Buku, Bukan Sekadar Benda: Ketika Pemuda Pemudi Membaca Masa Depan

Di sebuah sudut waktu yang tak pernah masuk headline, sekelompok pemuda dan pemudi berkumpul. Bukan untuk mendeklarasikan ambisi politik, bukan pula merancang start-up dengan valuasi khayalan. Mereka hanya menyiapkan buku. Ya, buku. Benda yang tak lagi dianggap seksi di zaman scroll tanpa henti ini.

Mereka adalah panitia Banyumas International Literacy Festival (BILFest). Usianya muda, pikirannya merdeka, dan semangatnya bukan berasal dari undangan kekuasaan, tapi dari panggilan kesadaran. Mereka tahu, membicarakan literasi hari ini terdengar seperti nostalgia. Tapi mereka memilih bertahan, bukan karena tren, tapi karena waras.

Mereka tidak sedang memburu nama besar. Tidak sibuk mengurus citra. Mereka bahkan tidak sedang ingin “mengubah dunia”, karena mereka tahu, kalimat itu terlalu sering diucapkan tanpa berpikir. Mereka hanya ingin satu hal yang sederhana tapi mendasar: membangun ekosistem kreatif yang literatif. Sebuah ruang agar teman sebayanya bisa tumbuh dengan keberanian berpikir, dan generasi setelahnya bisa tumbuh dengan kemampuan bertanya.

Mereka memilah buku bukan karena tebalnya, tapi karena isinya. Mereka menata rak bukan sebagai hiasan, tapi sebagai ajakan. Setiap halaman yang mereka susun adalah tanda bahwa akal sehat masih punya rumah di Banyumas.

Dan mungkin justru karena mereka tidak bercita-cita tinggi, maka mereka layak dipercaya. Sebab dalam politik kekuasaan, cita-cita seringkali dipamerkan. Tapi dalam dunia ide, cita-cita justru dijalankan dalam diam. Dalam kerja. Dalam kegigihan yang tak perlu viral.

Para pemuda pemudi BILFest sedang menyiapkan buku. Tapi yang sebenarnya mereka siapkan adalah kemungkinan: bahwa di tengah zaman yang bising, masih ada anak-anak muda yang lebih memilih membaca daripada meniru, berpikir daripada ikut-ikutan, dan berkarya daripada berlomba jadi konten.

Mereka tidak sedang menulis sejarah. Mereka sedang menciptakan masa depan—tanpa sorotan, tanpa pujian, tapi dengan keyakinan: bahwa literasi adalah perlawanan paling halus, dan kreativitas adalah bentuk kemerdekaan paling keras.

Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Buku, Bukan Sekedar Benda: Ketika Pemuda Pemudi Membaca Masa Depan”, Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/amroni/6826e82cc925c417c21a6342/buku-bukan-sekedar-benda-ketika-pemuda-pemudi-membaca-masa-depan

Kreator: Neo Amroni

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top