
Ungkapan “Ora ngapak ora kepenak” bukan sekadar lelucon khas masyarakat Banyumas. Di balik logatnya yang jenaka, tersimpan pernyataan identitas yang tegas bahwa masyarakat Banyumas memiliki kebanggaan terhadap bahasa dan budayanya sendiri. Bahasa Ngapak bukan hanya alat komunikasi, melainkan ruang hidup bagi nilai-nilai yang membentuk cara berpikir dan berinteraksi masyarakat dengan lingkungan sosial maupun alam sekitarnya. Dalam hal ini, bahasa dan literasi berpadu menjadi kekuatan budaya yang menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan kearifan lokal.
Bahasa daerah selalu menjadi cermin dari jati diri suatu masyarakat. Ia tumbuh dari pengalaman hidup, lingkungan, serta cara pandang kolektif terhadap dunia. Dalam kehidupan masyarakat Banyumas, Bahasa Ngapak tidak lahir dari ruang kosong. Ia menyerap semangat egaliter masyarakatnya yang terbuka, lugas, dan berani menyuarakan kebenaran tanpa basa-basi. Melalui logat yang khas, masyarakat Banyumas menegaskan kehadirannya dalam keragaman budaya Nusantara.
Selama itu, Bahasa Ngapak sering dianggap lucu atau “kasar” oleh sebagian orang di luar Banyumas. Padahal di balik gaya tutur yang lugas, tersimpan watak egaliter, terbuka, dan jujur, yang mencerminkan karakter masyarakat Banyumas. Keautentikan inilah yang membuat Bahasa Ngapak memiliki daya hidup yang kuat bahkan di tengah arus globalisasi dan dominasi bahasa baku. Ketika anak muda masih menggunakan logat Ngapak di media sosial, di panggung seni, atau dalam percakapan sehari-hari, pada saat itulah proses pelestarian budaya berlangsung, meskipun sering tanpa disadari.
Bahasa menjadi benteng terakhir kebudayaan. Ketika bahasa bertahan, nilai-nilai pun ikut lestari. Sebaliknya, ketika bahasa mulai ditinggalkan, maka perlahan-lahan hilang pula cara berpikir yang khas dari sebuah masyarakat. Karena itu, pelestarian Bahasa Ngapak bukan hanya upaya linguistik, tetapi juga bagian dari gerakan kebudayaan yang mempertahankan pandangan hidup masyarakat Banyumas. Dalam dunia pendidikan, misalnya, penggunaan Bahasa Ngapak dalam karya tulis, puisi, atau pertunjukan sastra lokal dapat menjadi media pembelajaran karakter yang membumikan nilai-nilai kejujuran dan keterbukaan khas Banyumas.
Namun mempertahankan bahasa tidak cukup hanya dengan menjaga logat atau kosakata. Lebih dari itu, hal tersebut berarti merawat cara berpikir dan sistem nilai yang tumbuh dari kehidupan masyarakat Banyumas. Di sinilah gerakan literasi berperan penting. Dalam beberapa tahun terakhir, geliat literasi di Banyumas semakin terasa dengan munculnya berbagai kelompok baca, forum penulis muda, dan kegiatan sastra di ruang publik. Aktivitas semacam ini bukan hanya memperkuat tradisi membaca dan menulis, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya bahasa lokal sebagai bagian dari identitas dan ekologi budaya.
Kehadiran komunitas literasi seperti forum diskusi budaya, kelas menulis kreatif, hingga festival sastra daerah menjadi ruang bagi masyarakat untuk meneguhkan kembali jati diri lokal. Melalui kegiatan tersebut, Bahasa Ngapak menemukan panggungnya sendiri: bukan hanya di pasar tradisional atau obrolan sehari-hari, tetapi juga di ruang intelektual yang terbuka bagi ekspresi dan refleksi budaya. Para penulis muda yang menulis puisi, cerpen, atau esai dengan nuansa lokal turut menghidupkan kembali memori kolektif tentang Banyumas yang kaya akan narasi dan tradisi.
Gerakan literasi di Banyumas memiliki nilai ekologis dalam arti yang lebih luas. Ia tidak hanya menjaga keberlanjutan teks atau bahasa, tetapi juga memelihara ekosistem budaya, yaitu hubungan antara manusia, bahasa, sejarah, dan lingkungan sosialnya. Setiap kali seseorang menulis puisi berbahasa Ngapak, membuat cerita rakyat dalam dialek lokal, atau menulis tentang kehidupan masyarakat di tepi Sungai Serayu, ia sedang menanam kembali akar-akar identitas yang membuat Banyumas tetap hidup dan berkarakter.
Dalam pandangan ekologis budaya, bahasa merupakan bagian dari ekosistem yang saling bergantung. Bahasa tidak hidup tanpa manusia, dan manusia kehilangan arah tanpa budaya yang membentuk identitasnya. Karena itu, pelestarian Bahasa Ngapak melalui kegiatan literasi dapat dipandang sebagai bentuk konservasi simbolik: menjaga “lingkungan kultural” agar tetap subur oleh kata, makna, dan nilai.
Di tengah perkembangan dunia digital, tantangan bagi bahasa daerah semakin besar. Arus globalisasi dan dominasi bahasa nasional sering menyingkirkan bahasa lokal dari ruang publik. Namun keberanian masyarakat Banyumas untuk menggunakan Bahasa Ngapak dalam karya sastra, media sosial, dan kegiatan literasi menjadi bentuk perlawanan halus terhadap penyamarataan budaya. Bahasa Ngapak hadir bukan hanya sebagai warisan masa lalu, tetapi sebagai bahasa yang relevan dan adaptif di masa kini, sebuah bentuk ekspresi modern yang tetap berakar pada nilai-nilai lokal.
Fenomena ini menunjukkan bahwa tradisi dan modernitas tidak selalu berseberangan. Melalui kreativitas digital, Bahasa Ngapak justru menemukan bentuk baru dalam meme, video pendek, maupun karya sastra daring. Generasi muda menjadi agen penting dalam proses ini, karena merekalah yang menjembatani antara warisan lokal dan dunia global. Ketika logat Banyumas muncul di platform digital tanpa rasa inferior, itu menandakan bahwa kebudayaan lokal masih memiliki daya tawar yang kuat di tengah modernitas.
Keterkaitan antara bahasa, budaya, dan literasi juga memiliki makna ekologis dalam tataran simbolik. Masyarakat Banyumas dikenal memiliki relasi yang erat dengan alam, dengan sawah, sungai, dan hutan sebagai sumber kehidupan. Dalam peribahasa, lagu, maupun ungkapan Ngapak, alam sering muncul sebagai metafora kehidupan. Ketika nilai-nilai tersebut dihidupkan kembali melalui tulisan, pembacaan karya, atau diskusi literasi, maka literasi menjadi media untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan lingkungan, sebuah ekologi budaya yang hidup melalui kata dan makna.
Gerakan literasi di Banyumas bukan hanya tentang membaca dan menulis, tetapi juga tentang “nguri-uri”, yakni merawat bahasa dan jati diri. Bahasa Ngapak adalah rumah yang menaungi seluruh pengalaman hidup masyarakat Banyumas, mulai dari tawa, kerja keras, kesederhanaan, hingga kebersamaan. Selama rumah itu masih dihuni, selama masih ada yang berbicara, menulis, dan berkarya dengan Bahasa Ngapak, maka budaya Banyumas akan tetap bernapas. Bahasa Ngapak dan gerakan literasi bukan dua entitas yang terpisah. Keduanya ibarat dua sisi daun yang tumbuh dari batang yang sama, akar kebudayaan Banyumas. Di tangan para pegiat literasi, di lidah anak muda yang dengan bangga berkata “ora ngapak ora kepenak”, serta di setiap karya yang berpijak pada identitas lokal, ekologi budaya Banyumas terus dirawat. Dari kata lahirlah karya, dari karya tumbuh gerakan, dan dari gerakan itu mengalir kehidupan bagi kebudayaan Banyumas.
Alviana Meilasari. Mahasiswi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman yang hobinya mencari info ngopi untuk menyalakan imajinasi, sekaligus memberi tenaga pada jiwa yang menepi. Berdomisili di Purwokerto Timur, Banyumas. Instagram: @alvmellaa_




