Inkubasi Penulis: Renungan dari Hari Pertama Banyumas International Literacy Festival

Pada hari Kamis, 12 Juni 2025. Banyumas International Literacy Festival (BILFest) memulai langkah pertamanya tahun ini, bukan dengan gemuruh panggung atau tepuk tangan panjang, melainkan dengan sebuah sesi hening namun dalam: inkubasi penulis.

Tiga narasumber hadir yaitu Iman Santosa ( Direktur Kemenparekraf), Rahmi Wijayanti (CEO Omera Pustaka), dan Heru Kurniawan (Penulis Buku). Masing-masing bukan hanya berbagi pengalaman, tapi permenungan panjang tentang dunia kepenulisan di tengah zaman yang berubah cepat.

Iman Santosa memulai pagi itu dengan mengajak peserta menengok ulang ke dalam: “Menulis itu bukan hanya mencipta kata, tapi mencipta nilai yang bisa diwariskan.” Ia bicara tentang Intellectual Property (IP) — bukan sebagai istilah teknokratis belaka, tapi sebagai ruang hak dan marwah bagi para pencipta. Di tengah derasnya arus konten yang dibagikan tanpa batas, Iman mengingatkan: siapa yang mencipta, punya hak untuk dilindungi. Dan siapa yang membaca, punya tanggung jawab untuk menghormati. Di situ, menulis bukan sekadar kegiatan bebas, tetapi juga tindakan bermartabat.

Lalu Rahmi Wijayanti, dengan kelembutan dan ketegasan suara khas CEO Omera Pustaka yang telah banyak melahirkan penulis-penulis muda, mengajak peserta berpikir ke depan: ke masa depan buku. “Buku tidak akan mati,” katanya pelan, “yang berubah adalah cara ia dibaca dan dicintai.” Ia memaparkan lanskap digital, perubahan cara baca generasi Z dan Alpha, serta keniscayaan bagi penulis untuk merangkul hibriditas: menulis untuk layar dan halaman, untuk telinga dan mata. Buku, dalam pandangannya, akan hidup selama ia menemukan bentuk baru dari semangat lama: menyampaikan makna.

Sementara itu Heru Kurniawan berbagi tentang tentang bagaimana menulis adalah cara mengikat kenangan agar tak hilang dibawa waktu.

Hari pertama BILFest tidak ramai oleh teriakan atau sensasi. Dan mungkin dari sinilah nanti lahir para penulis yang tahu bahwa menulis bukan hanya soal menjadi terkenal, tapi soal menjadi berarti.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top