
Setelah shalat Isya’, aku membawa kopi dengan cangkir putih kesukaanku ke ruang tamu. Lantai di ruang tamu mengkilap licin setelah ibuku mengepelnya karena rintik hujan mencoba masuk melalui celah atap rumahku.
Aku duduk diam mendengar merdu atap rumah ditabuh oleh hujan sembari menunggu kopiku sedikit hangat. Seketika aku seperti tercebur ke dalam sumur ingatan yang sudah terbengkalai. Seperti hujan yang seketika deras, rintik itu terjun, membawa serpihan masa kecil yang tak bisa lagi kuulang.
“Apa kau ingat, Cu, jalan berlumpur itu?”
“Apa kau masih tahu rasa air hujan di tanah yang dulu kau injak tanpa alas?”
Tanya-tanya itu sering datang di malam hari, ketika sepi menjelma menjadi suara-suara dari masa lalu.
Jauh saat dahulu kala, waktu itu senja baru saja merambat. Suara azan Maghrib bersahut dari kejauhan, menggetarkan udara yang basah. Hujan turun deras, tanpa kompromi. Aku masih kecil, belum genap sepuluh tahun, dan sedang bermain dengan sarung yang kulilit di pinggang. Ibu muncul dari dapur dengan suara yang tegas namun lembut.
“Nak, jemput kakekmu di mushola, ya. Bawa payung. Jangan sampai kakek kehujanan.”
Aku mengangguk cepat. Melepas sarungku dan menyambar payung besar yang tersandar di belakang pintu.
“Jangan pakai sandal, jalan licin banyak lumutnya.”
Begitu pesan ibu yang selalu terngiang.
Tanpa alas kaki, aku melangkah ke luar, mencium aroma tanah basah yang khas. tanah basah adalah taman bermain yang tak pernah memungut bayaran.
Di bawah payung, aku menari-nari kecil, seperti anak-anak yang menemukan kesenangan dalam hal sederhana. Kupandangi langit gelap yang sesekali menyala oleh kilat, lalu menatap jalan setapak menuju mushola.
Di sana, berdiri seseorang yang sangat kukenal — kakekku. Ia berdiri tenang, sarungnya sudah dilipat tinggi agar tak basah oleh genangan air. Tangannya menggenggam ujung sajadah yang telah ia gulung rapi. Wajahnya… damai, seolah hujan adalah temannya yang lama tak bersua.
“Sudah datang, ya?” katanya sambil tersenyum, senyum yang entah kenapa terasa begitu dalam.
Aku mengangguk, mengangkat payung ke arahnya.
“Ayo, Kek, nanti tambah deres.”
Ia mengambil payung dari tanganku, lalu memayungi kami berdua. Langkahnya pelan tapi pasti, menyusuri jalan becek dan basah. Kami berjalan berdampingan dalam diam, hanya bunyi hujan yang menemani.
Di tengah perjalanan, kakek mendadak berkata:
“Cu…”
“Nanti waktu kakek meninggal, gantian kamu yang megangin payung buat kakek, ya.”
Aku terdiam. Hujan seperti berhenti sejenak. Kata-kata itu menggantung di udara, berat, tak mampu kutangkap sepenuhnya.
“Kenapa Kakek ngomong gitu?” tanyaku polos.
“Biar kamu ingat, kakek pernah sangat mencintaimu.”
Aku tak menjawab. Aku hanya menggenggam lengan bajunya lebih erat. Aku kecil, terlalu kecil untuk mengerti makna kehilangan. Tapi malam itu, entah kenapa, dadaku terasa sesak.
***
Waktu melaju seperti kereta yang tak bisa dicegat. Aku tumbuh, sekolah, mulai jarang menemani kakek di mushola. Tapi ia selalu ada. Duduk di sofa coklat yang sedikit berdebu, mengelap sepeda onthelnya atau mengelus kepala cucunya yang paling nakal — aku.
Di usia menuju dewasaku, aku mulai mengerti. Tentang kalimatnya di malam hujan itu. Tentang payung. Tentang kematian. Tentang cinta diam-diam yang begitu dalam.
“Kakek itu aneh ya, lebih percaya kamu daripada anak-anaknya sendiri.”
Kata seorang bibi suatu hari.
Dan aku hanya menunduk, tak tahu harus merasa bangga atau terbebani.
***
Tahun-tahun berlalu. Kakek mulai ringkih. Jalannya tak lagi sejauh dulu, shalatnya lebih sering di rumah. Tapi matanya tetap teduh. Suaranya tetap tenang. Bahkan ketika rasa sakit mulai tinggal di tubuhnya.
“Kek, jangan banyak bergerak, nanti tambah nyeri.”
“Kamu tahu nggak, rasa sakit ini aneh. Kadang justru bikin kakek lebih sadar kalau hidup itu pinjaman.”
Kalimatnya seperti peluru kecil yang menembus kulitku pelan-pelan. Tak mematikan, tapi menyisakan luka yang tak kasat mata.
Aku mulai lebih sering di rumah. Menemani. Memotong kukunya yang kian memanjang. Menyiapkan teh kesukaannya. Duduk diam di sampingnya hanya untuk mendengar napasnya yang mulai berat.
“Nanti, kalau waktunya tiba, jangan sedih lama-lama, ya.”
“Sedih itu manusiawi, Kek…”
“Tapi jangan berlarut. Doamu lebih penting dari air matamu.”
Itu nasihat terakhirnya. Setelah itu, ia mulai diam. Matanya lebih sering memandang langit-langit kamar, seperti sedang menunggu.
Dan Jumat pagi itu, ketika dunia masih sibuk dengan rutinitasnya, aku mendengar suara tangis Ibu. Kakek telah pergi. Diam-diam. Tanpa pamit. Tanpa payung.
***
Aku berdiri di pinggir liang. Hujan tak turun, tapi awan menggantung kelabu. Di tangan, kugenggam payung yang dulu kubawa menjemputnya. Tak kugunakan. Entah kenapa, rasanya tak layak.
“Kakek… aku gagal.”
“Aku tak bisa memayungimu seperti janjiku dulu.”
Air mataku jatuh satu per satu. Tak ada hujan untuk menyamarkannya.
“Tapi aku harap, doaku bisa jadi peneduh untukmu di sana.”
“Kau tenanglah, Kek. Karena aku akan terus mengenang, tak hanya saat hujan, tapi di setiap ujung sajadahku.”
***
Kini, setiap hujan turun, aku mendongak. Menatap langit. Mendengarkan gemuruhnya. Kadang, aku menutup mata, berharap mendengar suara kakek kembali.
“Cu, jangan lupa doain kakek ya.”
“Iya, Kek… aku janji…”
Dan di sudut kamar, payung besar itu masih tergantung. Diam, tak berubah. Tapi kini tak lagi sekadar alat pelindung dari hujan. Ia adalah lambang janji, lambang cinta, dan lambang penyesalan yang akan selalu kujaga.

Anandhika Lukman Firmani. Lahir di Tinggarjaya, Kec. Jatilawang, Kab. Banyumas. Sedang menempuh pendidikan di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah. Memiliki ketertarikan pada dunia literasi dan fotografi, serta kerap meromantisasi hal-hal kecil-hujan, senja, dan sunyi.




