
Buku bukanlah sekadar tumpukan kertas berisi huruf, tapi medan tempat gagasan berdenyut. Dalam buku “Dari Ekologi Manusia ke Ekologi Politik”, Prof. Oekan S. Abdoellah mengajak kita menyusuri jalan panjang pemahaman manusia atas lingkungan—bukan sekadar sebagai ruang tinggal yang netral, melainkan sebagai arena penuh tafsir, kuasa, dan pertarungan narasi. Di sini, ekologi tak hanya bicara pohon dan sungai, tetapi juga kekuasaan, dominasi, dan politik representasi. Ia menjadi jendela untuk melihat manusia dalam lanskap yang terus bergolak, baik secara fisik maupun simbolik.
Ekologi manusia, sebagaimana dijabarkan dalam buku ini, merupakan bagian dari ilmu sosial yang menelaah bagaimana manusia dan lingkungan saling terhubung secara sistemik. Namun, Abdoellah tak berhenti di sana. Ia bergerak lebih jauh, menyadari bahwa pendekatan ekologi manusia yang lama terkesan terlalu lunak: seolah hubungan manusia dan alam itu semata-mata hubungan biologis yang netral dari konflik. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa eksploitasi lingkungan kerap merupakan hasil dari struktur sosial, ekonomi, dan politik yang seringkali terkandung di dalamnya kepentingan segelintir elit bahkan oligarki.
Dari situlah, transisi menuju ekologi politik menjadi sangat penting. Abdoellah menunjukkan bahwa untuk memahami krisis lingkungan hari ini, tak cukup hanya bicara soal daur ulang, konservasi, atau pelestarian. Kita perlu lebih tajam lagi sampai pada siapa yang menentukan ruang, siapa yang mengatur distribusi sumber daya, dan siapa yang paling terdampak dari kerusakan ekologi. Di sinilah ekologi menjadi politik—bukan dalam pengertian sempit perebutan kursi kekuasaan, tetapi dalam makna yang lebih dalam, namun bagaimana kekuasaan bekerja dalam tubuh bumi, air, dan udara.
Bahasa Abdoellah dalam buku ini lebih akademis, diperuntukkan untuk para akademisi, namun bukan berarti tertutup bagi pembaca umum. Ia menawarkan argumen dengan fondasi teori yang kukuh, namun tetap memberi ruang bagi refleksi dari semua kalangan. Ia tidak memaksakan diri menjadi kerangka bahasan populer, karena memang disusun dengan kerangka akademik.
Pembaca diajak bukan sekadar membaca, tapi merenung, mengendapkan ulang gagasan yang sering kali kita terima secara taken for granted: “bahwa manusia itu pusat dari segalanya (antroposentrisme), dan lingkungan adalah pelengkap pasif semata” yang berimplikasi pada nafsu mengeksploitasi alam berujung mewariskan kerusakan alam.
Apa yang menarik dari buku ini bukan hanya isinya, tetapi cara ia menyusun jembatan antara ekologi manusia terkoneksi dengan ekologi politik. Ekologi politik di sini bukan sekadar konsep, melainkan alat untuk membaca realitas. Ia menawarkan pisau bedah bagi kita yang ingin memahami mengapa ruang hidup masyarakat adat sering tergerus oleh Proyek (Sialan)-Strategis Nasional (PSN) dengan sesumbar pembanguan berkelanjutan, mengapa masyarakat miskin lebih rentan terhadap bencana alam, dan mengapa suara-suara yang menuntut keadilan ekologis sering kali dibungkam oleh logika industri kuasa oligarki. Buku ini, dengan kata lain, adalah manifesto keadilan lingkungan sudah barang tentu dikawal oleh manusia itu sendiri melalui jalan peta politik.
Abdoellah Ia tidak menampilkan diri sebagai pemilik kebenaran tunggal, melainkan sebagai seorang perumus yang terus mengolah. Dalam hal ini, buku ini menjadi langkah penting bagaimana kaum intelektual bisa hadir dengan gagasan nan tegas, dengan frame kajian akademik namun tetap membuka ruang diskusi pengembangan.
Jika ada yang bisa dikritik dari buku ini, mungkin adalah keterbatasannya dalam memberi contoh konkret dari konteks Indonesia secara mendalam. Sebagian besar pembahasan masih berada pada tataran teoritis dan konseptual, dan barangkali ini disengaja—sebuah langkah awal sebelum pembaca diajak masuk lebih dalam ke ruang praksis. Namun, justru karena itu, buku ini sangat potensial untuk dikembangkan lebih lanjut: menjadi bahan ajar, bahan diskusi komunitas, atau pijakan bagi kebijakan publik mengarah kepada keadilan lingkungan hidup.
Sebagai penutup, buku “Dari Ekologi Manusia ke Ekologi Politik” bukan sekadar membahas persoalan lingkungan, melainkan juga menyingkap relasi kuasa, etika eksistensi, serta tawaran pembacaan ulang atas posisi manusia dalam mengelola alam semesta. Di tengah derasnya pola hidup yang ekstraktif, eksploitatif, dan konsumtif yang memicu eksploitasi sumber daya alam dan kerusakan ekologis yang kian meluas. Buku ini hadir sebagai kerangka berpikir dan bertindak yang mengingatkan, menuntun, sekaligus mengajak manusia untuk mengelola bumi secara bijak, baik di masa kini maupun di masa depan.
Dalam kesadaran ekologis, terkandung panggilan mendesak untuk mengubah bukan hanya cara kita memperlakukan alam, tetapi juga cara kita bertarung dan bernegosiasi dengan kekuatan politik. Ekologi politik menuntut peran aktif manusia dalam membentuk relasi kuasa yang adil dan berkelanjutan—karena perubahan sejati hanya dapat terjadi ketika kita turut merebut kendali atas arah kebijakan yang menyangkut masa depan bumi dan kehidupan di dalamnya.
Spesifikasi Buku:
• Judul : Dari Ekologi Manusia ke Ekologi Politik
• Penulis : Oekan S. Abdoellah
• Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
• Tahun Terbit : 2020
• Jumlah Halaman : Sekitar 230 halaman
• Bahasa : Indonesia
• Deskripsi Fisik : 21 x 14 cm
• ISBN : 978-602-06-3810-2

Alvin Qodri Lazuardy, sedang berproses menjadi pendidik, penulis, dan penggerak literasi Islam-lingkungan. Ia berfokus pada kajian worldview Islam, filsafat pendidikan Islam, ekoliterasi, dan kepesantren. Aktif menulis di bilfest.id, suaramuhammadiyah.com, pwmjateng.com, Ibtimes.id serta mengelola Alfuwisdom Publishing di Yogyakarta.




