Halte Secang dan Tragedi Manusia Kecil: Sebuah Refleksi dari Tulisan Manunggal K Wardaya

Cerita perjalanan BIL Fest kali ini tidak sengaja dipertemukan dengan nama Manunggal K Wardaya, seorang dosen dan pengarsip, terpantau jelas dari tulisannya di buku Nada Tjerita maupun ruang tamu tempat kami mengobrol. Kami mengobrol panjang lebar, hingga tak sengaja sampai pada cerita tentang halte kereta secang. Singkat cerita setelah pulang, beliau mengirimkan tautan tulisan. Pada kesempatan kali ini saya ingin merespon tulisan tersebut yang berjudul Perihal Halte Secang dan Kisah Tentang Seorang Tukang Roti Yang Malang. Mari kita mulai, ketika kita membaca kisah Halte Secang dan tukang roti malang yang mati

Read More »
Tim BIL FEST 2025 berdiskusi dengan Eric

Eric AADC Dukung BIL FEST 2025

Eric AADC Dukung BIL FEST 2025 Wakil Ketua DPRD Kabupaten Banyumas, Muhammad Erlangga Adi Nughraha, atau sapaan akrabnya Mas Eric, mendukung mimpi generasi muda Banyumas. Mereka tergabung dalam Banyumas Internasional Literasi Festival yang akan di helat pada tanggal 12-18 Juni 2025 di Hetero Space Purwokerto. Mas Eric yang merupakan seorang penyanyi lagu “Ada Apa Dengan Cinta” dengan Melly Goeslaw, yang kini menjadi anggota dewan periode kedua ini, mendukung apapun yang berkaitan dengan kebudayaan, kreatifitas dan literasi. Apalagi yang dilakukan oleh anak-anak muda di Kabupaten Banyumas. “Kami akan dukung BIL FEST

Read More »

Buku, Bukan Sekadar Benda: Ketika Pemuda Pemudi Membaca Masa Depan

Di sebuah sudut waktu yang tak pernah masuk headline, sekelompok pemuda dan pemudi berkumpul. Bukan untuk mendeklarasikan ambisi politik, bukan pula merancang start-up dengan valuasi khayalan. Mereka hanya menyiapkan buku. Ya, buku. Benda yang tak lagi dianggap seksi di zaman scroll tanpa henti ini. Mereka adalah panitia Banyumas International Literacy Festival (BILFest). Usianya muda, pikirannya merdeka, dan semangatnya bukan berasal dari undangan kekuasaan, tapi dari panggilan kesadaran. Mereka tahu, membicarakan literasi hari ini terdengar seperti nostalgia. Tapi mereka memilih bertahan, bukan karena tren, tapi karena waras. Mereka tidak sedang memburu

Read More »

Membaca sebagai Perlawanan, Berkarya sebagai Kemerdekaan: Ketika BILFest Bertemu Rektor UMP

Di sebuah ruang yang tak hanya diisi meja dan kursi, tapi juga ide dan keberanian, panitia Banyumas International Literacy Festival (BILFest) duduk berhadapan dengan Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Tapi ini bukan pertemuan administratif. Ini adalah konfrontasi intelektual—dalam makna terbaiknya: membuka ruang kolaborasi demi satu perkara besar yang selama ini kerap dilupakan negara—literasi. Dalam suasana yang akrab tapi sarat gagasan, tak dibicarakan proyek, tak dirancang anggaran. Yang dibahas adalah kemungkinan. Tentang bagaimana sebuah universitas, sebagai benteng terakhir akal sehat, bisa bergandeng dengan sebuah festival, yang berangkat dari keresahan, bukan kekuasaan. BILFest

Read More »
Scroll to Top