
Peradaban manusia dalam beberapa dekade terakhir terus mengalami perubahan yang begitu pesat seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang mulai mengubah hampir seluruh aspek kehidupan. Dahulu mesin uap menjadi motor penggerak dalam revolusi industri, kini mesin digital yang telah mengambil peran mesin uap sebagai penentu arah kebudayaan atau peradaban manusia. Berdasarkan catatan sejarah, komputer pertama kali digagas oleh Alan Turing pada tahun 1930-an, yang kemudian berkembang hingga melahirkan komputer pribadi oleh IBM pada tahun 1981. Dan perubahan peradaban manusia benar-benar terasa ketika teknologi mulai menyusut ukurannya dan masuk ke dalam genggaman tangan dalam bentuk smartphone.
Perubahan perangkat keras tersebut memicu lahirnya fenomena budaya visual yang sangat dominan dalam kehidupan manusia. Saat Apple pertama kali merilis iPhone 4 dengan kamera depan, inovasi tersebut menyalakan sumbu ledakan fenomena digital yang kini kita kenal sebagai swafoto atau selfie. Secara etimologis, istilah selfie berakar pada kata selfish yang bermakna mementingkan diri sendiri atau egois.
Sejak saat itu kamera dalam ponsel bertransformasi menjadi instrumen untuk memproduksi representasi diri seseorang sebagai bentuk untuk mempengaruhi orang lain dalam status sosial. Kehadiran kamera yang hampir berada dalam setiap tangan manusia membuat dunia terkonstruksi ulang melalui bingkai foto di dalam layar handphone.
Perkembangan teknologi yang begitu pesat mempengaruhi hubungan antar manusia sebagai manusia sosial yang mengalami perubahan melalui infrastruktur sosial baru dalam media sosial. Lahirnya platform berbasis visual seperti Instagram dan TikTok telah mengubah cara seseorang mengelola kehidupan pribadi kepada publik secara daring. Sering kali hal yang bersifat pribadi menjadi bahan konten dalam media sosial. Seakan dunia tidak ada sekat privasi kehidupan seseorang. Media sosial telah menciptakan sebuah dunia di mana interaksi sosial menjadi sangat bergantung pada bagaimana citra visual seseorang dipertukarkan. Potret diri digital menjadi bahasa komunikasi universal yang baru.
Tindakan potret diri sering kali dikaitkan dengan perilaku narsistik. Narsisme ditandai dengan kebutuhan eksesif untuk selalu dikagumi, perasaan superior bahwa dirinya adalah yang paling unik, dan hasrat untuk selalu menjadi pusat perhatian. Bagi kalangan generasi muda khususnya generasi Z, sebagai manusia yang tumbuh sebagai digital native yang berdampingan dengan algoritma, generasi Z menjadi yang paling mahir sekaligus rentan dalam perilaku narsisme digital tersebut. Bagi mereka, validasi digital dalam bentuk likes dan juga komentar positif adalah bahan bakar untuk harga diri mereka. Hal ini memicu kecenderungan untuk selalu mencari lokasi yang memiliki estetika tinggi sebagai background swafoto guna memperkuat performativitas identitas mereka di dunia maya.
Dalam pusaran kebutuhan akan konten inilah, pameran seni menemukan fungsi barunya sebagai gaya hidup baru di kalangan generasi muda khususnya generasi Z. Meskipun praktik potret diri dalam ekosistem seni sendiri telah terlihat sejak lama terutama pada karya-karya dari seniman seperti Rembrandt atau Van Gogh, revolusi teknologi digital kini telah meruntuhkan sekat eksklusivitas dalam karya seni.
Di era user generated content, media sosial memberikan peran ganda dalam ekosistem seni yang terjadi belakangan ini. Satu sisi, algoritma dan tampilan visual yang menarik pada platform media sosial berhasil menarik minat masyarakat luas yang mungkin sebelumnya tidak bersentuhan dengan dunia seni. Media sosial menjadi sarana pemasaran yang efisien untuk menyebarkan citra karya secara luas.
Namun, di sisi yang lain, media sosial menjelma menjadi ruang eksistensi yang sangat kuat dalam mengakomodir sifat narsistik publik. Media sosial memberikan panggung bagi setiap orang untuk memiliki kendali penuh dalam membangun narasi tentang siapa diri mereka melalui pertukaran citra visual.
Galeri seni belakangan ini tidak lagi dipandang sebagai ruang yang prestise dan kaku hanya untuk membedah filsafat seni, galeri telah menjelma menjadi destinasi yang populer yang menawarkan visual unik, prestisius, dan Instagramable. Mengunjungi pameran seni telah menjadi bagian dari budaya skena kalcer generasi muda. Pameran seni menjadi ruang temu komunitas sekaligus sebagai panggung fashion untuk memamerkan outfit terbaik pengunjung yang paling estetik.
Fenomena ini tampak terjadi dalam Pameran ArtJog dan pameran-pameran lain. Penyelenggara pameran secara sadar memahami pergeseran kebutuhan akan konten pada kelas menengah baru untuk menunjukkan representasi diri. Yang dilakukan ArtJog pada tahun 2014, telah melegitimasi fenomena swafoto melalui kompetisi foto berhadiah terbukti sangat efektif untuk menarik massa dalam jumlah fantastis. Kehadiran public figure pada edisi 2016 semakin memperkuat narasi seni sebagai gaya hidup baru. Pengunjung berbondong-bondong mendatangi pameran untuk menunjukkan validasi pada kesamaan dengan para selebriti yang datang ke pameran seni.
Dalam ekosistem kunjungan ke pameran seni sangat erat kaitannya dengan bentuk apresiasi karya dan seniman. Secara tradisional, apresiasi seni adalah sebuah laku aktif yang melibatkan pengamatan intens, penilaian, dan penghargaan terhadap proses kreatif seniman dalam karya. Apresiasi seni sejati bukan hanya sebatas aktivitas melihat melainkan memahami sebuah proses dialog antara persepsi pengunjung dengan intensi seniman. Hal ini mencakup pemahaman akan bahasa seni, mulai dari elemen visual, prinsip desain, hingga konteks sejarah dan filsafat yang melatari penciptaan karya tersebut.
Namun, dalam ekosistem seni yang sering terjadi di kalangan generasi muda belakangan ini, motivasi mereka mengunjungi pameran seni telah mengalami pergeseran dari apresiasi substansial menjadi konsumsi visual belaka. Bagi generasi muda khususnya generasi Z yang mengunjungi pameran seni semata-mata hanya untuk berburu sudut kamera yang dianggap estetik untuk diunggah ke media sosial demi mendapatkan penilaian positif dari orang lain.
Dalam beberapa kasus yang terjadi di kalangan generasi Z dan pameran, karya seni telah mengalami komodifikasi yang tidak hanya membicarakan tentang aspek kemanusiaan, melainkan telah direduksi menjadi sekadar properti estetik untuk menunjukkan citra diri.
Ironi dalam fenomena tren ini adalah munculnya kehilangan apresiasi identitas seniman dan ide karyanya. Sering kali, pengunjung awam mengunggah foto mereka di depan karya tanpa mencantumkan nama seniman, judul, ataupun makna sejarah yang melatarbelakangi proses kreatif karya. Foto-foto mereka sering hanya dihiasi dengan caption puitis, atau kutipan motivasi yang sama sekali tidak relevan dengan konteks makna karya tersebut. Fokus utama foto tetaplah subjek manusia, sementara karya seni sebagai background hanya alat untuk membingkai perilaku narsisme mereka.
Kalangan generasi Z yang lebih menyukai hal yang sifatnya instan dan praktis, mengalami seni sering identik hanya dengan memotret seni. Kehadiran fisik mereka di ruang pamer hanya bersifat performatif demi memenuhi kebutuhan konten digital mereka, tidak lagi sebagai bentuk keterlibatan intelektual pada gagasan orisinil sang seniman.
Sebagai kelanjutan dari pembahasan mengenai perubahan ekosistem seni pada tulisan sebelumnya tentang “Fenomena Seni Sebagai Gaya Hidup Baru Di Kalangan Generasi Z” dan “Artjog dan Fenomena Seni Sebagai Gaya Hidup Baru” , fenomena seni sebagai gaya hidup baru di kalangan generasi muda khususnya generasi Z menjadi sebuah paradoks yang kompleks. Di satu sisi, strategi pameran yang merangkul media sosial berhasil mendemokratisasi akses seni dan membawa massa ke dalam ruang galeri yang kembali menghidupkan kembali pasar seni. Namun, di sisi yang lain, ia melahirkan tantangan baru pada pengalaman estetis yang seharusnya kaya pengetahuan dan apresiasi menjadi hanya selembar foto digital yang terkadang hampa akan makna sejarah karya.
Perpaduan antara kemajuan teknologi informasi komunikasi dengan lahirnya kamera smartphone dan kebutuhan akan validasi sosial yang telah mengubah wajah seni menjadi arena narsisme kolektif di kalangan generasi muda. Seni menjadi teman untuk membangun identitas atau citra diri seseorang di dunia maya. Meskipun ada risiko muncul hilangnya sejarah dan makna karya tetap membayangi di balik kilatan lampu flash kamera, fenomena ini merupakan sebuah realitas budaya baru yang tidak bisa terelakkan di era digital. Tantangan kini bagi pelaku seni ke depan bagaimana mereka mengarahkan antusiasme visual masyarakat awam dan generasi Z agar tidak hanya berhenti pada foto digital tanpa menunjukkan identitas mereka sebagai seniman dan dapat bertransformasi menjadi gerbang menuju literasi digital yang lebih substansial. Seni harus tetap hidup sebagai denyut nadi peradaban meskipun kini harus berbagi ruang dengan jutaan pixel potret diri generasi muda.
Ironi dalam fenomena tren ini adalah munculnya kehilangan apresiasi identitas seniman dan ide karyanya.
Refandhy Tri Wijaksono merupakan putra bungsu kesayangan ibu dari Desa Gentawangi, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas. Bisa disapa melalui Instagram @refandhytw_.




