Fenomena LGBT di Banyumas: Saat “Cablaka” Diuji oleh Zaman

Banyumas selalu punya cara khas dalam melihat dunia. Dari logat ngapak yang bikin hangat sampai gaya hidup yang blakasuta apa adanya dan gak suka muter-muter takutnya kepater. Slogan “Ora Ngapak, Ora Kepenak” bukan cuma soal cara bicara, tapi cara hidup. Wong Banyumas itu terbuka, egaliter, dan jujur. Tapi belakangan, ada satu fenomena yang bikin banyak orang mendadak ragu buat ngomong jujur yaitu soal LGBT yang katanya makin marak di Banyumas.

Baru-baru ini, MUI Kabupaten Banyumas menyoroti masalah yang lagi ramai dibicarakan yaitu soal LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender). Mereka merasa sangat prihatin karena fenomena ini makin banyak terjadi di Banyumas. Katanya, jumlah orang yang terlibat dalam komunitas LGBT sudah mencapai sekitar 2.000 orang dan kemungkinan besar jumlah aslinya lebih banyak karena belum semua terdata. Yang bikin banyak orang kaget, fenomena ini ternyata juga sudah mulai masuk ke kalangan pelajar.

Khawatir? Wajar. Banyumas memang punya akar moral dan agama yang kuat. Tapi di sisi lain, anak-anak muda sekarang hidup di dunia digital yang gak kenal batas. Media sosial udah jadi ruang ekspresi tanpa “tedeng aling-aling alias tanpa pagar, tempat orang bisa jadi siapa aja tanpa takut dihakimi. Maka wajar kalau banyak nilai lama yang sekarang mulai ditantang.

Dan di sinilah “cablaka” kita diuji. Kalau Wong Banyumas terkenal berani ngomong apa adanya alias “nyablak semblegejede””, kenapa sekarang malah banyak yang buru-buru ngecap tanpa mau denger cerita orang lain? Kalau kita bangga jadi masyarakat yang terbuka dan lucu, kenapa giliran bahas hal serius malah mendadak kaku dan sensitif?

Fenomena LGBT ini bukan cuma soal moral pribadi, tapi juga soal cara masyarakat menghadapi perubahan zaman. Banyumas sejak dulu terkenal egaliter, gak ada yang terlalu tinggi, gak ada yang terlalu rendah. Semua punya hak bicara, semua pantas dihargai. Jadi, kenapa sekarang empati terasa mahal? Kenapa diskusi diganti debat, dan nasihat berubah jadi hujatan?

Kita lupa bahwa dalam budaya Banyumas, kritik itu bukan buat nyalahna, tapi mbenerna.
Kritik itu bagian dari rasa sayang karena Wong Banyumas kalau care, pasti ngomong. Tapi ngomong yang bener, bukan nyerang.

Sekarang, mungkin waktunya “cablaka” naik kelas. Bukan cuma berani ngomong, tapi berani denger. Bukan cuma jujur, tapi juga empatik. Jangan cuma lantang di warung kopi atau status media sosial, tapi diam waktu diajak dialog terbuka. Banyumas itu rukun, tepa selira, dan mbanyoni suka guyon supaya suasana adem. Nilai-nilai ini justru bisa jadi jembatan buat ngobrol soal hal-hal sensitif kayak LGBT tanpa harus saling nyakitin.

Langkah MUI yang mau memperbanyak kegiatan taklim dan pengajian itu bagus, tapi akan lebih bermakna kalau dibarengi ruang diskusi lintas generasi. Ulama, akademisi, guru, anak muda, semuanya bisa duduk bareng, saling dengar, saling ngerti. Karena menjaga moral gak harus berarti menutup dialog. Dan memahami realitas sosial bukan berarti kehilangan iman.

Banyumas sebenarnya gak sedang kehilangan moral, cuma lagi belajar berdamai dengan zaman. Dunia berubah, tapi nilai-nilai baik tetep bisa dijaga. Pertanyaannya sekarang adalah: apakah kita masih mau mempertahankan “cablaka” sebagai kejujuran yang menyembuhkan, atau membiarkannya jadi kelantangan yang melukai?

Kalau Wong Banyumas bisa tetap jujur tapi berempati, religius tapi rasional, maka Banyumas akan tetap jadi tanah yang ngangeni, bukan cuma “ora ngapak ora kepenak”, tapi juga “ora mikir ora majeng.” Karena tanpa mikir, tanpa dialog, Banyumas bisa kehilangan hal yang paling berharga yaitu keberaniannya untuk bicara jujur dengan hati.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top