Suara Maneh Maulu yang Saya Dengar saat Menutup Halaman Terakhir Novel “Tak Ada Embusan Angin” Karya Aveus Har Pasca Bencana Aceh-Sumatra 2025

Setelah membaca novel Tak Ada Embusan Angin karya Aveus Har, batin saya seperti ditampar oleh kenyataan yang berulang bahwa sejarah yang tak pernah sungguh-sungguh dipelajari oleh republik ini. Novel ini terasa bukan sekadar fiksi, melainkan cermin panjang penderitaan Aceh yang terus dipantulkan dari masa ke masa. Penanganan awal bencana Aceh–Sumatra di akhir Desember 2025 seakan menjadi penegasan ulang pesan Maneh Maulu tokoh utama dalam novel Tak Ada Embusan Angin yaitu jangan melupakan sejarah, terutama dalam konteks ini adalah Aceh.

Maneh Maulu bergerak melintasi waktu dari masa GAM yang menuntut kemerdekaan, euforia referendum Aceh, hingga tsunami 2004. Setiap fasenya selalu menyisakan janji. Aceh masuk ke dalam republik dengan perjanjian yang diucapkan lantang, namun tak pernah benar-benar ditepati dari janji Soekarno, maupun Abdurrahman Wahid (mungkin karena singkatnya periode belum sempat mewujudkannya, malah berulang kembali perlakuan pada Aceh setelah Megawati memimpin).

Otonomi, kesejahteraan, dan keadilan hanya menjadi kata-kata administratif, bukan pengalaman hidup rakyat. Referendum pun, sebagaimana digambarkan dalam novel, tak lebih dari ritual politik yang tak mengubah nasib.

Yang dikritik Aveus Har bukan semata persoalan syariat Islam melainkan cita-cita yang lebih mendasar: kemakmuran rakyat. Novel ini menelanjangi cara republik mengerdilkan tuntutan Aceh, seolah masalah Aceh hanya soal simbol agama, bukan ketimpangan, kekerasan, dan penghisapan sumber daya.

Ketika tsunami 2004 datang, republik tergagap, namun dunia berlari. Aceh selamat bukan karena negara yang sigap, namun jika boleh jujur solidaritas global yang berkontribusi pada pemulihan Aceh. Luka itu belum sembuh, tetapi republik tampaknya tak belajar. Maka ketika bencana kembali menghantam Aceh–Sumatra pada akhir Desember 2025, andaikan saya menjadi Maneh Maulu yang terasa kembali adalah rasa putus asa pada republik dan keinginan untuk merdeka.

Laporan-laporan tentang lambannya evakuasi awal, distribusi logistik yang tersendat, dan koordinasi pusat-daerah yang kacau menjadi gema dari masa lalu. Hari-hari pertama diisi oleh warga yang saling menolong dengan alat seadanya, sementara keputusan administratif berputar-putar di meja birokrasi. Republik kembali datang terlambat, seperti biasa.

Membaca Tak Ada Embusan Angin pasca bencana di bulan Desember 2025 terasa amat getir. Maneh Maulu seolah berkata bahwa republik hanya ingat Aceh saat bencana atau saat kepentingan politik memerlukannya. Di luar itu, Aceh dibiarkan menjadi catatan kaki sejarah nasional.

Aceh, melalui suara Maneh Maulu yang saya dengar saat menutup halaman terakhir, tidak meminta untuk dikasihani, ia hanya menuntut supaya republik berhenti lupa, dan mulai bertanggung jawab. Namun sampai itu terjadi, embusan angin pun terasa enggan berkunjung.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top