Jerat Hasrat dan Puisi Lainnya

Kenyang yang Membangkang

Sebenarnya, Aku lapar…
lapar yang sangat membara
Aku rakus…

Ingin kumakan gunung, kuminum samudera.
Aku ingin melahap semuanya.
Lagipula perutku bagai Jupiter. Bukankah ia besar? Bukankah ia berhak?
Tapi kata Mentari, Aku itu kecil.
“Apakah kaupikir, kaumampu melahap semua itu? Kausanggup menelan langit?” Sambung Mentari dengan sinis.

Serakah…Rakus…Tamak!
Teriaknya membakar angin
Aku sudah hampir melahap semuanya.
“Kau akan menyesal,” bisik Mentari ngeri,
“Ketika Jupitermu pecah dan seluruh saluran hidupmu meledak menjadi galaksi tanpa bintang.”

Menyesal??
Tentu.
Tapi di sini, di tengah puing-puing yang telah dikunyah, Aku senang dan kenyang.
Di balik semua ledakan, pastilah tersembunyi kepuasan.

***

Pinjaman Nyeri dari Langit

Mati?
Kenapa aku harus mati?
Kapan aku akan mati?
Atau mungkin, aku sudah lama mati?
Mati dalam keadaan apa? Akankah dijemput ajal dengan perut menganga kosong
atau justru pecah oleh segala yang kupaksa kunyah?

Bahkan ketika orang tuaku dibawa pergi ajal,
separuh jiwaku pun ikut terseret ke liang kubur mereka.
Bedanya mereka hanya berhenti bernapas.
Hanya cangkang yang tersisa.

Apakah mereka juga merasakan ini?
Bahwa anak yang lahir dari rahimnya hanyalah pinjaman nyeri dari Tuhan.
Bahwa kita dikandung untuk suatu hari saling merobek jiwa saat berpisah?
Lantas, apa arti hidup sebelum ajal menjemput?

Jika separuh jiwa telah mati saat mereka pergi,
apakah napas yang tersisa hanya jadi pengantar rindu?
atau justru kita baru benar-benar hidup saat menyadari
bahwa hidup adalah jenazah yang belum dikubur?

Sembilu yang Dilarung

Lama tak berjumpa…
birumu mengalihkan segala penatku,
suara ombakmu membuat kesedihanku sirna,
pasirmu tak lebih melimpah dari rahmat Tuhanku.

Dari pesisir, aku bersimpuh,
kuserahkan segenap luka dan kecewaku pada angin yang berlayar.

***

Jerat Hasrat

Dingin merayap di sekujur kulit dan merasuk ke dalam tulangku satu per satu.
Ingin sekali rasanya aku memelukmu, andai saja aku dapat memelukmu sekarang
mencuri sedikit kehangatan dari jiwa ragamu.
Nyatanya…itu hanya angan-angan belaka.

Rindu itu menghadang di kerongkongan, tak kuizinkan merangkak keluar
Aku terjerat dalam jera angan-anganku hingga tercekik.
Aku hampir mati melawan hasratku, hasrat untuk mendekat dan menyentuhmu.
Riuh angin dan air semakin menjadi di luar sana, seakan ikut menertawakanku yang sekarat.

Ingin rasanya aku mati saja
tapi apa gunanya mati?
Aku bisa menikmati surga, atau bisa sekalian mati terpanggang api neraka saja,
biarkan api itu menghanguskan setiap kenangan tentangmu.

Pelan-pelan padam….hingga akhirnya aku tidak lagi memiliki hasrat itu.
Aku tak lagi ingin apa pun, tak lagi berharap apa pun,
bahkan hasrat untuk mati sekalipun.

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top