Bayang-bayang Godaan dan Puisi Lainnya

Bermain Api

Seperti binal aku mulai gatal,
mabuk kecupanmu di bibirku.
Desah itu serupa lagu pengantar tidur –
dan basah sudut mataku
saat tanganmu melingkar liar di pinggangku.

Panas hawa malam ini,
serasa neraka mengembuskan apinya
pada kita yang saling membakar
tanpa sisa.

Percayalah, bila angin kala itu
cemburu menyaksikan geliat kita;
sebab bagiku, tatapanmu adalah nikmat,
dan belaian jarimu di tubuhku
meninggalkan gelisah
yang tak mampu kubendung.

Kusentuh pipimu,
kugigit dagu kecilmu,
kulucuti gairah yang tak tentu arah.

Bermain api denganmu –
oh, aku terbakar
dan enggan padam.

***

Bayang-bayang Godaan

Apa benar merindumu itu dosa?
Parasmu menjelma bayang
di langit-langit kamarku.
Sambil berandai,
andai kau sungguh menginginkanku
berdiam di rumahmu.

Tak pernah kuduga
kau menyebut namamu malam itu.
Lidahku kelu –
aku kehilangan kata,
ditangkap utuh
oleh bulat matamu.

Mengapa kau pilih aku
masuk dalam perangkap godaanmu,
sementara imanku
gemetar menahan pintu?

Ah, pesonamu –
sedikit demi sedikit.
mendesak keyakinanku:
kaulah kupu-kupu
yang diam-diam ingin kucumbu
di malam-malam sepiku.

***

Geletar di Ruang Kecil

Biarpun kini kita
bagai asing di seberang lautan,
diamku masih merapal namamu
di gelap pikiranku
yang tak pernah benar-benar lapang.

Ruang kecil itu
masih menyimpan siluet kita –
dua tubuh muda
saling memeluk ketakutan
akan waktu yang terlalu cepat berlalu.
Bisikmu di telingaku
menyulut geletar hasrat
yang tak sempat kusebutkan namanya.

Hari itu –
kita duduk berhadap-hadapan,
jarak selebar napas.
Dua matamu menggantung,
menyisakan binar puas
yang kini berulang datang
dalam ingatanku.

Begitu lihainya kau merayu,
aku tertinggal terbuai
di balik dekapan tubuhmu,
sementara perpisahan
diam-diam mulai belajar berdiri.

Sore semakin ungu,
ruang kecil makin menyempit.
Rindu tumbuh perlahan,
kian menyiksa.
Sungguh aku takut dikutuk
oleh kenangan
karena sulit melupa
harum manismu.

Semoga pudar.
Semoga mati.

***

Di Alam Mimpi

Ingin rasanya
aku menetap lebih lama
di negeri tanpa pagi,
di mana waktu berhenti
hanya untuk kita berdua.

Sebab di sana
ada kau –
yang masih ingin kusentuh
tanpa takut hilang,
tanpa perlu berkata apa-apa,
cukup dengan diam
kita saling mengerti.

Di alam mimpi,
kau tak menjauh,
tak memudar,
tak jadi bayangan yang kucari saat bangun.

Andaikan aku boleh tinggal,
aku akan memilih tidur
seribu malam
untuk satu kali lagi
menyentuhmu
dalam sunyi yang tak pernah menyakitkan.

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top