
“Gotong royong adalah pembeda utama antara masyarakat Indonesia dan Barat. Di Barat, ‘aku’ lebih utama. Di sini, ‘kita’ yang pertama.”
— M. Nasroen, filsuf Indonesia
Setiap Agustus datang, jalan-jalan kampung mendadak ramai. Cat tembok diperbaharui. Bendera merah putih dikibarkan serempak. Gapura dicat ulang. Anak-anak lomba makan kerupuk, ibu-ibu menyiapkan hadiah, bapak-bapak kerja bakti. Seolah ada denyut gotong royong yang kembali hidup, meski hanya sesaat.
Tapi, usai upacara 17-an, suasana kembali seperti sedia kala. Tiang bendera diturunkan, cat-cat kembali pudar, dan gotong royong menghilang seperti tamu undangan yang pulang terlalu cepat. Apa arti gotong royong jika hanya hadir sebagai seremonial tahunan? Apakah semangat kebersamaan kita hanya bersifat musiman.
Gotong royong sejatinya bukan ritual Agustusan. Ia adalah jantung kebudayaan kita. Bung Karno menyebutnya sebagai “saripati Pancasila” karena jika kelima sila dipadatkan maka Bung Karno menjawab “Gotong Royong”. Sebuah daya hidup yang membuat bangsa ini berdiri di atas perbedaan dan bertahan dalam ujian zaman. Ketika gotong royong menjadi proyek tahunan, bukan praktik harian, maka kita sebenarnya sedang kehilangan akar kebangsaan kita sendiri.
Hari ini, gotong royong menghadapi ancaman: individualisme digital, kehidupan yang semakin terisolasi, serta kepercayaan sosial yang terkikis. Kita semakin hidup berdampingan tapi tidak bersama. Bersentuhan tapi tidak terhubung.
Kita perlu menghidupkan kembali gotong royong sebagai etika harian, bukan sebagai dekorasi Agustusan. Ia bukan milik negara, bukan pula milik pemerintah. Ia milik kita, rakyat, manusia-manusia yang ingin hidup tidak hanya untuk diri sendiri.
Tapi tantangan memang harus diakui bahwasanya :
- Individualisme Meningkat
Era digital dan gaya hidup modern mendorong orang untuk lebih fokus pada diri sendiri. Aktivitas sosial makin tergantikan oleh interaksi virtual. Akibatnya, kepekaan terhadap lingkungan sekitar menurun. Kita bahkan bisa lebih tahu kabar diujung pulau dibanding tetangga sendiri. - Waktu dan Kesibukan
Tuntutan pekerjaan dan ritme hidup yang cepat membuat orang kesulitan meluangkan waktu untuk terlibat dalam kegiatan kolektif. Bahkan hari libur pun digunakan untuk istirahat, bukan interaksi sosial. - Menurunnya Kepercayaan Sosial
Gotong royong membutuhkan rasa saling percaya. Ketika masyarakat kehilangan kepercayaan pada tetangga, tokoh masyarakat, atau lembaga publik, semangat kolektif pun ikut melemah. Mungkin kamu salah satu orang yang bertanya, “Kalau saya bantu, nanti yang lain ikut bantu enggak?” - Tidak Ada Insentif atau Apresiasi
Dalam masyarakat yang makin transaksional, aktivitas sosial sering dinilai dari untung rugi. Ketika gotong royong tidak memberi manfaat langsung, banyak orang jadi enggan terlibat. Kamu enggak seperti ini ya kan. - Urbanisasi dan Anonimitas Kota
Di kota besar, orang bisa hidup bertahun-tahun tanpa mengenal tetangganya. Ruang komunal semakin sedikit. Privatisasi ruang membuat masyarakat sulit membangun keterlibatan spontan. Yuk cek sudah tau tetangga sebelah rumah perumahanmu belum?
Pada akhirnya kita kehilangan bangsa sebagai komunitas, padahal Gus Dur pernah berkata “Kebudayaan gotong royong adalah sumbangan terbesar Indonesia untuk dunia.”
Penulis dan penggerak literasi dari Banyumas. Ia aktif menginisiasi forum baca dan diskusi sastra. Karya-karyanya mencerminkan kepedulian sosial dan lingkungan. Melalui puisi dan esai, ia menjadikan literasi sebagai ruang perjumpaan, pembebasan, dan pemberdayaan masyarakat secara inklusif.




