
Gerak tangan yang luwes, kaki yang kokoh dan wajah yang tenang. Itulah penggambaran wajah Baltazar Oka Reskir, salah satu penari yang menari selama 24 jam di perhelatan Banyumas Ngibing 24 Jam Menari. Saat gong ditabuh di Pendopo Adipati Mrapat Banyumas pagi itu, Sabtu 2 April 2026, ia menjadi manusia yang hidup dalam tarian.
Oka, sapaan akrabnya, lahir dan tumbuh sebagai orang kota -yang sangat punya kompleksitas dan percampuran budaya masyarakatnya. Tempat ia tumbuh, adalah kehidupan yang bercampur antara Betawi, Arab, Cina dan Jawa, yaitu Tangerang. Tentu tempatnya tumbuh dari segi modernitas jauh lebih cepat dari daerah yang lain. Namun, modernitas itu tak langsung menjadikan keluarga besarnya bisa langsung memahami dan menerima, termasuk orang tuanya, “Kenapa menjadi penari?”
Setelah mengikuti gerak tarinya yang mengeksplorasi dari panggung Pendopo Adipati Mrapat, Tamansari hingga Mruyung, kami membawanya agak menjauh dari kerumunan panggung Mruyung. Kami berbincang dengan latar lukisan panjang yang dikerjakan perupa dari IPB (Ikatan Pelukis Banyumas). Dengan tetap tersenyum -meskipun cuaca tiba-tiba terik, karena siang tadi sempat hujan, di perempatan Mruyung depan lukisan perupa IPB ia membuka banyak hal kepada kami. Ia harus menjaga mood, supaya bisa menuntaskan apa yang ia mulai jam 6 pagi tadi.
Stigma Penari Laki-laki dan Filosofi Diri
Oka ingin mencoba untuk merubah stigma itu, tetapi ternyata memang tidak bisa. Sampai sekarang pun, itu pasti akan tetap ada, khususnya untuk para lelaki yang menari. Awalnya ia menanggapi pertanyaan-pertanyaan dan stigma bahwa lelaki yang menari itu tidak lazim atau tidak umum.
“Ia pernah berusaha untuk membuktikan seperti, ‘laki-laki yang menari enggak kayak gitu, bisa kok nari gagah’”. Tetapi seiring berjalannya waktu, ia memilih untuk tidak susah payah membuktikan.
Baginya benar kata pepatah; “Kita tuh cuma punya dua tangan yang akhirnya kita enggak bisa menutup semua mulut orang, tetapi itu kita cuma bisa menutup kuping kita sendiri.”
Menemukan Jati Diri Lewat Tari
Keputusan untuk menyelami dunia seni tari bukanlah sekadar pilihan akademis bagi Oka. Baginya, menjadi penari adalah penemuan jati diri. Sejak menginjakkan kaki di bangku perkuliahan seni, ia menyadari bahwa gerak tari telah mendarah daging dan menjadi napas dalam hidupnya. Baginya, kemampuan menari bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan sebuah anugerah Tuhan sekaligus bakat alamiah yang harus terus diasah, meskipun dalam dunia seni, ia mengawali sebagai seorang penyanyi.
Eksistensi tari dalam hidupnya berperan sebagai motor penggerak yang mampu “menghidupkan” sisi lain dari kemanusiaannya. Melalui seni tradisi inilah, ia berhasil melampaui batas-batas geografis yang sebelumnya tak terbayangkan. Ia menegaskan bahwa tanpa menari, langkah kakinya mungkin tidak akan pernah sampai ke Banyumas, menjelajahi berbagai kota besar, hingga menyeberangi samudera ke mancanegara.
Prestasi internasional terbarunya tercatat saat ia bertandang ke Istanbul, Turki, untuk berpartisipasi dalam festival folklore bergengsi. Di luar pencapaian global tersebut, ia tetap aktif melanglang buana ke berbagai daerah di tanah air untuk terus memperkenalkan seninya.
Pada akhirnya, tari bukan hanya sekadar hobi atau profesi, melainkan sarana utama baginya untuk menopang kehidupan sekaligus memperluas cakrawala dunia.
Pandangan Orang Tua dan Profesionalisme
Terkait upaya mengubah stigma negatif masyarakat terhadap profesi penari, Oka mengaku tidak ingin terlalu ambil pusing. Baginya, mengubah pandangan orang lain adalah hal yang mustahil. Ia lebih memilih fokus pada prinsip bahwa selama aktivitas yang ditekuninya tidak merugikan pihak manapun dan tetap berada di jalur positif, maka tidak ada alasan untuk berhenti. Keyakinan ini diperkuat oleh sikap orang tuanya yang sebenarnya tidak pernah melarangnya menari, meski sempat terlontar pertanyaan kritis mengenai pilihan hidupnya tersebut.
Kekhawatiran orang tuanya kala itu berakar pada pandangan klasik bahwa seniman identik dengan status “setengah pengangguran”. Dalam perspektif ayah dan ibunya, penghasilan di dunia seni dianggap tidak stabil; ada kalanya sangat berlimpah saat pesanan datang, namun bisa sangat sepi di waktu lainnya. Meskipun mendengar langsung kekhawatiran sang ibu, ia tetap teguh pada pendiriannya saat memutuskan untuk menempuh pendidikan tinggi di bidang tari. Ia meyakini bahwa persoalan pekerjaan di masa depan bersifat abstrak dan tidak selalu harus terpaku secara kaku pada bidang studi yang diambilnya.
Tubuh sebagai Aset
Seiring berjalannya waktu, proses mendalami seni tari membawa Oka pada tingkat pengenalan diri yang lebih dalam, terutama terhadap kondisi fisiknya. Melalui setiap gerak yang dipelajari, ia mengaku semakin mencintai dan merasa perlu memberikan perlindungan ekstra terhadap tubuhnya sendiri. Kesadaran ini muncul karena ia memahami sepenuhnya bahwa bagi seorang penari, tubuh bukanlah sekadar fisik, melainkan aset utama yang paling berharga dalam berkarya.
Setelah memantapkan pilihan hidup sebagai seorang penari profesional, ia mulai menerapkan prinsip menjaga amanah yang telah diberikan oleh Tuhan. Hal ini diwujudkan melalui perhatian yang lebih mendetail terhadap kondisi tubuh serta sikap yang jauh lebih berhati-hati dalam beraktivitas. Baginya, menjaga kesehatan dan kebugaran adalah prioritas mutlak yang tidak bisa ditawar. Ia menegaskan bahwa perlindungan terhadap aset fisik ini merupakan fondasi utama agar dirinya dapat terus konsisten menari dan mengekspresikan seninya di masa depan.
Persiapan Penampilan di Banyumas Ngibing 24 Jam Menari
Dedikasi terhadap tubuh dan seni tersebut merupakan salah satu perwujudan rasa cinta yang nyata dari sang penari. Dalam keterlibatannya di ajang “Banyumas Ngibing 24 Jam Menari” kali ini, Oka membawa misi khusus, yakni memperkenalkan kekayaan budaya Tangerang dan Banten kepada khalayak yang lebih luas. Langkah ini diambil sebagai respon atas kegelisahan mengenai identitas koreografi di wilayah Banten yang hingga kini masih terus mencari bentuk dan ciri khasnya sendiri.
Realitas sosiologis Tangerang yang diwarnai oleh akulturasi budaya yang sangat kuat menjadi tantangan tersendiri dalam mendefinisikan jati diri keseniannya. Oka menceritakan bagaimana masa perkuliahannya dulu diwarnai dengan pertanyaan kritis mengenai otentisitas budaya Tangerang yang sering dianggap berada di persimpangan antara pengaruh Betawi, Sunda, hingga unsur Tionghoa. Meski sempat meragukan hal tersebut, ia akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa justru keberagaman akulturasi itulah yang menjadi esensi dan kekuatan utama Tangerang. Oleh karena itu, ia berkomitmen untuk selalu membawa identitas Tangerang dan Banten di setiap penampilannya, karena meyakini bahwa wilayah tersebut memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh daerah lain di Indonesia.
Karya yang Dibawakan (Debus & Motai)
Dalam penampilannya kali ini, Oka menyajikan dua karya koreografi yang merepresentasikan kekayaan budaya Banten dan Tangerang. Karya pertama yang dipresentasikan adalah sebuah tari kreasi yang mengangkat simbolisme Debus Almadad. Tarian ini mengambil inspirasi dari tradisi debus khas Banten yang menggunakan paku sebagai media utama, di mana secara tradisional benda tajam tersebut dipukulkan ke bagian tubuh seperti perut atau leher. Interpretasi seni gerak ini dijadwalkan untuk memukau penonton pada pertunjukan pukul 15.00 sore.
Melengkapi presentasi budayanya, pada sesi malam hari Oka dan penari sanggarnya membawakan karya berjudul Motai. Karya ini menelisik sisi tradisi etnis Cina Benteng di Tangerang, khususnya mengenai ritual kematian. Motai secara simbolis menggambarkan prosesi berjalan melingkari peti mati, sebuah penghormatan terakhir yang sakral dalam komunitas tersebut. Melalui kedua karya ini, sang penari berusaha membawa penonton menyelami kedalaman filosofi lokal melalui simbol-simbol gerak yang kuat dan penuh makna.

Tantangan Menari 24 Jam
Menyongsong perhelatan “Banyumas Ngibing 24 Jam Menari”, tantangan besar dihadapi oleh Oka yang harus membagi fokus antara profesinya sebagai pengajar dengan persiapan fisik yang intens. Pengalaman ini bukanlah hal baru baginya, mengingat pada tahun April kemarin ia telah sukses menyelesaikan tantangan serupa dalam ajang menari 24 jam di Solo. Berbekal pengalaman tersebut, ia kini lebih sigap dalam memitigasi berbagai kendala, terutama dalam hal menjaga stamina dan kesehatan sebagai fondasi utama sebelum tampil di panggung maraton.
Namun, di luar kesiapan fisik, Oka menekankan bahwa aspek yang paling krusial untuk dikelola adalah menjaga stabilitas psikis atau mood. Di tengah cuaca yang tidak menentu. Saat pelaksanaan Banyumas Ngibing 24 Jam Menari 2026 diwarnai dengan cuaca terik matahari yang menyengat hingga guyuran hujan tiba-tiba. Kondisi tersebut Oka perlu menjaga fokus untuk terus bergerak tanpa henti memerlukan ketangguhan mental yang luar biasa. Baginya, kemampuan mengatur suasana hati menjadi kunci utama agar penampilan tetap konsisten sepanjang hari, melengkapi persiapan kesehatan dan fisik yang telah dirancang sebelumnya.
***
Ini adalah catatan reportase yang kami kerjakan melalui riset dan wawancara langsung kepada narasumber. Isi yang dipublikasikan sudah melalui persetujuan narasumber. Tidak diperkenankan melakukan parafrase, pengambilan sebagian atau seluruhnya pada catatan ini kecuali seizin tim redaksi. Mari kita dukung kerja media partner yang mendukung ekosistem event seni budaya di Banyumas.

dari Banyumas menyapa Indonesia




