Menonton “Megalomania” Dipentaskan dan Kemunculan Sederet Pertanyaan

Sewaktu Mas Fikri mengabari bahwa Om Logo Situmorang akan menyediakan tiket pementasan monolog “Megalomania” seandainya kami (tim BIL Fest) hadir, aku langsung melihat tanggal pementasannya, 16 dan 17 Juli 2026. Lalu seperti ada kembang api di batinku setelah menyadari kalau aku dan ibuku di tanggal yang berdekatan akan ke Jakarta untuk sebuah agenda. Aku buru-buru memastikan informasi itu seolah Mas Fikri sedang bercanda (seperti rutinitas kami biasanya). Setelah memastikan dan yakin, aku yang sedang menemani persiapan sidang akhir adikku di kampus buru-buru mengirim pesan WhatsApp ke ibuku, tanpa pikir panjang ibuku langsung mengiyakan usulku untuk mempercepat keberangkatan ke Jakarta demi menghadiri pementasan tersebut. Sejak hari itu, aku seperti anak kecil yang setiap bangun tidur di pagi hari memiliki euforia tersendiri karena menghitung mundur semakin dekat menuju hari keberangkatan ke Jakarta. Terima kasih, Ibunda, karena menyanggupi keinginanku ini, hehehehe.

Di sisi lain, setelah Mas Fikri mengabari Om Logo Situmorang akan rencana kehadiranku dan disambut dengan dikirimkannya tiket menyaksikan pementasan, sejak saat itu juga ‘penyakit’ berupa perasaan inferiorku hadir lagi. Mulai ada rasa tidak percaya diri dengan latar belakangku yang lahir hingga menyelesaikan studi sarjana di kabupaten, ungkapan beberapa orang di waktu lalu yang menyayangkan ketidaktahuanku atas beberapa tokoh atau karya, reaksi beberapa orang yang mempertanyakan kemampuanku setelah mengetahui rumpun studiku, atau perasaan-perasaan lainnya yang aku sendiri belum memiliki keberanian menuliskannya secara gamblang di buku harian maupun journaling-ku. Tapi seperti yang selalu disampaikan kedua orang tua, orang terdekat, dan dorongan dari Mas-Mba di BIL Fest: cukup jadi diri sendiri, jujur dengan posisi di titik Kiki berada, dan tetap percaya diri.

Lalu semuanya terasa lebih ringan. Aku mempersiapkan segalanya untuk keberangkatanku ke Jakarta. Kembali menjadi orang yang setiap bangun tidur sudah berteriak dalam hati atau senyum-senyum sendiri karena menghitung mundur keberangkatan ke kota metropolitan tersebut.

Menuju Gedung Kesenian Jakarta

Aku baru sampai Jakarta beberapa jam sebelum pementasan dimulai. Setelah menggenapkan ibadah KRL-an dan sampai ke penginapan, aku tidak membuang waktu yang semakin sore untuk segera bersiap dan berangkat, walaupun agak pening karena kurang tidur sebelumnya. Aku sudah pasrah jika MRT yang akan aku tumpangi ramai karena jam keberangkatanku dari Jakarta Selatan menuju Jakarta Pusat bertepatan dengan jam pulang perkantoran. Untungnya sore itu rezekiku menjadi penumpang yang mendapatkan tempat duduk sepanjang perjalanan. Dalam perjalanan ini baru kukirim pesan ke Om Logo Situmorang, aku sampaikan padanya bahwa aku dalam perjalanan menuju Gedung Kesenian Jakarta untuk pementasan monolog “Megalomania”, dan dibalas dengan pesan sampai jumpa. 

Sesampainya di stasiun MRT Bundaran HI, aku sengaja duduk-duduk menyaksikan situasi orang-orang pulang bekerja, pemandangan yang beda dengan yang biasa kulihat di kota kecil tempat tinggalku. Simpang siur yang aku pikirkan: mulai dari definisi bahagia, arti kemanusiaan, memikirkan kejujuran, merenungi rasa syukur, memaknai waktu luang, dan sederet pemikiran di hobi bengong yang terealisasi jelang magrib hari itu. Setelah puas bengong baru aku pesan ojek online untuk melanjutkan perjalanan ke Gedung Kesenian Jakarta.

Salah satu hal yang aku syukuri hari itu, adalah pertemuanku dengan tiga driver baik hati yang menjadi pengecualian dari kata orang tentang Jakarta yang serba berpacu cepat seolah tidak manusiawi. Beberapa jam sebelumnya aku bertemu dengan supir taksi online yang membawaku dan ibuku ke penginapan, yang dengan tulus dan supel memberikan warning tentang tempat-tempat rawan copet dan tindakan kriminal di sana, lalu menunjukkan stasiun MRT Fatmawati dan menyampaikan kepadaku semacam tutorial perjalanan, hingga menjelaskan jarak rumah sahabat ibuku yang ternyata tak jauh dari penginapan.

Ada juga driver ojek online yang menjemputku di penginapan, yang dengan sumringah menyebutkan nama lengkapku dengan lancar dan tanpa membaca (hal yang jarang dilakukan orang yang baru mengenalku), lalu bercerita bahwa istrinya adalah orang Purwokerto setelah menanyakan darimana asalku. Di perjalanan menuju Gedung Kesenian Jakarta sore itu, driver ojek online yang bertemu denganku adalah orang Tegal dengan plat nomor G, ia begitu senang mendapatkan penumpang dari Purwokerto sampai mengajakku berbincang dengan bahasa Jawa daerah asalnya yang tak jauh beda dengan asalku, dengan caranya ia menjelaskan sisi gelap Jakarta dan secara tersirat mengingatkanku untuk berhati-hati. 

Aku sampai di Gedung Kesenian Jakarta di waktu magrib, lebih cepat sekitar dua jam sebelum pementasan. Pertama kali yang aku lakukan adalah menyapa para satpam untuk menanyakan letak musala. Setelahnya aku salat dan menyeberang ke deretan pedagang kaki lima yang ramai dengan orang-orang yang makan malam. Bersama seorang teman dekatku, aku menghabiskan semangkuk bakso dan mendapatkan sapaan berakhiran “nggih” yang fasih dari penjualnya (menandakan beliau orang Jawa), juga seporsi sate Padang yang ketika menghampiri gerobaknya membuatku merapatkan diri ke temanku karena kehadiran lelaki muda (maaf, seperti seorang pengemis) yang agak memaksaku memberinya uang. 

Bertemu dengan Logo Situmorang 

Setengah jam menjelang pementasan aku sudah menyeberang kembali ke Gedung Kesenian Jakarta. Aku melihat-lihat seisi gedung yang membuatku senyum-senyum sendiri seperti beberapa malam terakhir. Rasanya ada wishlist masa kecilku yang tercapai hari itu, karena perasaan senang melihat gedung tersebut adalah perasaan senang yang biasanya timbul jika itu menyangkut wishlist masa kecil atau angan-angan masa remajaku. Setelah berkeliling gedung dan melakukan registrasi, aku berfoto di backdrop bergambar poster pementasan yang sejak tadi ramai dengan pengunjung yang bergantian berfoto, lalu aku melihat seorang yang dititipi salam oleh teman-temanku sedang berbincang dengan seseorang. Awalnya ragu, tetapi setelah yakin bahwa seorang tersebut yang sejak tadi aku cari, aku menghampirinya.

“Om Logo, ya?”

“Iya.”

“Ooh.. Saya Kiki, yang dari Purwokerto.”

Tepat setelah aku mengatakannya, aku melihat ekspresi terkejut dan senyum dari beliau, jauh di dalam hatiku ada perasaan berbunga karena akhirnya sosok yang menjadi salah satu alasanku sampai ke gedung ini kutemui juga. Aku sampaikan titipan sederhana dan salam teman-temanku dari Purwokerto. Lalu pertemuan perdana yang singkat itu berakhir dengan pamitnya Om Logo yang masih wira-wiri sebagai pimpinan produksi pementasan (hal ini sempat disampaikannya dengan nada bercanda kepadaku).

Mungkin Om Logo tidak tahu kalau perasaan berbungaku itu semakin bermekaran, ‘penyakit’ inferior yang menggangguku sejak empat hari lalu seperti hilang tiba-tiba karena sambutan hangatnya. Sampai kapanpun sepertinya aku tidak akan lupa, kalau kebaikan Tuhan lewat perantara berkat Om Logo Situmorang, aku bisa mendapatkan izin dari Ibunda dan Ayah untuk mengunjungi Gedung Kesenian Jakarta pertama kalinya.

Menyaksikan “Megalomania” Dipentaskan

Kesan pertamaku saat membaca sekilas tentang sinopsis “Megalomania” mengingatkanku pada kalimat yang sering ditulis seorang teman di Instagram story, yaitu istilah wong kalahan. Seorang laki-laki yang kalah dari segala aspek kesuksesan ideal yang dibentuk oleh kultur sosial: karier yang cemerlang, jabatan yang gemilang, keluarga yang harmonis dan bahagia, keturunan yang bisa dibanggakan, terpenuhinya segala kebutuhan, hari tua yang terjamin dan dihabiskan dengan cucu yang lucu nan menggemaskan (potret yang biasa ditemui di sinetron, film, atau buku cerita yang aku baca semasa kecil). Akhir dari segala kekalahan itu adalah pelarian menuju angan-angan yang membuat empunya kelimpungan. Bahkan berangan-angan pun tetap jadi wong kalahan.

Itu sekilas kesanku sebelum menonton pementasan monolog ini. Tapi kurang lebih begitu yang aku lihat saat “Megalomania” dipentaskan.

Awalnya aku berbunga-bunga (lagi) saat tirai panggung terbuka dan menampilkan Om Budi Ros yang berlakon sebagai Raden Budi Yuwono (RBY, percayalah ketika singkatan ini disebutkan di panggung pementasan disambut dengan tawa para penonton) menata sebuah bidang tegak berisi penuh mainan anak-anak bertuliskan “Selamat Ulang Tahun, Nada”. Sekilas di menit awal penonton akan memahami bahwa RBY adalah seorang kakek yang mencintai cucu perempuannya dan sedang menyiapkan perayaan sekaligus hadiah ulang tahun untuk cucunya. Namun di menit-menit berikutnya, cerita seorang kakek yang mencintai cucunya secara halus bergeser ke pengungkapan berbagai beban yang ditanggung RBY sebagai seorang presiden di negaranya.

Beban pertama yang diceritakan RBY adalah posisinya sebagai presiden yang harus menunjukkan citra serba baik, sebab jika ada sedikit kekurangan akan menjadi celah bahan olok-olok yang diburu oleh wartawan. RBY merasa ada di posisi yang serba salah, apa pun yang dilakukan bisa menjadi celah olokan, bahkan katanya, “bangsa kita adalah bangsa yang suka berolok-olok.” Meringis miris aku mendengarnya kalau mengingat realita hari ini yang memang demikian, suatu kesalahan sepele yang diviralkan adalah umpan bagi masyarakat untuk memuntahkan segala komentar hingga makian, apalagi kesalahan berat yang menyangkut kemaslahatan rakyat (terlepas dari baik atau buruknya suatu kebijakan yang dibuat pemangkunya) lebih berpotensi menjadi bahan membabi-butanya olok-olokan. Ya, walaupun sebenarnya, hal baik atau buruk tetaplah bahan olok-olok di hari ini. Pokoknya selalu ada bahan olok-olok bagi WNI, begitu sepertinya, ya?

Masih di bagian agak awal, RBY berkeluh kesah tentang nama cucu pemberiannya yang kerap dikaitkan dengan ambisi politik kekuasaan. Nama “Nada” yang diberikannya kepada cucunya tersebut diasumsikan sebagai tangga nada yang semakin menanjak atau jalan menuju pembangunan dinasti kekuasaan. Padahal alasan diberikannya nama tersebut amat sederhana, yaitu hobi RBY yang senang mengutak-atik musik. Buatku yang memiliki kedekatan emosional dengan Kakek dan Eyang Kakung, aku cukup terhanyut dalam perasaan sedih RBY yang bentuk cintanya kepada cucu perempuannya disenggol dengan asumsi liar dari orang lain, rasanya jahat kalau relasi tulus yang seharusnya dalam ranah pribadi tersebut dicampuri hal seberisik politik kekuasaan. Meskipun aku juga akhirnya berpikir tentang fenomena maraknya atensi terhadap kehidupan pribadi tokoh publik ketimbang kinerja atau karyanya, yang membuat masyarakat lebih tertarik pada gosip atau narasi kisah kasih si tokoh, sehingga lupa kalau posisi strategis di negara ini lebih membutuhkan kredibilitas dan kemampuan berpikir daripada citra romantis si tokoh terhadap keluarganya yang ditampilkan di media sosial. 

RBY adalah presiden yang baik bagiku. Setidaknya aku menilainya dari pengakuan RBY yang menolak ide istrinya untuk melanggengkan jabatan sebagai presiden dalam keluarga mereka. RBY yang sejak awal bercerita tidak enaknya menjadi presiden sepertinya hanya ingin hidup bahagia bersama istri, anak, menantu, dan cucunya. Cita-cita yang sebetulnya sederhana, tapi di hari ini menjadi mewah karena ramainya isu monopoli hingga oligarki, mungkin menjadi jarang ditemukannya orang yang memiliki jabatan atau kekuasaan yang tidak berpikir akan dinasti. “Ngapain jadi presiden? Capek.”

Mantel (outer) yang dikenakan RBY malam itu seperti yang biasa aku lihat di foto Presiden Soekarno dan Jenderal Soedirman, visualnya seperti jubah yang panjangnya hingga lutut, milik RBY dilengkapi beberapa bordiran dan badge (kelihatannya seperti) tanda kehormatan maupun tanda kebesaran (yang aku juga tak tahu apa saja). Inilah kostum yang menurut perancangnya, Ibu Rima Ananda, dirancang realistis dan mencerminkan naskahnya. Sebagai penonton, kesan yang aku dapat dari melihat kostum tersebut tak jauh dari dua tokoh yang aku sebutkan sebelumnya: Presiden Soekarno dan Jenderal Soedirman, presiden dan jenderal, pimpinan negara dan pimpinan militer. Jadi visual RBY di mataku adalah pimpinan negara dan pimpinan militer. Ya, tak salah juga, RBY sendiri yang menyampaikan, “..latar belakang saya memang militer, tapi saya tidak otoriter.”

RBY yang berucap, tapi penontonnya yang geleng-geleng kepala, satire yang ini fresh dan sepertinya tak sulit untuk mengajak penontonnya untuk sepaham. Dalam diam aku mengaminkan ucapan RBY tersebut sebagai doa. Semoga kasih sayang Tuhan membersamai hati nurani para pemimpin negeri ini. 

Aku tidak menyangka ulang tahun Nada bisa membawa RBY bercerita sejauh ini, sampai ke bab soal wartawan yang sering disebut selain politisi. Dari cerita RBY, sepertinya wartawan adalah profesi atau pihak yang dihindari (atau bahkan ditakuti) karena kemampuannya dalam mewawancarai hingga mewartakan. Sedikit celah seolah tak luput dari pantauan dan sasaran pertanyaan kritis mereka, informasi yang diwartakan seolah mampu menggiring persepsi publik terhadap sosok yang diberitakan (dalam hal ini RBY sebagai pemimpin negara). Ini mengingatkanku pada salah satu sesi pelajaran di kelas 4 (kalau tidak salah, ya), waktu itu pertama kalinya aku belajar pembagian kekuasaan dalam pemerintah yang biasanya disebut Trias Politica, guruku menyampaikan ada satu kekuasaan yang tidak ada di antara tiga pihak pada ‘pohon kekuasaan’ namun perannya penting bagi jalannya pemerintahan, lalu guruku menyebut “pers” sebagai kekuasaan yang tidak ada di ‘pohon kekuasaan’ tersebut dan menjadi kali pertamaku berkenalan dengan istilah “pers” yang membuatku banyak tanya ketika sampai di rumah. 

Sepertinya materi pelajaran tersebut memang butuh bertahun-tahun untuk aku pahami. Termasuk mengapa pers disebut sebagai pihak yang berperan walau tak masuk ‘pohon kekuasaan’. Guruku dulu menjelaskan, bertahun-tahun kemudian aku mendengarnya dari RBY, semacam ada realita yang diungkapkannya harus dengan fiksi (pementasan monolog misalnya). Seingatku RBY menceritakan kekhawatirannya jika wartawan mengetahui ia menyiapkan perayaan ulang tahun untuk cucunya, seandainya perayaan tersebut digelar mewah dalam format pesta yang menyewa badut maka RBY takut akan komentar yang bermunculan, “..tidak perlu menyewa badut, Anda saja sudah seperti badut.” Apa realita hari ini ‘selucu’ itu kah sampai satire ini sepertinya tak sulit mengundang respon penikmat monolog yang aku tonton?

Sejak RBY bercerita tentang Nada yang di umur 1,5 tahun sudah menguasai 1500 kata, rasanya seni satire pada pementasan ini memasuki babak yang tak terlalu sulit dipahami, diceritakan secara gamblang tetapi ini bukan lagi cerita soal Nada. Katanya, Nada akan menjawab “pleciden (presiden)” jika ditanya apa cita-citanya oleh anak, menantu, dan istri RBY. Namun Nada akan menjawab “waltawan (wartawan)jika pertanyaan tersebut datang dari RBY. Sedikit cuplikan ini seperti menegaskan asumsiku sebelumnya tentang dua profesi berbeda yang disebut berkali-kali dalam monolog ini, yang mengingatkanku pada penjelasan guruku saat kelas 4 SD dulu, yang sepertinya menjadi ‘drama’ tersendiri.

Lalu RBY menyampaikan keresahannya saat melihat negerinya yang disemarakkan dengan para politisi tanpa kemampuan yang memadai. Para pemilik jabatan bukan orang yang memiliki kapasitas keilmuan atau pengalaman yang mumpuni, melainkan orang yang menyalahgunakan posisi, kepentingan dalam hal ini bukan lagi yang menyangkut kesejahteraan orang-orang yang seharusnya disejahterakan. Bagian monolog ini membawaku ke pengalaman berorganisasi semasa SMA dulu, ketika seniorku menyampaikan tentang seharusnya seseorang melihat suatu jabatan, “Ki, jabatan itu dipangku, bukan diduduki. Kalau dipangku, kita nggak akan seenaknya bergerak karena khawatir yang dipangku ini jatuh atau tergeser. Kalau diduduki, kita bisa seenaknya berdiri, lari, atau ninggalin kursi tanggung jawab ini.” 

Sekarang aku semakin menyadari (dan tidak menyesali) pentingnya berorganisasi semasa sekolah dulu, siapa sangka untuk memimpin puluhan temanku dulu harus dihadapkan dengan gemblengan kakak kelasku, sekelas organisasi anak SMA diwanti-wanti betul tentang perlunya tanggung jawab. Jadinya aku ikut gemas waktu RBY mengatakan, “..negara sebesar dan seruwet ini dikelola politisi amatiran yg bahkan belom pernah maju di panggung RT, apa jadinya?” Mungkin mereka seharusnya bertemu para kakak kelasku untuk dinasehati tentang ‘jabatan dipangku bukan diduduki’ dan belajar dulu dari titik mula, bukannya fast track tanpa ilmu atau skill menjadi ‘orang’. 

Babak monolog semakin seru saat RBY lebih banyak mencurahkan keresahan atas negerinya. Secara tiba-tiba, susunan balok yang membentang di sisi kanan dan kiri set panggung berfungsi sebagai layar LCD yang menampilkan cuplikan permasalahan negeri yang semakin rumit hari ini. Salah satunya menyoroti unjuk rasa yang sebetulnya adalah bagian dari praktik demokrasi namun belakangan justru diperalat untuk kepentingan oknum tertentu. Contohnya bisa dilihat dari adanya fenomena unjuk rasa dengan massa bayaran. Sesulit itu mendapatkan penghasilan di negeri yang banyak masalah rupanya sampai tak ada pilihan selain menjadi massa unjuk rasa yang sebetulnya bukan suara hati. Singkat dan tajam sekali RBY mengungkapkannya, “…demo kok jadi kerjaan? Kapan cari nafkahnya?”

Aku yakin seandainya kalimat itu diungkapkan di ruang kelas atau tongkrongan, pasti akan disambut riuh tepuk tangan dan teriakan teman-teman. Puas sekali mendengarnya. 

Monolog semakin klimaks saat RBY mulai membahas soal pemimpin yang harus memiliki tata krama. Entah hanya perasaanku saja atau memang demikian monolognya, aku mulai merasakan ruwetnya pernyataan RBY, semakin ngalor-ngidul dan membingungkan, aku sempat memejamkan mata sebentar karena dihinggapi lelah sambil tetap mendengarkan, sampai RBY mulai berteriak-teriak tidak jelas dan terungkapnya plot twist. Akhirnya terungkap bahwa segala yang disampaikan RBY adalah angan-angan wong kalahan yang terungkap setelah ada figuran perawat masuk dan robohnya bidang tegak berisi penuh mainan anak-anak bertuliskan “Selamat Ulang Tahun, Nada” yang kemudian menunjukkan adanya papan bertuliskan “Rumah Sakit Jiwa Enggan Waras”. Ya, RBY adalah wong kalahan yang menjadi pasien RSJ.

Selanjutnya para figuran perawat lainnya beserta sang dokter masuk untuk menenangkan RBY yang mulai kehilangan kontrol emosi. Mainan-mainan yang sebelumnya ditata rapi dihambur-hamburkan oleh RBY yang berlarian kesana-kemari. Terhitung sejak robohnya bidang tegak berisi mainan anak-anak, hingga segala kekacauan yang terjadi setelahnya, aku melongo dan menahan pekik karena tidak menyangka tebakanku bahwa RBY adalah pasien RSJ itu benar. Untuk yang belum membaca naskah pementasan ini sebelumnya, tebakan itu murni adalah dugaanku yang mulai bingung sejak RBY ngalor-ngidul ngomongnya, tapi tidak menduga akan benar dugaanku karena alur pementasan ini seperti tidak memberikan clue akan bagaimana akhirnya. Rapi sekali kemasan dan penyampaian plot twist-nya.

Pasca Pementasan

Pementasan selesai dengan bergantiannya para seniman atau orang-orang dibalik suksesnya “Megalomania” hadir di panggung, meskipun tak semuanya karena ada yang masih bertugas dan ada juga yang sedang tidak di tempat. Percayalah di waktu ini pula aku baru mengetahui bahwa dokter yang beberapa waktu lalu aku lihat berlarian mengejar RBY adalah Om Logo Situmorang.

Aku masih senyum memandangi panggung ketika pembawa acara sudah menyampaikan penutup dan menginformasikan bahwa seluruh tim produksi maupun aktor akan ke belakang (pintu keluar ruangan). Sebelumnya Om Logo juga menyampaikan hal tersebut padaku tetapi aku belum tau akan ada apa setelahnya sampai harus disampaikan. Selama ini setelah menonton suatu pementasan, tidak ada agenda apa pun, bubar saja, paling foto-foto.

Rupanya seluruh tim dan aktor secara khusus menyapa para penonton di luar ruangan pementasan. Hampir semua penonton menyempatkan berjabat tangan kepada para seniman tersebut, mengucapkan selamat, berbincang, berkomentar, juga berfoto. Rasanya hidup, pementasan itu seperti tidak dibiarkan hanya milik penyelenggara, tapi juga milik penontonnya. Interaksi tersebut berlangsung hangat dan cukup lama, di tengah keramaian tersebut aku memilih untuk mengelilingi Gedung Kesenian Jakarta dan melihat panggung dari sisi atas, aku senyum-senyum (lagi) melihat panggung yang sedang dirapikan setelah ‘diacak-acak’ di akhir pementasan. Agak lucu juga kalau ternyata aku jatuh cinta dengan panggung.

Aku masih senang melihat-lihat interaksi orang-orang di sekelilingku ketika Om Logo tiba-tiba memanggilku. Kali ini aku melihat secara jelas ada bedak yang lebih terang di bagian hidungnya, menandakan bahwa Om Logo yang aku lihat saat ini adalah salah satu dari aktor yang ada di atas panggung pementasan tadi, si dokter berbaju biru yang muncul ketika beberapa perawat berteriak memanggilnya. Aku hendak mengucapkan selamat dan banyak kekagumanku atas pementasan yang baru aku lihat, namun perbendaharaan kataku sepertinya macet dan hanya diwakili oleh tepuk tangan di hadapan Om Logo, “Om Logo, terima kasih ya, aku seneng banget. Selamat ya!”

Perbincangan dengan Om Logo yang sedang menyebutkan beberapa agendanya dalam waktu dekat itu terpotong oleh sapaan beberapa penonton lain yang mengajaknya foto bersama. Aku dan temanku mempersilakan Om Logo menemui penonton lainnya lalu kami kembali memperhatikan berbagai interaksi yang terjadi di sekitar.

Sambil melihat orang-orang yang mengantre untuk mengucapkan selamat kepada Om Budi Ros atas keberhasilannya menjadi penulis, sutradara, sekaligus pemeran “Megalomania”, aku memilih untuk memperhatikan bagaimana pementasan tersebut dirayakan, rasanya adil jika kerja keras penyelenggara disambut apresiasi penonton yang tidak berhenti pada tepuk tangan saja, pun sebaliknya yaitu effort penonton untuk menghadiri pementasan diganjar dengan pertunjukan yang apik dan matang. Mulai dari panggung yang entah bagaimana tampaknya tidak terlalu kecil untuk dikuasai hanya seorang aktor (padahal jika diukur aslinya merupakan suatu panggung yang besar), musik yang pas karena tidak mendistraksi atensi penonton dalam mendengarkan narasi, dekorasi yang meriah khas perayaan ulang tahun namun tetap sederhana seperti yang diungkapkan RBY, bahkan grafis dalam poster acara pementasan ini yang belakangan terasa lebih mahal karena seringnya melihat grafis hasil AI (bukan berarti tidak setuju dengan keberadaan AI). 

Menyenangkan melihat interaksi saling mengusahakan dan mengapresiasi tersebut. Ekosistem berkeseniannya terasa hidup. Namun jika aku bisa memberi saran dan bercita-cita, sepertinya aku menginginkan suatu durasi khusus setelah pementasan untuk para penontonnya memberikan tanggapan, bentuknya bisa berupa kritik atau bahkan pujian. Aku tidak tahu idealnya seperti apa sesi setelah pementasan berakhir, pun tak tahu apakah ada semacam teori tertulisnya atau sebatas kultur saja tentang bagaimana seharusnya yang terjadi sehabis pementasan, ideku ini muncul sesederhana ingin adanya dialektika yang diagendakan sebelum diakhiri dengan ramah tamah (obrolan, ucapan selamat, dan foto bersama seperti situasi yang sedang aku lihat). 

Pada akhirnya aku tetap senang malam itu. Di saat waktu semakin malam dan Gedung Kesenian Jakarta semakin sepi, aku bisa menyapa dan berfoto dengan Om Budi Ros, lalu terlibat obrolan dengan beliau sekaligus Om Logo. Rasa canggung dan ‘penyakit’ inferiorku semakin samar lewat obrolan ringan yang membahas seputar Purwokerto dan sekitarnya, mulai dari cerita Om Budi Ros yang bertanah air di Banjarnegara sampai almamater sekolah kejuruannya yang berada di Purwokerto. Besok-besok jangan kumat deh ‘penyakit’ inferiornya, nggak boleh minder berlebihan.

Sebelum Om Budi Ros dan Om Logo pamit untuk beres-beres ke dalam, aku menyalami beliau-beliau kembali dan mengucapkan terima kasih, sebab pengalaman berkunjung ke Gedung Kesenian Jakarta untuk yang pertama kalinya bisa semenyenangkan ini. Setelahnya aku menerima titipan salam untuk teman-temanku di Purwokerto, melambaikan tangan ke arah Om Logo dan Om Budi Ros yang kembali masuk ke ruang pementasan, lalu aku berjalan menuju parkiran Gedung Kesenian Jakarta.

Sesampainya aku di penginapan, ibuku sudah siap dengan pertanyaan antusias yang menungguku menceritakan pertemuan dengan Om Logo. “Ketemu, Kak? Ngobrol apa aja? Lihat fotonya, Kak.” Masih ada Eyang Uti di Purwokerto yang besoknya menanyakan hal yang sama (dan untungnya diwakili Ibunda untuk menjawab). Tentunya masih ada rasa senang dan syukurku atas pementasan tersebut. Juga ada sederet pertanyaan dalam diriku..

Bagaimana bisa satire yang cukup ugal-ugalan ini dapat disampaikan secara rapat lewat menceritakan Nada? Mengapa harus memilih wong kalahan sebagai penyampai kritik? Kenapa dokter dan perawat RBY berkostum warna-warni yang mengesankan keceriaan (walaupun aku senang betul melihat berbagai warna favoritku sebagai kostum dokter dan perawat)? Bagaimana sampai akhirnya set yang tidak bergerak ini menjadi pilihan (yang mungkin berdampak ke aktor tidak berkesempatan ke bakcstage untuk mengambil jeda di tengah pementasan)? Bagaimana brainstorming-nya sehingga yang terlihat mata itu simple dan sederhana padahal isu dan (mungkin) pesan yang ingin disampaikan berat dan cukup krusial? 

Percayalah untuk pertanyaan yang paling terakhir itu, aku masih bingung bagaimana menarasikannya supaya persis seperti yang ada di kepalaku, namun kurang lebih begitu gambaran pertanyaanku. 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top