
Pertanyaan “bagaimana membangun sebuah tim yang tidak dibayar?” adalah pertanyaan yang keliru. Karena sejak awal, ia memakai paradigma transaksional dalam membangun relasi. Itu seperti bertanya, “apa untungnya mencintai?”—seolah segala sesuatu harus ditimbang dengan neraca keuntungan.
Padahal, kalau kita masih bertanya “apa untungnya?”, kita belum layak bicara tentang pengabdian, gagasan, dan literasi. Kita masih berkutat dalam logika pasar, bukan dalam logika peradaban.
Di Banyumas International Literacy Festival (BIL Fest), tidak ada yang “tidak dibayar”. Justru sebaliknya: semua dibayar dengan sesuatu yang tak ternilai. Apa itu? Kesadaran. Kesadaran bahwa bergerak bersama untuk memperluas cakrawala pikir adalah bayaran tertinggi dalam kerja literasi.
Panitia dan relawan BILFest bukan bekerja karena upah. Mereka bekerja karena paham. Paham bahwa literasi bukan proyek. Literasi adalah perlawanan sunyi terhadap kebodohan yang dilembagakan. Mereka tidak bekerja demi gelar atau gaji, tapi karena keyakinan: bahwa ide harus diperjuangkan, bukan diperdagangkan.
Ketika kamu tanya, “apa yang saya dapat kalau bergabung?”, kami jawab: kamu akan kehilangan ilusi tentang kemapanan. Tapi kamu akan memperoleh yang lebih radikal: makna.
Makna bahwa membangun festival literasi bukan soal acara. Ini soal menjahit benang-benang pengetahuan yang tercerai-berai. Ini soal menjadikan Banyumas bukan sekadar titik di peta, tapi pusat kesadaran kultural. Sebuah tempat di mana buku dibaca bukan karena tugas, tapi karena cinta.
Seperti halnya para ustadz, kiyai, pendeta, dan para guru spiritual membicarakan pahala bukan sebagai hadiah instan, melainkan sebagai buah dari pemahaman yang mendalam, kami pun membicarakan benefit bukan dalam bentuk materi, tapi dalam bentuk perubahan diri.
Jadi, membangun tim “tidak dibayar” hanya mungkin jika kita menyepakati ulang arti dari “bayaran”. Bukan angka. Tapi nilai. Bukan upah. Tapi makna. Bukan imbalan. Tapi jejak.
Karena hanya orang-orang dengan akal sehat yang bersedia bekerja tanpa dibayar—demi sesuatu yang lebih tinggi dari dirinya sendiri: ide, iman, dan literasi.
Penulis dan penggerak literasi dari Banyumas. Ia aktif menginisiasi forum baca dan diskusi sastra. Karya-karyanya mencerminkan kepedulian sosial dan lingkungan. Melalui puisi dan esai, ia menjadikan literasi sebagai ruang perjumpaan, pembebasan, dan pemberdayaan masyarakat secara inklusif.




