
Abu Hitam Kontemplasi
aku melihat cahaya mengalir dari keruh matamu
lalu menuju tabah pipimu yang landai,
pada suatu sore. di batas kota dan desa
cahaya merobek kedua bola matamu
pecahkan arsip-arsip tua di perpustakaanmu
aku merasakan kontemplasi yang gagal
dari dingin dadamu yang terpental,
pada sore ini. di batas iman dan ideologi
ia memerah terjun ke relung matamu
membakar seluruh memori juga doa-doa
menghanguskanmu
dengan bara waktu yang terus mengutuk
dalam detik yang menghentak sesak
dalam panjang perih di cerita, di derita,
di warisan genetika
cahaya melemparmu ke ruang tak terperi
tanpa diri,
penuhsesak pertanyaan
merampasmu dari diri sendiri
Kebumen, Desember 2025.
Hikayat Pohon Asam
kesetiaan pohon-pohon asam sepanjang jalan
keringkan dirinya, daun-daunnya menguning,
ranting juga dahannya melapuk menadah perubahan
menyesuai diri dengan musim, iklim, dengan riuh
menahun. sejak jalan becek di tengah hutan kolonial
sampai pekik corong asap knalpot masa 2000an
hingga kini menjaga bening hidup bagi paru-paru modern
yang egois, yang rapuh imunnya. nafas dan dengusnya
menjalar ke bumi melobangi tempat hidup ‘kan kembali
pohon-pohon asam tetap setia pada takdirnya
menerima segala luka, segala sakit, seluruh pahit
sepanjang waktu meski jaman tak henti memburu
dengan bilah-bilah beton, lintang hitam melintang
menghantam akar-akar dengan derap langkah ambisi
dibunuh perlahan oleh perubahan atas nama kemajuan
Kebumen, Januari 2026.
Prasasti Tanah Utara
I
jernih senja dari punggung gunung Purwosari
melingkarkan kisah manusia pada pinggang
bukit-bukit utara Kebumen,
berpuluh-puluh tahun lalu jernihnya
mengusap retakan sunyi yang menyayat
di mana takdir turun lamat-lamat
ke atas tanah-tanah yatim: tanah utara
tempat malam merawat usia dengan doa
lalu teduh mengalir dari kening Jinggring
mengusap panas di bawah dahan Gayam
sementara di atasnya langit melebar
memayungi nafas-nafas hijau
nama-nama terhembus dari serat-serat pohon
yang rimbunnya ialah rahim bagi janin Karanggayam
II
hingga Eropa meletupkan bara di siluet perbukitan
mesiu menderap menginjak-injak ladang, rumah-rumah
membakar Lemah Senggara!
hutan-hutan menjelma benteng, menguatkan akar
melawan deru kaki-kaki agresi kolonial
di sini, di Lemah Senggara ini
parut luka, seretan sepatu serdadu kobarkan perlawanan
hutan-hutan, bukit-bukit, semak belukar
jadi rangsel tua tempat amis keringat rakyat
membawa aroma nyawa terbakar demi tanah pusaka
III
di utara ada Karangmojo di selatan ada Plarangan
timur dan barat dipeluk oleh Kajoran dan Penimbun
Karanggayam adalah prasasti bagi sejarah memahat peluh petani
ketinggian berpuluh-puluh meter dari laut
menjadi rumah bagi panas dua puluh tujuh derajat
yang menyapa kulit para petani, bocah-bocah sunyi
dengan aroma tembakau dan liris angin yang mistis
di dinding bukit dan sawah terasering
Karanggayam merakit masa, merawat nafas
Kebumen, Januari 2026.
Idez Adhie Aksarra, lahir di Kebumen, 24 Februari. Aktif di Perpustakaan Jalanan Kebumen dan menulis dengan semangat “Mengakar merindanglah”. Karyanya antara lain Keffiyeh Menjala Air Mata, Di Bawah Selimut Demokrasi (Elorazine, 2024), serta Pulang ke Jampang Kulon, Bandung Sore Hari (Apajake Media, 2024).




