
Jauh dari hiruk pikuk kota. Suara riuh rendah ramainya aktivitas sosial-ekonomi masyarakat kota maupun yang di pinggirannya mulai menghilang dari pendengaran kami. Tujuan kami adalah Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Banyumas. Suasana hangat mulai kami rasakan saat masuk ke Grumbul Kesal, Desa Darmakradenan. Sebuah wilayah yang lingkupnya lebih kecil, namun bagian dari sebuah desa, orang Banyumas menyebutnya grumbul. Secara administratif adalah dusun.
Setelah kami bertanya ke beberapa warga yang di pinggir jalan, kami akhirnya sampai ke lokasi tujuan. Suasananya sunyi-sepi. Bahkan hanya bisa jalan kaki atau sepeda motor untuk sampai di lokasi. Kalau menggunakan mobil, harus parkir di depan grumbul. Meskipun malam hari, kami tetap bisa merasakan suasana yang asri. Bagi yang tinggal di Darmakradenan, mungkin sudah biasa. Tapi bagi orang kota yang ke sana, ia akan merasa istirahat. Setidaknya menjeda diri, dari keramaian dan target pekerjaan. Bukankah orang kota seperti itu? Merindukan kesunyian tanpa kehilangan keramaian.
Siapa Mas Kris?
Malam itu kami bisa ngobrol banyak dengan Mas Kris, nama lengkapnya Kristianto. Di tengah kesibukannya yang bisa terlihat dari ruangan tempat kami bertemu –berjajar koleksi buku, alat hadroh, permainan anak-anak, tumpukan kertas. Ia adalah yang menginisiasi lahirnya Taman Baca Masyarakat Cahaya Semangat dan berbagai macam aktivasi lain yang Ia lakukan di desanya.
Sebelum Mas Kris menjadi perangkat desa, ada perjalanan panjang yang menarik untuk kita jadikan pelajaran. Karena ketika Ia ingin menjadi manusia yang tumbuh, Ia tidak ingin tumbuh sendiri. Namun tumbuh bersama masyarakat di sekitarnya. Tumbuh namun tidak meninggalkan akar. Tidak meninggalkan desanya, menjauh sebagai orang sukses di kota. Lalu pulang dengan membawa cerita keberhasilan. Ia tidak seperti itu. Ia membuat ceritanya bersama masyarakat di sekitarnya dan tumbuh bersama.
Setelah lulus dari MI Ma’arif NU Darmakradenan di desanya, Ia melanjutkan ke MTs Ma’arif NU di Ajibarang. Ia bercerita, bahwa masyarakat di sekitarnya pada waktu itu mencukupkan diri untuk sekolah formal hanya di tingkat dasar. Setelah lulus, langsung merantau untuk bekerja. Ia menceritakan kala itu, “Ngapa sekolah maning, ngode bae genah, olih duit”, (Ngapain lanjut sekolah, mending langsung kerja, dapat uang). Seumuranya, yang sampai tingkat SMA, hanya dirinya sendiri.
Sebenarnya, jarak antara lingkungan Mas Kris dan sekolahan tingkat SMP atau SMA tidaklah begitu jauh. Masih bisa ditempuh bahkan jika tidak memiliki kendaraan. Namun menurut Mas Kris, ketidakadanya kemauan dan semangat itulah yang menjadi sebabnya. Bukan jarak tempuh.
Ada cerita menarik saat Mas Kris melanjutkan sekolah tingkat atas. Dikarenakan pada waktu itu jurusan yang favorit dan banyak diserap oleh industri adalah jurusan teknik otomoitf, Mas Kris memilih melanjutkan ke SMK Muhammadiyah 2 Ajibarang. Sangat berbeda dari kultur masyarakat dan keluarganya. Serta riwayat sekolah sebelumnya. Tapi itu tidak menjadi persoalan bagi dirinya dan keluarga. Meskipun setelah itu, banyak anak-anak dari lingkungannya yang melanjutkan sekolah sama seperti dirinya, dari kalangan NU melanjutkan ke sekolah Muhammadiyah. Ia sempat diprotes oleh beberapa orang di lingkungannya. Karena banyak anak muda yang mengiktui jejaknya Mas Kris.
Melihat Realtias Lalu Menata Buku
Setelah lulus dari SMK, Ia merantau ke Bangka Belitung, di sebuah pabrik nikel. Tidak hanya sebagai karyawan pabrik. Ia banyak belajar di sana. Termasuk di sanalah Ia menghafalkan Al-Qur’an. Ia bersyukur karena pada waktu itu berada di lingkungan yang baik. Sehingga Ia tetap bisa banyak belajar.
Sepulang dari merantau, Mas Kris tidak banyak melihat kemajuan di lingkungannya. Terutama dalam hal pendidikan. Sembari menjadi tenaga pengajar di MI Ma’arif NU Darmakradenan dan melanjutkan kuliah S1 di IAIN Purwokerto -sekarang UIN SAIZU, pada tahun 2015 Ia mendirikan Taman Baca Masyarakat.
Mendirikan Taman Baca Masyarakat adalah aktivitas yang tidak mudah. Itupun yang di alami oleh Mas Kris pada awal berdirinya TBM Cahaya Semangat. Bulan-bulan awal koleksi bukunya hanya puluhan. Sehingga kurang menarik. Setelah belajar dan berjejaring dengan Forum TBM Banyumas, TBM Cahaya Semangat mendapat bantuan hibah buku dari berbagai pihak. Hingga ribuan komik dari Yogya, menjadi koleksi di TBM Cahaya Semangat.
Menurut Mas Kris, mendekatkan literasi dan membaca buku di tengah masyarakat, harus ada strateginya. Salah satunya adalah ada aktivitas yang menarik di dalamnya. Sehingga dari anak-anak sampai dewasa, akan tertarik menggunjungi TBM. Lalu akan tertarik dengan buku.
Kini, selain TBM Cahaya Semangat, Mas Kris melakukan aktivasi lain, diantaranya adalah Madrasah Diniyah, PKBM hingga kelompok usaha. Seperti usaha ternak bebek, kambing dan keripik ketela pohon.
Menjadi Cahaya Menumbuhkan Semangat
Sebenarnya, siapapun dapat melihat realita di sekitarnya. Namun tidak semua mau untuk melakukan aktvitas selanjutnya. Namun, dari Mas Kris kita bisa belajar bahwa jika ingin berbuat yang bermanfaat tidaklah harus dengan rencana dan tujuan yang besar.
Hadirlah menjadi bagian masyarakat. Tumbuhkan saja semangat dalam diri masyarakat. Sehingga ketika kita melihat realitas yang mungkin suram, akan ada setitik cahaya yang kita pantik dari aktivitas kita. Sehingga pantikan itu akan menumbuhkan semangat dalam diri masyarakat. Sehingga bisa tumbuh tanpa meninggalkan tanah kelahirannya. Dengan cara yang sederhana, yaitu memulainya. Seperti darma yang Mas Kris lakukan. Meskipun memilih aktivitas sunyi, tapi tidak sepi cita-cita. Terutama untuk pemajuan masyarakat lingkungannya.

dari Banyumas menyapa Indonesia




