Nikah? Emang Harus yah?

Makanan tiap hari Gen Z yang belum nikah adalah pertanyaan “Kapan Nikah?” Makanan tiap hari Gen Z yang udah nikah adalah pertanyaan “Kapan punya momongan?” Dan makanan tiap hari Gen Z yang udah punya momongan adalah “Kapan dikasih adek?” Ahaha.. Sabar yah, kadang mulut manusia emang sulit ditebak. Kalau pun udah ketebak, ya harus mikir jawaban lagi nantinya, buat menebak apa yang akan keluar dari sana selanjutnya.

Jadi, berdasarkan hal itu, tentunya pertanyaan “Nikah? Emang harus yah.?” Itu adalah hal yang memang layak untuk diajukan dewasa kini. Karena memang erat kaitannya dengan ketenangan hidup kami yang tiap hari makanannya pertanyaan yang lebih anomali lagi. 

Wait the minute, coba deh kita amati sama-sama di timeline sosmed yang sering kita kunjungi. Sudah bukan hal baru lagi kan, kalau ada yang lagi flexing nikah muda sama healing bareng pasangan. Ada juga yang lagi bingung sama alasan  soal “kenapa sih harus buru-buru nikah.?” Tapi di sisi lain, ada juga yang lagi santai, nge-vibe sendiri tanpa mikirin status hubungan. Iya begitulah kiranya kehidupan para Gen Z. Meskipun emang bener sih, nikah itu topik yang selalu bikin rame, apalagi buat kita-kita yang lahir di era serba cepat, serba compare, dan serba “helaing dulu deh, sebelum commite ke apa dan siapa.” 

Dan perlu kita pahami bersama, bahwa bagi Gen Z, kumpul keluarga saat hari raya atau acara formal sering kali berbuah menjadi perang mental. Pertanyaan kayak “kapan nikah?” dan beberapa yang saya sampaikan sebelumnya, itu seolah menjadi peluru wajib yang siap ditembakkan oleh siapa saja yang merasa punya kendali atas kami.  Sialnya, pertanyaan ini tidak hanya ditanyakan dengan gurauan, akan tetapi tak jarang pun dilontarkan dengan nada flat yang dampaknya terasa seperti tuntutan mutlak yang aneh bin ajaib, bisa keluar dari mulut tiap orang. 

Karena itulah saya kembalikan lagi, bahwasanya pertanyaan “Nikah? emang harus yah.?” Adalah sebuah kebingungan yang nyata, di tengah gempuran tersebut, sebagai bentuk renungan dan self-correction bagi para Gen Z (termasuk saya). Yang terkadang, jujur saja terbebankan dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak sopan itu. Dah bikin buru-buru, ngga ikut nyumbang lagi. Hufth..

Mari kita bedah keresahan ini bersama-sama, demi keberlangsungan hidup Gen Z yang luar biasa untuk meluruskan kembali sebuah esensi dari komitmen berpasangan, sekaligus membela pilihan hidup yang kita perjuangkan. Hidup Gen Z.!

Kita mulai dari pertanyaan yang sangat saya benci “Kapan Nikah.?” Sebuah pertanyaan horor tak bertulang yang membuat kuping kami risih karenanya (yang ngga ngrasa kalian ngga diajak). Bagi generasi terdahulu, menikah di awal 20-an itu bisa dikatakan sebagai standar keberhasilan hidup, meskipun saya masih bingung memahami konteks ini. Akan tetapi, kini zaman telah berubah secara drastis. Dan ketika pertanyaan itu mulai menghujani kami para Gen Z, yang terbesit bukanlah motivasi. Melainkan tekanan sosial yang memicu kecemasan (anxiety)

Karena perlu kami tegaskan lagi, Gen Z itu bukanlah manusia yang malas atau takut untuk berkomitmen. Generasi ini justru, memiliki standar kesiapan yang jauh lebih tinggi sebelum memutuskan untuk mengikat janji seumur hidup. Dan perlu kawan-kawan milenial dan boomers pahami, memaksakan standar pencapaian masa lalu ke era modern itu, tidak akan membuat kami termotivasi, bahkan bisa menciptakan sebuah beban psikologis yang tidak realistis bagi anak muda yang sedang berjuang untuk memerangi krisis identitas. Yang perlu digaris bawahi adalah, era kami dan bapak ibu semua atau om dan tante yang terhormat, sudah berbeda. Kami bakalan nikah kok, tapi nanti, bukan sekarang, dan bukan atas dorongan dan keinginan kalian. Hehe. Tertawa dengan nada dering.

Selanjutnya yang perlu kita pahami bersama adalah realitas ekonomi, yang tentunya hal ini menjadi ALASAN yang LOGIS untuk kami menunda pernikahan. Karena menikah bukan cuma modal cinta gaes. Ada hitung-hitungan matematika di dalamnya. Apalagi di zaman sekarang, yang mana inflasi sedang merangkak naik, harga rumah yang semakin tidak masuk akal, biaya hidup makin mencekik, belum lagi pertanyaan “kapan nikah.” yang selalu membayang-bayangi kami. Bagaimana kalau dibalik, “kapan mau biayai pernikahan kami.?” Coba aja, tiap ada orang yang tanya “kapan nikah.” itu sambil donatur 10 jt. Pasti ngga sampai ganti taun dah nikah inih. Hehe.

Nah makanya, menunda pernikahan, bagi Gen Z itu, bukan hanya sekedar alasan. Tapi sebuah keputusan yang sangat logis. Kami sedang bekerja keras membangung stabilitas karier dan kemandirian fiansial. Mana sempat main cinta-cintaan kalau kantong masih kering-kerontang. Kami tidak ingin menikah bermodalkan cinta, karena itu sama saja membawa pasangan hidup dalam lingkarang kemiskinan atau utang akibat biaya pesta yang dipaksa demi gengsi semata. Menunda itu bukan tindakan egosi kawan, menunda nikah demi kesiapan finansial bukanlah sebuah keegoisan. Melainkan bentuk tanggung jawab nyata, agar tidak membebani keluarga setelah berkeluarga. Gitu loh maksudnya.

Yang ketiga ini aga sedikit sensitif sih, tapi saya pastikan tidak akan menyinggung pihak manapun. Yakni, redefinisi makna nikah yang mana sekarang, di era Gen Z ini, nikah itu lebih dari sekedar status. Kita mulai dari pernikahan itu sendiri yang merupakan ibadah terpanjang dan komitmen sakral seumur hidup, bukan lomba lari. Maksudnya adalah ngga ada garis finishnya. Tiap orang memulai dengan startnya masing-masing. Finishnya di mana? Ngga ada. Kalau dilihat dari kacamata orang lain, nggak ada. Yang tau finish atau goal pernikahan kita, ya kita sendiri. Tapi sayangnya, narasa sosial yang sudah mendarah daging, sering kali menggeser makna ini, menjadi sekedar pencapaian status agar “tidak kalah dari orang lain”. Padahal mulainya aja ngga bareng, finishnya ngga ada yang tahu, malah buat lomba. Haddehh.. tepok jidat deh.

Kalau didefinisikan sebagai lomba lari pun yah, Gen Z ngga akan milih cepet. Kita lebih milih kualitasnya. Buat apa nikah cepet tapi amburadul terus ke pengadilan. Mending yang standar tapi tertata dan tahan lama kan? Itu kan yang diharapkan Gen Z? Iyalah. Menikah dengan orang yang tepat pada waktu yang tepat jauh lebih penting daripada menikah cepat tapi berakhir cepat juga. Bahkan bisa jadi (na’udzubillahimindzalik) hubungan yang terburu-buru bisa juga berakhir menjadi hubungan yang beracun (toxic relationship).

Ngga papa banget kok, nunggu matang dulu secara mental dan emosional. Malahan, itu bisa jadi investasi terbaik dan keputusan paling tepat. Juga buat mengantisipasi tingginya angka perceraian di usia muda. Pernikahan itu, harus menjadi pilihan sadar dua belah pihak, bukan hasil dari paksaan keadaan atau orang lain. Nah, ini baru bener.

Keempat ini, erat kaitannya sama Tantangan Zaman yang Berbeda. Menikah di zaman digital kaya sekarang ini, pastinya bakalan banyak banget tantangannya. Dan dari hal ini aja,  kalau dibandingkan dengan yang ada di era orang tua kita dulu itu dah jauh banget. Jauh lebih kompleks tantangan di era sekarang dibanding dulu. Mulai dari dinamika kesehatan mental, tuntutan finansial ganda (dual-income), hingga pola asuh anak (parenting) di era medsos yang gempurannya ampun-ampunan. Ngga bisa banget dibandingkan dengan zaman dulu.

Generasi orang tua kita, perlu diberikan pemahaman bahwa medan perang yang dihadapi Gen Z saat ini sudah berbeda. Menuntut kita, agar segera menikah tanpa memahami medan juang para calon orang tua zaman ini adalah tindakan yang kurang bijak. Alih-alih mendesak dengan tuntutan, alangkah baiknya jika para orang tua dan lingkungan turut menyumbang, eh, maksudnya men-suport dan mensponsori, serta memberikan dukungan moral bagi Gen Z untuk lebih mematangkan diri dan mempersiapkannya. Karena kami sebenarnya sudah tahu, kapan dan apa saja yang perlu kami persiapkan untuk menikah. Semua hanya soal waktu, mental, dan finansial. Asalkan semua sudah terpenuhi, nikah nikah. Santai ajah. Orang kami juga pengin ada yang nemenin tidur dan COD biawak. Iya ngga sobat Gen Z.? Jawab di DM IG saya ya.

Dan yang terakhir juga yang paling penting, sebelum menjawab pertanyaan kapan dari orang lain, pastikan kamu sudah menemukan jawaban dari pertanyaan kenapa untuk dirimu sendiri. Ini adalah kunci dari menjawab atau menghadapi gempuran pertanyaan kapan. Tanyakan kepada diri sendiri, kenapa, atau mengapa anda ingin menikah? Apakah karena kesiapan ibadah, atau hanya karena lelah menghadapi cibiran orang lain? 

Karena dengan menemukan jawaban ini dari diri sendiri, kita akan semakin mantap dan tidak akan mudah tergoyahkan ketika menerima pertanyaan dari orang lain. Dan ketika pertanyaan kapan nikah itu datang lagi, tak akan ada lagi resah dan gundah. Karena semua rencana sudah kita susun sesuai kemampuan, agar bisa sesuai dengan keinginan. Dan ketika pertanyaan kapan nikah itu datang lagi, kita akan lebih siap untuk meresponnya dengan elegan dan full senyum, tanpa perlu mengangkat pot bunga tetangga untuk melemparkannya kepada penanya. Jawab saja, ”Mohon do’anya ya, saat ini saya sedang mempersiapkan, siapa tahu anda berkenan memberikan bantuan, qris saya siap dibagikan.” Simpel, elegan, dapet donatur. Hehe.

Tolong ya gaes, jadikan masa lajang ini sebagai waktu terbaik untuk berinvestasi pada kualitas diri, belajar, dan bertumbuh. Sebab, nantinya, yang akan menjalani pernikahan adalah kita, bukan mereka yang bertanya.

Dan untuk jawaban dari pertanyaan “Nikah? Emag harus yah?” jawabannya “Nggak harus, kalau belum siap.” Siapkan dulu, baru maju. Jangan maju kalau ragu. Dan yang pasti, ada sebuah quotes yang sudah sangat pasaran, tapi okelah saya kutip, “Berkembang baiklah, sebelum berkembang biak.” Karena yang berkembang biak itu sebenarnya banyak, tapi yang berkembang baik itu sudah jarang.

Akhir kata dari saya, Menikahlah dengan persiapan yang sesuai dengan diri dan pasanganmu. Hiduplah dengan penuh bersyukur, bahagia, dan jadilah manusia yang senantiasa lebih baik daripada kemarin.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top