Hilang dalam Sekejap dan Puisi Lainnya

Alam yang Mulai Enggan

Kulihat langit tampak gelap,
riuh angin menggebu,
tetesan air turun dari langit
hilang kendali tanpa henti,
seakan pertanda akan kemarahannya.

Gulungan air mendobrak jalanan,
kini manusia takut tak karuan,
seakan pertanda akan kemarahannya.

Alam kini sudah tua,
bagai umur habis masanya.
Kini hamba hanya berserah,
karena semua milik Yang Kuasa.

Purwokerto, 2025

***

Kasih Sayang di kala Bencana

Semua tampak baik jika ada ayah, kau tertatih kuat kala hujan badai itu,
diriku hanya bisa menangis karena lapar dan dingin,
seolah tau air akan menenggelamkanmu.
Kau terus menatapku dengan senyuman, berharap keajaiban datang.
ayah, kau susuri genting dengan kaki dingin dan kebas,
kau tetap bertahan dengan menggenggam erat sebuah kotak
di mana bayimu kau lindungi disana.

Purwokerto, 2025

***

Semua Hanya Titipan

Terjadi begitu saja bukan?
Semua sudah dipersiapkan, semua sudah diperhitungkan,
Harta yang dulu dibanggakan, jabatan yang dulu diangkuhkan,
Kini tak ada harganya lagi.
Hanya amal yang menjadi bekal di akhir zaman yang sudah fana ini.
Ingatlah wahai kawan, semua hanya titipan yang diambil kapan saja.

Purwokerto, 2025

***

Hilang dalam Sekejap

Kala itu, semua terasa angan
seperti, seperti alur bunga tidur,
semua lebur dalam satu waktu.
Langkah ditapakkan untuk bertahan,
semua harta ditinggalkan,
nyawa lebih berharga dari semua yang ada.
Semua tertatih saling menggenggam,
begitu nyaring suara teriakan,
berharap semua akan aman.
Rumah kini tertelan alam
tidak ada keluarga atau kampung halaman.
Kini semua tinggal kenangan,
hanya tersisa nyawa sebatang kara.

Purwokerto, 2025

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top