Fenomena Marriage is Scary: Alasan Gen Z Lebih Takut Miskin Dibanding Menjomblo

Marriage is Scary, tapi lebih scary lagi kalau marriage dengan orang yang salah. Mohon maaf kalau ini terlalu fakta di kalangan Gen Z seperti kita. Tapi memang topik ini begitu meresahkan untuk dibahas. Mengapa demikian? Karena saya pribadi memaknai fenomena ini bukan sekedar sebagai ketakutan tak berdasar, melainkan merupakan sebuah validasi kolektif atas realitas hidup anak muda saat ini yang begitu dar der dor gebrakannya. Tiba-tiba pandemi, isu sosial yang semakin tidak jelas, perang dunia ketiga, bahkan alien yang tiba-tiba go publik. Yang pastinya, memberikan preasure tersendiri pada pola pikir dan fokus kita sebagai generasi yang hidup di era informasi. Dan salah satu yang terimbas adalah pemikiran tentang pernikahan. Yang awalnya kita maknai sebagai ibadah, tiba-tiba beralih ke pilihan finansial yang matang. 

Terus terang saja, Gen Z bukan takut untuk berkomitmen pada pernikahannya. Iya kan? Masa ngga bisa setia sama satu orang. Tapi lebih kepada risiko ekonomi yang datang pasca pernikahan itu, bahasa mudahnya takut miskin. Cocok ngga? Kalian ngga takut buat komit sama someone, tapi kalian takut ekonomi kalian chaos pasca menikah. Makanya kita memilih untuk menunda pernikahan, dengan dalih nunggu ekonomi siap. Padahal yang ngga siap-siap mentalnya.

Nah, kalau udah paham dasarnya. Kira-kira apa sih, alasan Gen Z merasa bahwa Marriage is scary? Sini aku bahas.

Bagi Gen Z, yang namanya menikah itu perlu banyak persiapan, terutama ekonomi yang matang. Karena bagi kami, menikah tanpa kesiapan terutama pada finansial sama saja dengan bunuh diri finansial. Nah inilah yang paling ditakuti oleh Gen Z. Pola pikir kami yang terdidik dari para milenial dan boomers itu sangat menjunjung tinggi kestabilan dan merdeka finansial. Terlebih pada hal-hal yang ada kaitannya dengan hitung-hitungan. Tentunya saya sebagai Gen Z juga merasakan, bahwa menghitung di atas kertas menggunakan data real dan fakta yang ada, itu jauh lebih menenangkan dan jujur daripada kalimat  “Jalanin aja dulu, rezeki pasti ada jalannya.” Iya ada sih, ada yang ngutang maksudnya, haha. Biaya nikah yang semakin tinggi dewasa kini, juga turut menjadi salah satu pertimbangan yang kami waspadai. Belum lagi jika harus memenuhi wedding dream pasangan dan orang tua. Pasti akan semakin menantang  persiapannya. 

Jadi memang harus se-realistis itu perhitungan Gen Z dalam mempertimbangkan keputusan untuk menikah. Karena kalau kita menikah tanpa pondasi finansial yang kokoh, itu akan sama saja dengan menghancurkan kesempatan dan cita-cita generasi selanjutnya. Yang mana, hanya akan menciptakan kemiskinan baru kedepannya. Nah, terbayangkan seberapa berat beban yang ditanggung oleh Gen Z. 

Dan lagi, bagi kita, memaksakan diri untuk menggelar pesta yang mewah bahkan sampai berhutang demi sebuah acara satu hari, tentu bukan sesuatu yang ringan di tangan, apalagi di kantong. Better uangnya digunakan untuk menunjang kehidupan pasca pernikahan kan? Karena setelah menikah, kebutuhan hidup itu pasti akan semakin banyak dan mahal. Itulah kenapa, pernikahan di era sekarang dirasa begitu scary. Bukan karena nikahnya, tapi biaya pernikahannya. Sepakat?

Gen Z memilih untuk menunda pernikahan, bukan karena takut nikahnya, engga. Kami ngga takut nikah, kami mau nikah tapi dengan persiapan yang menurut kami cukup. Baik dari segi mental, finansial, dan agama. Meskipun memang, pernyataan yang kami dapati dari orang yang sudah menikah pun, tidak ada dari mereka yang benar-benar 100% siap di ketiga aspek tersebut. Tapi ngga ada salahnya kan tetap mempersiapkan payung sebelum badai? Hehe. 

Kalau kata orang terdahulu atau bahkan orang tua kita, nikah itu adalah sebuah kebahagiaan dan pembuka gerbang rezeki, banyak anak banyak rezeki. Okelah, itu argumen yang cukup menarik dan sudah biasa kita dengar di masyarakat. Tapi kalau kita merasa tertekan atas dasar kebahagiaan, dengan cara yang tidak bisa kita anggap sebagai bahagia, apakah kita mau untuk menjalaninya? Apakah kita akan ikhlas menjalaninya? Okelah, jika itu pandangan para generasi sebelumnya. Tapi mohon maaf, sepertinya itu sudah tidak terlalu relate di era Gen Z. Karena dewasa kini, kami melihat dunia dengan kacamata preventif yang lebih realistis. Kestabilan finansial dan mental tentunya sangat kami kedepankan di awal agar tidak menjadi bumerang di kemudian hari. Dan status “menikah” sekarang sudah tidak terlalu menjadi prestise di mata kami, jika di balik layar masih banyak kepalsuan ekonomi dan gengsi. 

Zaman dulu, belum menikah di usia 25 tahun ke atas dianggap aib atau tidak laku. Sekarang? Hal itu malah sudah menjadi biasa dan bahkan tidak berlaku. Menjadi jomblo yang mandiri, punya tabungan, bebas hutang, dan bisa self reward sepuasnya jauh lebih menggoda. Daripada menikah demi status sosial tapi hidupnya berdarah-darah karena terlilit pinjaman di mana-mana. Dan hal pertama yang perlu kita garis bawahi adalah definisi bahagia bagi kita Gen Z telah beralih atau bergeser. Karena bagi saya sendiri pun, bahagia itu adalah stabilitas saldo rekening dan ketenangan tidur malam, bukan pamer buku nikah di Instagram. Hehe, agak dalam juga yang pernyataannya. Disclaimer, berarti ga mau nikah ya. This is just my opinion, yang pastinya bisa didiskusikan.

Satu hal yang perlu kita pahami, sebagai alasan kenapa menikah nampak menyeramkan di mata Gen Z adalah karena paparan informasi. Entah itu dari medsos, maupun dari teman yang sudah menikah namun tidak mendapati kehidupan yang bahagia seperti di drama favoritnya. Dan media sosial, saat ini telah berubah menjadi kaca spion raksasa bagi Gen Z. Karena darinya lah kita setiap hari menyaksikan secara eksklusif drama rumah tangga yang gagal, perselingkuhan yang terbongkar, dan curhatan menantu yang hancur mentalnya karena mertua. Terlihat biasa, namun begitu tajam menyerang mental generasi muda.

Visual yang nampak di media sosial, tanpa sadar telah memicu ketakutan psikologis yang mengarah ke fenomena Marriage is scary ini. Konten FYP (For Your Page) yang berisi curhatan di atas menjadikan seolah-olah Gen Z, bisa mengintip masa depan yang buruk, tanpa harus merasakannya. Dan nyatanya memang kita adalah generasi yang selalu mampu untuk belajar dari kesalahan orang lain. Akibatnya, kita menjadi generasi yang sangat hati-hati, penuh kalkulasi, dan lumayan skeptis terhadap janji dan komitmen. Begitulah kiranya yang pernah saya alami.

Meskipun memang, beberapa dari kami tetap beranggapan Marriage is scary, karena terlalu banyaknya beban yang kami tanggung baik dari ekonomi maupun mental. Menikah itu tetap worth it kok buat Gen Z. Faktanya ada di tulisan saya sebelumnya.

Dari sini saya paham, bahwasannya pernyataan Gen Z lebih takut miskin daripada menjomblo itu adalah sebuah realita dan benar adanya. Tapi di lain sisi, kami tetaplah makhluk sosial yang membutuhkan bantuan orang lain dan pasangan. Iya sewajarnya manusia pada umumnya, siangnya bekerja tapi pas malam tetap butuh teman untuk tidur dan bercerita.

Dan yang terakhir, kenapa menikah nampak menakutkan adalah karena kebanyakan dari Gen Z itu menanggung beban finansial ganda yang cukup banyak. Bahasa mudahnya, kebanyakan Gen Z adalah seorang Sandwich Generation. Harus nanggung hidup sendiri, menyongkong ekonomi keluarga, dan sebagainya. Hal ini yang menjadikan Gen Z berada pada posisi terjepit dan berakibat pada terbatasnya ruang gerak finansial. Uangnya ada, tapi kebutuhan sama yang mau makai juga banyak. Jangankan tabungan, buat makan sama tempat tinggal aja pas-pasan.

Perlu kita akui bersama, memang melelahkan menjadi bagian dari Sandwich Generation. Mereka berusaha menjaga agar kapalnya dan kapal keluarganya tidak tenggelam, meskipun harus bolak balik menyelam untuk menambal kebocoran. Dalam kondisi seperti ini, menikah tidak lagi menjadi opsi. Justru malah akan terkesan sebagai sebuah tindakan egois dan tidak beradab. Bisa-bisa malah di cap sebagai anak durhaka kalau tiba-tiba nikah. Makanya kebanyakan memilih untuk menundanya, sampai waktu yang belum ditentukan. Sedih tapi inilah kenyataan.

Iya pada akhirnya, tren Marriage is Scary adalah bukti bahwa Gen Z bukanlah generasi yang lemah, egois, ataupun takut untuk berkomitmen. Namun sebaliknya, generasi ini adalah wujud nyata dari kedewasaan berpikir, toleransi, kekuatan, ketangguhan, dan generasi yang berharga bagi keberlangsungan hidup dua generasi lainnya. Kami rela menolak romantisasi kemiskinan dan memilih untuk memperlakukan pernikahan yang biasa dianggap sakral sebagai bagian atau bahkan opsi dalam hidup demi kebersamaan. 

Memang kita takut miskin, tapi bukan hanya miskin yang kita takutkan tapi kehilangan keluarga yang sudah ada. Pernikahan di mata Gen Z tidak bisa lagi hanya bermodalkan “yang penting saling cinta dan hidup bersama”. Tapi harus dipertimbangkan matang dengan akal dan logika agar keluarga bisa hidup sejahtera dan bahagia. Cinta adalah mesinnya, tapi literasi dan management keuangan yang kuat serta kesiapan mental adalah bahan bakarnya. Tanpa hal tersebut, nikah itu hanya akan menjadi perjalanan indah yang mogok di tengah jalan. Hehe. Na’udzubillahimindzalik.

Yap, begitulah kiranya yang dapat saya sampaikan, tentang fenomena Marriage is Scary. Silahkan berpendapat apapun itu, karena pernikahan itu sangat hangat untuk dibahas. Apalagi bagi kita yang belum menikah. Hehe.

Cinta adalah mesinnya, tapi literasi dan management keuangan yang kuat serta kesiapan mental adalah bahan bakarnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top