
Membungkam Imajinasi Sosial “Jadi Gus”
Guyonan santai tadi jika saya cermati ternyata menggiring pada cara pandang yang cukup serius. Pasalnya, di balik kalimat “jadi gus” muncul imajinasi sosial secara spontan bahwa pernikahan adalah jalan pintas memperoleh status yang lebih tinggi. Seakan-akan ada “tangga sosial” yang bisa dinaiki melalui relasi pernikahan, terutama ketika pasangan berasal dari keluarga kiai yang memiliki otoritas simbolik di lingkungan pesantren.
