BIL Fest: Kenapa Muhidin?

Kita hidup di republik yang bangga pada buku, tapi alergi pada pembaca. Negara mengangkat literasi sebagai jargon seolah-olah negara benar-benar hadir, tapi cobalah bertanya pada penggerak literasi di Banyumas, apa jawaban mereka.

Di tengah republik yang gamang terhadap pemikiran, yang sedang sibuk mengubah sejarah sesuai permintaan penguasa saat ini, berdirilah satu nama yang konsisten menjadi kutu buku subversif dan masih hidup di negeri Indonesia ialah Muhidin M. Dahlan.

Ia tidak menulis untuk menyenangkan dan mengenyangkan. Ia menulis untuk menggugat ingatan. Di tangannya, sejarah bukan catatan nostalgia tapi arena perlawanan intelektual. Buku-buku yang ia kurasi dan arsipkan bukan sekadar benda mati, melainkan peluru ide. Siapa yang hendak ia lawan, maka berhati-hatilah.

Sebuah kebetulan Muhidin M Dahlan akan hadir di BIL Fest dengan titik pertemuan di Heterospace Purwokerto. Bangunan yang kini bernama Heterospace memiliki dimensi sejarah, yang mana salah satu kamarnya sebagai tempat istirahat Presiden Soekarno. Lokasi yang tepat dan sakral untuk memikirkan ulang ide republik.

Mungkinkah, ketika Banyumas International Literacy Festival mengundang Muhidin ke Purwokerto, itu bukan sekadar acara, melainkan provokasi intelektual. Sebagai panggilan bagi kita semua untuk membuka kembali buku-buku yang dibakar, kata-kata yang dibungkam, dan nama-nama yang disamarkan.

Muhidin M Dahlan adalah simbol literasi independen bukan simbol literasi sebagai alat otoritarianisme. Bukan karena ia banyak menulis. Tapi karena dia tidak tunduk pada industri pengetahuan. Ia mendirikan Indonesia Buku, bukan toko, tapi titik perlawanan sunyi. Ia merawat arsip seperti merawat luka sejarah dengan sabar, dengan cinta, dan dengan ketegangan ide.

Diskusi bersama Muhidin M Dahlan bukan hanya penting tapi mendesak. Kita butuh kembali percaya bahwa membaca adalah tindakan politik, bahwa menulis adalah cara paling sopan untuk memberontak, dan bahwa buku bukan tempat berlindung, tapi medan laga bagi republik yang berpikir.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top