Filosofi Gender dalam Tari Lengger Banyumas

Tari Lengger Banyumas merupakan manifestasi seni pertunjukan rakyat yang mengandung nilai-nilai filosofis mendalam, terutama mengenai konsep gender. Keunikan utamanya terletak pada fenomena Lengger Lanang, seorang penari laki-laki yang berbusana dan berperan menyerupai perempuan. Fenomena ini menjadi sebuah praktik lintas gender (cross-gender) yang telah mengakar dalam sejarah budaya agraris masyarakat Ngapak di wilayah Banyumas. Praktik ini bukan sekadar hiburan visual atau bentuk ekspresi gender modern, melainkan perwujudan dari pandangan dunia masyarakat Banyumas tentang keseimbangan spiritual, kesempurnaan diri, serta kebutuhan komunal akan kesuburan.

Secara etimologi, nama “Lengger” dimaknai sebagai “dikarani leng (disangka perempuan) jebule jengger (ternyata laki-laki)”. Ungkapan ini mempresentasikan kesadaran kolektif masyarakat sejak awal akan peleburan identitas di atas panggung, yang telah tercatat bahkan dalam naskah historis Jawa seperti Serat Centhini pada abad ke-18.

Filosofi inti dalam Lengger Lanang berpusat pada konsep keseimbangan, yaitu penyatuan harmonis antara unsur maskulin (lanang) dan feminin (wadon). Dalam kosmologi Jawa, harmoni tersebut dipandang sebagai prasyarat utama untuk mencapai kesempurnaan spiritual yang sering disebut Manunggaling Kawula Gusti. Lengger, pada awalnya berfungsi sebagai tarian ritual sakral yang sering dipentaskan dalam upacara syukuran pascapanen atau ritual memohon hujan. Sosok perempuan secara universal disimbolkan sebagai Dewi Sri atau Bunda Bumi, lambang kesuburan dan kehidupan. Namun, peran spiritual yang besar ini justru dilakoni oleh penari pria. Para penari pria tersebut berupaya menginternalisasi kelembutan, keindahan, dan keluwesan feminin melalui gerak dan penampilan yang diyakini telah berhasil menyatukan kedua energi tersebut dalam dirinya. Keseimbangan energi maskulin (ketegasan) dan feminis (kelembutan) dalam satu tubuh penari dianggap menghasilkan kekuatan magis-religius yang besar, berfungsi sebagai media penyampaian doa dan permohonan kepada alam. Dengan demikian, Lengger Lanang menjadi simbol  keutuhan diri yang melampaui batas-batas jenis kelamin biologis.

Keterkaitan filosofi gender juga terpatri jelas dalam estetika gerak tarian, terutama melalui ciri khas geyol dan gedheg, yang diiringi oleh musik calung (gamelan bambu) yana lincah. Gerakan Geyol berupa goyangan pinggul yang lincah dan sensual untuk menggambarkan keluwesan dan daya tarik perempuan Banyumas. Ketika gerak ini dipadukan dengan energi tubuh penari pria yang pada dasarnya kuat dan tegar, tercipta perpaduan yang unik dan harmonis. keunikan ini diperkuat oleh Gerakan Gedheg, yakni gerakan kepala yang patah-patah namun jenaka, yang menegaskan bahwa penari tersebut secara sadar sedang melintasi batas gender. Gerakan dalam Lengger tidak hanya meniru, tetapi merayakan dan membebaskan energi feminin yang sering kali dibatasi oleh peran sosial maskulin.

Kesenian ini mengajarkan bahwa ekspresi keindahan dan kelincahan bukanlah dominasi kaum perempuan semata. Melalui perpaduan tersebut, Lengger menawarkan sebuah filosofi keseimbangan yang mendalam, di mana kekuatan fisik (maskulin) menjadi wadah bagi ekspresi kelembutan dan keluwesan (feminin) tanpa menghilangkan identitas aslinya. Oleh karena itu, tarian ini tidak hanya menjadi pertunjukan seni, melainkan media refleksi budaya yang terus mempertanyakan dan mendefinisikan ulang pemahaman masyarakat Banyumas tentang maskulinitas dan feminitas yang saling melengkapi dalam keindahan gerak.

Secara sosiokultural, Lengger Lanang dapat ditafsirkan sebagai bentuk pemberontakan atau resistensi kultural terhadap gender yang kaku, khususnya jika dibandingkan dengan nilai-nilai yang dijunjung dalam budaya keraton. Dahulu, tarian yang dibawakan perempuan sering dibatasi pada lingkungan istana atau acara formal, jauh dari jangkauan masyarakat umum. Sebaliknya, Lengger berkembang di lingkungan rakyat dengan dialek Ngapak yang dikenal blak-blakan. Dengan menghadirkan penari pria yang mengambil peran perempuan, Lengger memastikan bahwa pertunjukan yang indah dan menawan dapat disajikan di ruang publik tanpa melanggar norma kesopanan yang membatasi wanita tampil di keramaian. Sosok legendaris seperti Dariah (Sadam), maestro Lengger Lanang yang diakui dan dihormati hingga kini, menjadi simbol kesenian rakyat Banyumas. Dariah tidak hanya tampil sebagai penari, tetapi secara totalitas menjalani transisi gender sebagai konsekuensi spiritual dari pengabdiannya pada Indang Lengger, yang dimana membuktikan bahwa praktik cross-gender ini didasarkan pada pilihan hidup dan spiritual yang mendalam, serta bukan sekadar komedi panggung.

Selain penari, unsur badhut (pelawak) dalam calung juga turut memperkuat filososfi kerakyatan Lengger melalui humor dan kritik sosial yang tidak elitis, serta menunjukan bahwa seni ini adalah milik dan suara rakyat. Lengger Lanang juga bertransformasi menjadi benteng kultural yang menjaga keluwesan dan kebebasan berekspresi di tengah masyarakat, sekaligus representasi autentik dari jiwa rakyat Banyumas yang berani, jujur, dan apa adanya. Oleh karena itu, tarian ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan semata, tetapi juga sebagai monumen hidup yang secara konsisten menegaskan kebebasan berekspresi.

Dalam konteks lain, meskipun Lengger didominasi oleh penari perempuan, nilai filosofis Lengger Lanang tetap relevan dan penting. Kehadiran kembali Lengger Lanang pada saat ini sering kali dipimpin oleh seniman yang berjuang melestarikannya menjadi titik fokus perdebatan antara tradisi dan modernitas. Tarian ini kerap menghadapi stigma sosial yang menyamakan praktik lintas gender historis ini dengan isu-isu gender dan seksualitas modern, sehingga mengaburkan makna ritualnya. Namun, dari pandangan akademik, Lengger Lanang merupakan warisan budaya yang memiliki kekuatan untuk meninjau dan mendiskusikan ulang ketidaksetaraan gender. Melalui ekspresi visual dan koreografi meleburkan unsur maskulinitas dan femininitas.

Lengger mengajarkan pentingnya keterbukaan dan fleksibilitas peran dalam kehidupan sosial. Ia menantang pandangan sempit bahwa kelembutan adalah tanda kelemahan dan kekuatan bagi seorang pria. Oleh karena itu, melestarikan Lengger Lanang bukan sekadar menjaga sebuah tarian, melainkan meneguhkan kembali filosofi budaya Banyumas yang menghargai keutuhan dan keberanian ekspresi manusia di tengah masyarakat yang terus berubah.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top