Dua Wajah Tembakau

Meskipun menjelang akhir tahun 2025 memasuki musim kemarau basah tidak menyurutkan nyali petani Selo -salah satu kecamatan di Boyolali- untuk menanam tembakau. Jawa Tengah merupakan provinsi urutan ke-3 penghasil tembakau terbanyak di Indonesia. Kabupaten Boyolali di Jawa Tengah termasuk wilayah penghasil tembakau yang menopang kebutuhan tembakau dalam negeri. Setidaknya ada 2 kecamatan di Boyolali yaitu Kecamatan Selo dan Cepogo yang merupakan penghasil tembakau terbanyak serta berkualitas. Selain angka-angka statistik yang besar di atas kertas, secara fakta dua kecamatan tersebut memang memiliki lahan pertanian dan perkebunan yang luas. Terletak di lereng antara Gunung Merbabu dan Merapi, para petani silih berganti menanam komoditas holtikultura (buah-sayuran) dan tembakau.

Tembakau dalam sejarah

Sudah puluhan atau mungkin ratusan tahun jika memasuki musim kemarau, daun-daun tembakau yang lebar menghiasi lahan pertanian di Selo dan Cepogo. Menggantikan tanaman sayuran dan buah. Menurut Ong Hok Ham (1987), tembakau masuk ke bumi Indonesia sejak awal abad 17. Menurutnya lagi, Kesultanan Mataram sejak era Sultan Agung dan Amangkurat I sudah akrab dengan komoditas tembakau. Dalam catatannya, memasuki abad 19 VOC juga melakukan penanaman besar-besaran terhadap komoditas yang memiliki julukan “Emas Hijau” ini.

Menyebarnya penanaman tembakau dari Jawa wilayah timur dan tengah hingga barat, menjadikan bumi Nusantara memiliki kekayaan alam yang mampu menghidupi masyarakatnya. Seperti kita ketahui, sektor yang terdampak dari hasil tembakau tidak hanya petani saja. Banyak pihak dari hulu hingga hilir yang menjadikan tembakau sebagai dasar mata pencahariannya.

Nyali petani tembakau

Awal September 2025, ramai diberitakan anjloknya pendapatan Gudang Garam (GG). Hal itu menjadikan alasan PHK ribuan karyawannya. Pabrik pengolah hasil tembakau merupakan sektor hilir. Apakah anjloknya pendapatan GG berdampak juga di sektor hulu, dalam hal ini adalah petani tembakau?

Nampaknya, mental petani tembakau yang sudah terlatih sejak puluhan dan ratusan tahun yang lalu tidak menjadikan nyali mereka ciut. Mereka sudah terlatih untuk menghadapi situasi alam, menghadapi gempuran narasi anti tembakau hingga harga jual tembakau kering -istilah untuk daun tembakau yang sudah dipanen lalu dijemur- yang ditentukan oleh pabrik.

Petani tembakau, termasuk yang di Selo, Boyolali sudah memahami, bahwasannya menanam tambakau, jika berhasil akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar. Bisa kita lihat jika menggunjungi Selo Boyolali, berderet rumah-rumah bagus dengan mobil terparkir di depannya adalah milik petani. Namun hal itu bukanlah hasil dari kerja santai. Mereka harus berjuangan sangat keras dan sangat gambling. Mereka paham bahwa menanam tembakau seperti memegang ingis. Dalam istilah lokal Selo, ingis adalah bambu muda yang dibelah sampai tipis dan tajam menyerupai pisau. Ingis biasanya digunakan untuk merobek saat membersihkan usus ayam, kambing atau sapi.

Analogi itu menggambarkan bahwa jika tidak hati-hati dan kuat, akan terluka sendiri.

Petani tembakau: antara ekonomi dan kesehatan

Kita ketahui bersama, bahwa “lawan” dari hasil tembakau adalah narasi kesehatan. Namun di satu sisi, komoditi ini telah menghasilkan peningkatan ekonomi dari berbagai lapisan kehidupan. Para anak petani tembakau bisa mengakses pendidikan lebih tinggi secara mandiri, banyak lapangan kerja terbukan di sektor hilir komoditas ini. Akhirnya negara menggunakan regulasi untuk menganturnya dalam bentuk cukai hasil tembakau. Karena antara kebutuhan ekonomi dan kesehatan merupakan dua hal yang dasar bagi kehidupan manusia.

Generasi yang lahir dan tumbuh di lingkungan pertanian tembakau, akan sangat kecil kemungkinan turut dalam narasi antitembakau. Hal yang sangat kecil kemungkinannya mereka akan melawan kultur yang telah membesarkan dirinya. Dimana kultur itu akhirnya menjadikannya sebuah budaya yang mengakar serta menjadi bingkai dalam kehidupan petani tembakau dan lingkungannya.

Memahami tembakau

Menengok dampak ekonomi dari tembakau, yang sudah berabad yang telah lewat hingga sekarang -meskipun tembakau bukanlah komoditas utama seperti padi, jagung dan buah-sayuran- agaknya kita perlu semakin jernih dalam memandangnya. Tembakau adalah simbolisasi dari hukum alam yang serbamendua. Bisa dimaknai sebagai penggerak ekonomi dan juga “penganggu” kesehatan menurut beberapa narasi anti tembakau.

Saat perkembangan tekonologi pertanian sekarang ini, serta berkebambangnya berbagai macam ilmu pengetahuan, tembakau sangat mungkin sekali mengalami penandaan baru. Hasil olahannya bisa menjadi bahan kosmetik, bahkan kebutuhan farmasi. Bukan hanya sebagai bahan untuk dibakar dan dihisap asapnya saja. Melalui perkembangan ilmu pengetahun, melalui tembakau, kita bisa menangkap pesan bahwa tidak mungkin Tuhan menumbuhkan tanaman yang mencelakai manusia. Dan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan itulah kita memandang tembakau tidak dengan diskriminasi dan sinisme, namun bisa melihatnya secara lebih luas, lebih jauh dan lebih dalam. Terutaman manfaatnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top