
Gedungnya menjulang megah, dindingnya yang membisu membisikkan pada khalayak bahwa di sini denyut modernitas berdetak. Di satu ruang, telah berjejer sekelompok orang berseragam yang sudah berkorban menukar masa mudanya demi gelar yang tak sebanding dengan penghargaan yang ia dapatkan. Tak banyak kata yang bisa keluar dari bibirnya, mereka takut dianggap tak seragam, lalu padam.
Di lorong-lorongnya, suara derap langkah murid bersautan. Orang yang mendengar akan menganggap sebagai simfoni semangat menuntut ilmu yang tak padam. Sedangkan, di ruang rapat yang dingin, AC-nya mendinginkan tubuh sekaligus membekukan nurani. Tak ada suara guru, hanya target yang kadang jauh dari cita-cita anak manusia. Di ruang itu, keputusan penuh kalkulasi tanpa makna, guru dianggap angka, bukan pelita yang menerangi gelap.
Kata “ikhlas” sudah tak asing terdengar bagi pengajar. Tapi, adakah tuntutan ikhlas itu keluar dari orang yang duduk senyum di balik mobil mewah, tak pernah mengenal debu kapur dan peluh mengajar. Lilin yang berjuang menerangi dibiarkan meleleh habis tak dihargai, sedangkan yang menikmati cahayanya adalah mereka yang duduk nyaman di balik meja.
Seragam yang dikenakan guru juga menyeragamkan—pikiran dan cara bicara. Setiap suara yang mempertanyakan arah, dianggap pembangkangan. Maka kritik dibungkam, bukan dengan debat, tapi dengan dihilangkan keamanan dan kenyamanan. Padahal, pendidikan sejatinya lahir dari keberanian untuk bertanya, bukan dari kepatuhan yang dibeli.
Magda Petters seorang guru perempuan dalam novel “Bumi Manusia” adalah contoh pendidik yang berada di jalan sunyi. Di tengah kolonialisme dan kapitalisme, ia menanamkan jiwa humanis pada setiap siswa HBS termasuk Minke untuk tetap kritis dan tak takut pada sistem yang menindas. Pendidikan olehnya dijadikan jalan pembebasan, bukan alat kekuasaan.
Di akhir cerita, Magda Petters dipulangkan ke negeri asalnya yakni Belanda. Ia dianggap duri karena kebebasan berpikirnya yang bisa menggoyahkan kenyamanan para borjuis. Berbeda dengan Magda yang tetap berdiri ketika dunia meminta diam, hari ini banyak guru yang tunduk pada sistem seragam yang menuntut keseragaman cara pandang dan memilih menjauh dari semangat kritis.
Sistem ini berdampak pada kebebasan berekspresi murid. Guru yang ditekan oleh kapitalis akan berusaha mendominasi ruang belajar. Perannya hanya menabung pengetahuan ke dalam pikiran murid yang ia anggap kosong. Pendidikan gaya bank ini oleh Paulo Freire dianggap sistem yang memperkuat kekuasaan.
Pendidikan yang membebaskan dan humanis hanya bisa dicapai jika guru memberikan ruang berpikir pada murid. Freire menekankan pentingnya pendidikan dua arah, guru belajar dari murid, murid belajar dari guru. Jika hal itu terjadi, maka perubahan sosial akan tercipta sebagai hasil dari pendidikan yang berpihak pada kaum tertindas.
Hal yang paling berbahaya dari sistem ini adalah kapitalis diam-diam melahirkan pengetahuan di lembaga pendidikan. Pengetahuan ini menyusup ke ruang disiplin sekolah. Di sana, guru dan murid sama-sama terjebak pada sistem yang oleh Foucault disebut struktur panoptikon. Guru bukan subjek yang membebaskan tapi pengawas yang diawasi, sedangkan murid dilatih bukan untuk berpikir kritis, tapi patuh dan produktif yang sesuai dengan standar kapitalistik. Memang kekuasaan tidak mencambuk, tapi dengan sunyi masuk lewat norma dan aturan yang dinormalisasi sebagai pengetahuan yang bisa memuaskan kantong kapitalis.
Pada akhirnya ruang yang membebaskan menjadi penjara yang tak berdinding. Guru dibatasi oleh nilai dan angka dibalik jargon profesionalisme. Sedangkan murid dicetak menjadi produk yang seragam. Dalam sunyi panoptikon, kebebasan dilucuti oleh rutinitas yang bersemayam pada istilah kedisiplinan. Sudah saatnya bertanya: apakah perubahan bisa dicapai melalui keseragaman atau pembebasan?

Gilang Inggit Maulana. Ia seorang pendidik yang menyukai sastra, seni dan bola. Dapat disapa melalui Instagram miliknya glnginggit_ atau di X @glnginggit__




