
Siapa sih yang peduli dengan tukang cukur atau barber? Toh kebanyakan dari kita sebagai pelanggan hanya perlu datang, antri, duduk untuk dicukur, kemudian bayar, dan pulang. Hal umum yang dilakukan banyak orang ketika mendatanginya. Tanpa memikirkan seberapa sulit profesi ini karena membutuhkan kemampuan seni yang tidak sederhana. Saya memahami hal ini sewaktu berkesempatan untuk mengobrol santai dengan tukang cukur langganan saya di desa, setelah beberapa tahun saya tidak mendatanginya karena merantau ke kota.
Di tengah obrolan, si barber bercerita tentang beberapa pelanggan yang kerap kali protes karena tarif cukurnya yang naik, bahkan tak sedikit dari mereka yang enggan mendatanginya kembali. Meski demikian, si barber enggan untuk pindah dari desa. Padahal, barber ini sudah cukup terkenal di lingkungan sekitarnya. Bayangkan saja, dia pernah menjadi salah satu juri lomba cukur rambut tingkat nasional barsama tokoh terkenal seperti Haijoel barber. Namun, fakta tersebut tidak menarik bagi masyarakat desa, mereka masih menggerutu dengan tarif dua puluh ribu yang dipatok si barber, padalah koleganya di kota justru menertawakan tarif tersebut.
Hal ini mengingatkan saya dengan nasihat Dr. Fahrudin Faiz, dosen filsafat UIN Sunan Kalijaga yang pernah mengatakan bahwa “ikan tidak boleh lebih besar dari aquariumnya”.
Pepatah ini disampaikan saat beliau menyinggung tentang orang yang memiliki potensi besar namun dihadapkan dengan lingkungan yang tidak mampu mendukungnya. Setidaknya, dalam pepatah tersebut bermuara pada dua pilihan. Ikan besar yang mampu menyesuaikan dengan luas aquariumnya atau pilihan paling mudahnya adalah mengganti aquariumnya yang lebih besar. Menilik kembali situasi si barber yang seolah tetap memilih pilihan pertama, menjadikan saya untuk memikirkan bagaimana caranya dia bisa lebih dihargai sesuai dengan bakatnya dengan kondisi sosial budaya yang ada di desa?
Menurut teori sosial Pierre Bourdieu, ada tiga konsep penting: habitus (pola pikir), modal, dan arena sosial (field). Masalah si barber ini bisa dijelaskan lewat ketiga konsep itu. Di desa, keterampilan seni cukur rambut belum dianggap sebagai modal budaya yang bernilai. Orang lebih menghargai kemampuan praktis seperti bertani. Meski si barber punya koneksi hebat, namun belum cukup untuk membuat seni cukurnya diapresiasi. Lalu, desa sebagai arena sosial lebih mengutamakan kontribusi yang bisa dirasakan oleh komunitas. Sedangkan jasa barber bersifat individual, sehingga dianggap tidak punya nilai kolektif. Akibatnya, habitus atau pola pikir masyarakat desa menganggap seni cukur tidak relevan dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, masalah ini masih bisa diatasi. Kuncinya ada di strategi meningkatkan modal, arena sosial, dan habitus masyarakat. Dia bisa mulai dengan memperluas jaringan sosial, misalnya bekerja sama dengan komunitas seni lokal atau organisasi pemuda di desa. Hal ini juga dibarengi dengan membangun hubungan baik dengan pemerintah desa supaya profesi barbernya bisa diakui secara resmi dan simbolis.
Setelah berhasil dalam modal sosialnya, langkah selanjutnya adalah mengubah arena sosial. Misalnya, membuat kerja sama dengan pemerintah desa untuk menyediakan tempat cukur yang nyaman dan kekinian. Hal ini bisa meningkatkan pengalaman pelanggan dan mengubah pandangan masyarakat desa terhadap profesi barber yang cenderung dianggap “ya seperti itu saja”.
Jika beberapa langkah tersebut sudah berhasil dijalankan, habitus masyarakat desa pun akan berubah dengan sendirinya. Sehingga, profesi barber perlahan dapat dilihat setara dengan jasa kecantikan atau perawatan wajah yang harganya jauh lebih mahal. Sehingga, hal ini menjadikan pepatah tentang “ikan dan aquarium” tidak lagi menjadi batasan yang kaku. Nyatanya, dengan pendekatan sosial Bourdieu, mampu menjadi jembatan polemik dalam menyetarakan budaya dan ekonomi. Dalam hal ini, si barber tidak perlu melakukan dekadensi terhadap seni cukurnya, justru perlahan, masyarakat desa akan memiliki sudut pandang baru dan menyesuaikan dengan dirinya.

Gilang Inggit Maulana. Ia seorang pendidik yang menyukai sastra, seni dan bola. Dapat disapa melalui Instagram miliknya glnginggit_ atau di X @glnginggit__




