatu perasaan positif yang kuat yang kita rasakan terhadap seseorang dan merupakan perasaan positif terkuat yang pernah kita alami. Sehingga ketika orang jatuh cinta mereka akan bahagia, kagum, dan merasa memiliki.

Demikian juga ketika seorang mengalami putus cinta mereka kecewa pada seorang yang dicintai karena putus, sehingga timbullah perasaan marah, kecewa, benci, stres, gamon (gagal move on) dan sebagainya. Perasaan yang berlebihan akan mengakibatkan segala bentuk untuk hasratnya, hingga muncul pikiran-pikiran yang melanggar norma etik masyarakat. 

‎Dari berbagai kemudaratan, pacaran juga memiliki kemanfaatanya, yang mana tidak semua mengandung mudarat. Contohnya pacaran juga bisa menjadikan kita lebih dewasa, disiplin, memahami sifat seseorang, tanggung jawab, meningkatkan motivasi dan sebagainya.  Menurut kesehatan, pacaran sehat menawarkan spektrum manfaat yang luas, mulai dari peningkatan kesejahteraan mental dan emosional hingga pertumbuhan pribadi dan motivasi untuk hidup lebih sehat. Ini bukan sekadar fase dalam hidup, melainkan kesempatan untuk belajar, berkembang, dan membentuk identitas yang lebih kuat melalui interaksi yang positif dengan orang lain.

‎Jika mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan, membutuhkan dukungan emosional, atau menghadapi masalah kesehatan mental yang mungkin terkait dengan dinamika hubungan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga ahli kesehatan mental. Apakah pacaran dapat menjadi jalan menuju hubungan yang sehat, atau justru membuka peluang terjadinya penyimpangan? Apakah pacaran bisa dibenarkan apabila tujuannya untuk mengenal calon pasangan hidup? Bagaimana cara menjaga hubungan agar tidak mendekati zina sesuai ajaran islam?

Ta’aruf

Ta’aruf merupakan proses perkenalan antara dua orang (laki-laki dan perempuan) yang dilakukan secara syar’i dengan tujuan menikah. Di mana ini menjadi salah satu cara menjaga hubungan tanpa terjerumus dengan zina yang tidak diinginkan. Ketika berta’ruf tidak hanya ada dua orang (laki-laki dan perempuan) saja tapi ada salah satu atau orang ketiga: bisa adik, wali, ustadz, dan orang tua mereka. Dan di Islam itu diperbolehkan. Kenapa? Karena ketika berta’aruf tidak ada aktivitas berduaan tanpa adanya pendamping, tidak ada kontak fisik, dan komunikasi dilakukan dengan tujuan yang jelas. 

Sehingga pacaran dan ta’aruf itu sangat berbeda. Di mana ta’aruf adalah hubungan yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab disertai adanya keseriusan dari kedua pihak untuk segera menikah dalam jangka waktu yang telah disepakati bersama, sedangkan pacaran bisa dimulai kapan saja, bahkan sejak belum baligh, dan mengakhirinya pun bisa kapan saja. Semisal di mana pacar tidak merasa istimewa ketika diperlakukan sama seperti orang lain kepada dirinya. Ia akan menuntut lebih untuk dirinya, yang mana tidak sesuai dengan ukhuwah islam yang kita kenal. 

Salah satu manfaat dari ta’ruf adalah menjaga kesucian diri. Sehingga ta’aruf menjadi salah satu yang pertama dalam menjaga hubungan mengenal seseorang tanpa mendekati zina. Dan itu sangat dianjurkan dalam islam, bahkan ta’aruf juga membawa keberkahan ketika dilakukan dengan sesuai syari’at.

Pacaran sehat

Pacaran sehat juga termasuk dalam menjaga hubungan supaya tidak menyimpang dan mendekati zina. Pacaran sehat adalah hubungan asmara yang dilandasi rasa saling menghargai, percaya, dan mendukung. Yang di mana pacaran sehat ini tidak seperti pacaran biasa pada umumnya, di mana pacaran biasa pada saat ini layaknya mereka sudah menjadi suami istri.

Contoh si laki-laki tidak boleh mengirim pesan pada perempuan lain, bahkan semua akunya harus dipegang oleh si perempuan. Begitu juga sebaliknya, si perempuan tidak boleh menge-save nomer laki-laki lain selain dirinya. Dan itu merupakan hubungan  yang tidak sehat (terkekang), bahkan sampai ada yang di luar konteks normal atau bisa disebut juga pacaran plus-plus. 

Sehingga anak-anak dan remaja perlu mempelajari nilai-nilai dan keterampilan sosial dan emosional yang akan memungkinkan untuk diimplementasikan dalam aktivitas pacaran yang sehat, diantaranya adalah berkomunikasi secara efektif, menjadi penyemangat, berkasih sayang sesuai dengan etika, mengelola konflik, mendukung, menghargai dan mengikutsertakan orang lain, dan percaya diri dalam melawan berbagai tekanan. Di mana pacaran sehat ini menjadi salah satu jawaban atas pertanyaan yang di atas. 

Untuk mencapai semuanya itu, perlunya mempelajari nilai-nilai keterampilan  sosial, emosional, perilaku, dan pengetahuan. Pengetahuan dan perilaku seperti apa? pengetahuan tentang berbagai hal mengenai pengertian kesehatan reproduksi, pertumbuhan dan perkembangan remaja, perubahan fisik, psikologi remaja, seks bebas, penyakit menular seksual dll.

Pengetahuan dapat dianggap sebagai salah satu predisposisi terbentuknya perilaku pacaran di samping harus memperhatikan faktor lain seperti latar belakang pendidikan, pengalaman, informasi, sosial budaya, kepribadian, maupun faktor lainnya. Dalam menjalin sebuah hubungan atau berpacaran harus memiliki komitmen yang baik, tujuan dari berpacaran sebenarnya untuk mengetahui perilaku dari lawan jenis kita baik perilaku positif maupun perilaku negatif, kemudian saling memahami dari kekurangan tersebut untuk dapat menjalin hubungan yang baik.

Dapat disimpulkan bahwa fenomena gaya pacaran remaja usia sekolah saat ini berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan dan berpotensi mengancam masa depan mereka akibat tingginya risiko perilaku pranikah, kekerasan emosional melalui hubungan yang saling mengekang, hingga terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan. Hal ini umumnya dipicu oleh fase remaja yang masih labil, pengaruh lingkungan, serta kurangnya kedekatan emosional dan komunikasi terbuka dengan orang tua yang membuat anak mencari validasi kasih sayang dari orang lain.

Meskipun pacaran dinilai memiliki kemanfaatan dalam meningkatkan motivasi, kedewasaan, dan kesejahteraan mental jika dijalankan secara sehat, perasaan cinta yang berlebihan tanpa kontrol justru seringkali melanggar norma etis masyarakat. Oleh karena itu, terdapat dua alternatif untuk menjawab dilema ini agar hubungan tidak menyimpang atau mendekati zina.

Pertama adalah melalui ta’aruf, yaitu proses perkenalan syar’i yang melibatkan pihak ketiga demi menjaga kesucian diri menuju jenjang pernikahan yang penuh tanggung jawab. Kedua adalah dengan menerapkan konsep pacaran sehat yang berlandaskan rasa saling menghargai, percaya, serta pemahaman yang matang mengenai batasan etika dan kesehatan reproduksi.

Referensi:
– Mindiono, I. A. (2022). Hubungan pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi dengan sikap remaja dalam pacaran sehat di madrasah aliyah negeri (man) 1 Kota Semarang. Manuju: Malahayati Nursing Journal, 4(11), 2982-2992.
– Munawaroh, R. (2018). Konsep Ta’aruf dalam Perspektif Pendidikan Islam (Doctoral dissertation, UIN Raden Intan Lampung).
– https://berita.nunukankab.go.id/view/dsp3a-kabupaten-nunukan-prihatin-terhadap-gaya-pacaran-remaja-yang-berisiko
– Wardani, S. F. P., & Atika, L. R. Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Berpacaran Remaja. Jurnal Borneo Cendekia, 9, 1-6.
– Ramadhini, A. N., Sari, I. R., Sulistyowati, R. A., & Eldi, N. A. (2024). Ketertarikan Interpersonal Dan Cinta. HUMANITIS: Jurnal Homaniora, Sosial dan Bisnis, 2(5), 523-531.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top