Mozaik Kanon: Eksploitasi Kepercayaan, Manusia Beraroma, dan Bercakap Diri

Salam sejahtera untuk kita semua, warga dunia. Semoga kita senantiasa dalam lindungan dan rahmat-Nya serta mampu menekuni hidup dengan kondisi sehat lahir-batin dan penuh semangat. Selamat datang kembali pada rubrik Mozaik Kanon: catatan singkat semacam tanggapan atas tulisan fiksi di bilfest.id.

Pada momentum kali ini, Mozaik Kanon akan menghadirkan sekilas tanggapan atas tulisan fiksi yang sudah terbit pada minggu lalu. Ada tiga tulisan fiksi pada minggu lalu, tepatnya tanggal 30-31 Mei 2026. Dimulai dari cerpen berjudul “Menggantung Babi di Pohon” karya Liliyi Tirta Rasy asal Purbalingga. Selanjutnya butir-butir puisi karya Sindra Djauhari asal Surabaya yang terhimpun dalam “Surabaya Pulang Kerja dan Puisi Lainnya”. Kemudian tulisan puisi dari Miftah Fauzi Subagyo asal Bekasi yang terkumpul dalam “Monolog Bisu dan Puisi Lainnya”.

Eksploitasi Kepercayaan

Liliyi Tirta Rasy dengan cerpennya “Menggantung Babi di Pohon” seakan-akan atau mungkin sebenarnya mengajak pembaca untuk melihat rangkaian adegan mengeksploitasi kepercayaan untuk tujuan menghancurkan. Penulis tidak semata menghadirkan eksekusi penggantungan babi di pohon (dengan disertai penyiksaan perlahan terlebih dahulu). Secara eksplisit memang tampak dalam cerpen ini, ritual mengiming-imingi atau membujuk Babi dengan sebatang coklat yang sebelumnya lebih dulu dengan sepotong daging busuk, kemudian mengikat lehernya yang kemudian menggantungnya di pohon dan berujung mati.

Praktik demikian menggambarkan tentang relasi kuasa yang berupa, memberi kemudian menjinakkan lantas membunuh. Babi di sini adalah simbol atas orang awam yang dipermainkan oleh pemberi hadiah atau penguasa. Dengan memberikan hadiah atau bantuan-bantuan lainnya atau yang gratisan kepada orang awam (rakyat), penguasa akan mudah membuat mereka tunduk dan patuh dengan apa yang jadi keinginan penguasa tersebut. Rakyat dibuat kepalang percaya dengan iming-iming hadiah, bantuan, dan gratisan lainnya. Namun setelah rakyat percaya, barulah kemudian penguasa menampakkan wajah garangnya dengan diam-diam mencekik rakyatnya (dengan artian memiskinkan dan mempersulit dll).

Seorang filsuf, Albert Camus pernah berkata “Kesejahteraan rakyat selalu menjadi alasan yang dipakai oleh para tiran”. Sebatang coklat bisa diartikan juga sebagai kesejahteraan rakyat atau kemaslahatan umat atau hal heroik lainnya yang digunakan oleh penguasa yang tiran, otoriter, atau nakal untuk mengelabui rakyat, melakukan tindak manipulatif, dan untuk menutupi hasrat berkuasa serta kepentingan pribadi atau kelompok. Penguasa mengambil kebebasan rakyatnya dengan kedok program-program gratisan. Seolah-olah memberi namun justru menjerumuskan ke palung keterpurukan. 

Manusia Beraroma

Selanjutnya, kita membaca “Surabaya Pulang Kerja dan Puisi Lainnya” karya Sindra Djauhari. Penulis menampilkan lanskap kota Surabaya khususnya dan mungkin kota-kota besar pada umumnya, mengenai orang-orang kota yang terjebak macet jalan. Pekerja-pekerja di kota mau tidak mau harus berdamai dengan kemacetan dan bising kendaraan. Di kota memanglah begitu rutinitasnya, dari hari ke hari. // di macet yang sepi / hatimu bersiap / berangkat lagi esok pagi //. 

Tak hanya menghadirkan siklus kehidupan orang-orang kota saja, penulis juga menampilkan kritik dan candaan (mungkin lebih tepatnya) kepada penyair. Penulis menyebut adanya penyair yang murung dan penyair yang beraroma. Dengan medium TPS Keputih dan TPA Benowo, penulis menggambarkan kepenyairan seorang penyair. TPA Benowo menggambarkan penyair yang tak patah arang, // menggembleng puisinya / supaya tak lembek / menantang sengsara, / lalu mengolahnya / jadi penyair / yang beraroma //. Sedang TPS Keputih merupakan representasi penyair yang ketakutan akut jika karyanya tidak disukai oleh pembaca atau ketika mendapat saran dan kritikan seketika membuat penyair murung, // melatih puisinya / supaya tak tutup hidung / di depan pemulung, / lalu memuntahkannya / jadi penyair / yang murung //.

Dalam berkarya alangkah baiknya sebagaimana yang penulis sampaikan, yakni beraroma. Uraian tadi di atas juga bisa diartikan sebagai cara manusia dalam menanggapi sebuah cobaan atau ujian. Barang tentu ujian dalam hidup pasti ada. Namun yang terpenting adalah cara kita merespon ujian tersebut. Apakah semata diartikan sebagai kegagalan atau sebuah proses belajar? Kepahitan hidup bisa berbuah manis jika kita pandai-pandai menemukan makna dari sebuah kejadian. Kita bisa tentukan sendiri mau harum mewangi meski dalam ujian atau terus murung dalam ujian.

Bercakap Diri

Kemudian kita beranjak ke “Monolog Bisu dan Puisi Lainnya” karya Miftah Fauzi Subagyo. Membaca kumpulan puisi ini adalah semacam menunaikan kerja refleksi diri. Penulis menampakkan aku lirik yang sedang mencoba mengeja dirinya sendiri. Melaluis puisi berjudul “Monolog Bisu” aku lirik berkaca dan menatap sosok yang ada dalam cermin yang tak lain adalah dirinya sendiri. Aku lirik melihat dirinya di dalam cermin seperti seorang yang hidup tanpa arah, bingung, dan acap merasa hampa. // berisi tatapan kosong / bak kapal tanpa nahkoda //.

Aku lirik sengaja mempertanyakan dirinya dan coba memberikan makna pada dirinya. Kedirian aku lirik yang tampak dalam cermin tampak // Sosoknya begitu lemah / Hilang arah dan tak punya kendali //. Kami membaca fenomena mempertanyakan ke diri sendiri atau bercakap dengan diri sendiri adalah ritual Upaya menemukan kebermaknaan dalam hidupnya. Boleh dibilang (dengan setengah kelakar), aku lirik ini sedang dalam fase menjadi filsuf. Ahay.

Tapi memanglah boleh dibilang penting upaya bercakap dengan diri sendiri. Setidaknya dengan melakukan permenungan dan bercakap dengan diri diri sendiri, orang akan lebih mengenal dirinya sendiri. Dengan kita bisa kenal lebih dekat dengan diri kita sendiri, kita akan mudah dalam melangsungkan kehidupan kita sendiri. Menjadi tampak, apa apa yang jadi tujuan kita, mimpi kita, dan target kita, dll. Tak hanya itu dengan kita mengenal diri sendiri kita juga bisa mengenal Sang Pencipta, sebagaimana ada ujar-ujar yang teramat familiar: Man ‘arofa nafsah ‘arofa Rabbah.  

Tabik,
Tim Redaksi

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top