
“Apa-apaan kau Sumbang, ini sudah semestinya milik kami, buanglah jauh-jauh mitosmu itu.” Gertak Pak Banal kepada Pak Sumbang kepala RW 18.
Perselisihan kedua belah pihak dari hari ke hari tidak pernah berhenti, memperdebatkan garis wilayah kekuasaannya yang selama ini dipercaya adalah milik nenek moyang para pemimpin wilayah itu yang berada di sebuah kecamatan terpencil dan tersembunyi, dengan nama Desa Tulung Suwung, Kecamatan Telek Gempung. Perhelatan dua kelompok menjadi-jadi di sana, selalu bersitegang—RW 18 dengan RW 19. Wilayah ini seperti tak pernah disentuh oleh peradaban modern, di mana masyarakatnya masih menggantungkan kepalanya pada kepercayaan kuno dan adat istiadat yang dipituturkan oleh para pewaris nenek moyang. Di sini kekuasaan adalah segalanya. Setiap jengkal tanah, pohon, kutang tetangganya dan bahkan sungai kecil yang menjadi pembelah wilayah mereka, dianggap memiliki nilai tarung dalam menentukan nasib masyarakatnya.
Setiap hari, suara hentakan dan keributan terdengar dari batas wilayah kedua RW. Pak Sumbang, pemimpin RW 18, selalu memandang wilayahnya sebagai pusat dari kecamatan ini, dia sangat yakin bahwa dulu nenek moyangnya adalah pemilik asli tanah ini, dan tak ada satupun yang bisa menentang hak-hak mereka. Di sisi lain, ada pemimpin RW 19 bernama Pak Banal, yang penuh ambisi. Dia sama seperti Pak Sumbang tetapi Pak Banal lebih unggul karena dia memiliki lebih banyak warga muda yang memiliki potensi memimpin perubahan, dan tak lagi ingin berada di bawah bayang-bayang tradisi lama RW 18.
“Wilayah ini milik kami, sejak nenek moyang kami pertama kali mendirikan pondok di dekat batu besar itu!” seru Pak Sumbang pagi hari.
Suaranya menggema di antara kerumunan warga yang berkumpul di lapangan. Namun, Pak Banal, tidak tinggal diam, dengan santai, ia membantah.
“Itu cerita lama, Pak Sumbang. Sekarang anak-anak kami membutuhkan masa depan yang berada, yang penuh pengetahuan tata kelola desa, penuh dengan kebijaksanaan. Biarkanlah kami yang memimpin.”
Para warga saling terpecah satu sama lain, masing-masing dengan keyakinan mereka sendiri. Ada yang setia pada cerita leluhur Pak Sumbang, dan ada yang mulai berpihak pada visi Pak Banal, yang ingin membawa desa mereka ke arah baru. Sebagian warga menepi menulis kejadian yang terjadi yang bagi mereka adalah ancaman. Batas antara RW 18 dan RW 19 tak lagi hanya berupa garis imajiner, melainkan tembok besar yang penuh dengan rasa curiga dan kebencian.
*****
Di antara rerumputan tinggi yang membatasi wilayah RW 18 dan RW 19, berdiri sebatang pohon beringin tua yang diam-diam menjadi saksi bisu setiap ketegangan terjadi. Dari cabang-cabangnya yang rimbun, pohon itu sering mendengar perdebatan yang panas bahkan sampai adegan pembubaran atas perkelahian yang terjadi di bawah naungannya. Pada suatu sore, pohon itu mendengar suara yang sudah dikenalnya: suara Pak Sumbang yang serak bercampur amarah, dan tawa dingin Pak Banal yang tengah mengejek.
“Apakah engkau punya mata. Banal! Lihat ini, sudah jelas-jelas masuk wilayah RW 18. Jangan tiba-tiba berani mengklaim!” suara Pak Sumbang menggema, mengguncang daun-daun di atas.
Pak Banal, seperti biasa, menjawab dengan nada santai.
“Pak Sumbang, garis batasnya sudah bergesar. Ini sudah wilayah kami sekarang. Lagi pula, apa bedanya sepotong tanah ini bagi RW 18 yang katanya sudah punya banyak tanah luas”
“Bagi kami, segumpalan tanah adalah darah yang mengalir. Walaupun kami memang sudah banyak tanah” bantah Pak Sumbang
Menjelang sore hari. Angin tanpa diam, membawa bisikan-bisikan pohon beringin ke segala arah. memberikan kabar pada celah-celah obrolan warga yang sedang bertransaksi di pasar. Tak hanya di situ saja tetapi juga sampai di gazebo, tempat warga berkumpul bersama. Yang membuat cerita semakin mendidih dan berlipat-lipar bibir. Pohon biringan, yang sudah berdiri di sana memandang para kepala pemimpin itu, hanya bisa menghela napas panjang, ia tahu, keributan ini sudah terjadi sejak dulu, dan tak pernah menemukan titik gelap, tinggal terang cahaya masing-masing. Dalam berjalannya waktu selalu ada konflik baru muncul, seperti daun-daun kering yang berguguran di bawahnya setiap musim.
Dalam batin pohon beringin, berucap: “Andai kata, aku dapat melerai perdebatan ini, kemungkinan besar kemapanan hidup dari kedua pemimpin, bisa selesai tanpa adanya kepentingan kelompok masing-masing.” Sebagai saksi pertikaian, pohon beringin selalu berdoa kepada keyakinannya, agar bagaimana wujudnya dapat menjadi seperti mereka. Walaupun niatnya bersifat buruk.
Di malam hari, saat menusia terlelap, pohon beringin sering merenung di bawah cahaya bulan. Dalam keinginan itu, ia merasa seolah tanah di bawahnya berbisik, menceritakan bagaimana setiap jengkal wilayah di sini selalu diperdebatkan. Dari dalam tanah, ia mendengar suara arwah leluhur yang gelisah, seolah memohon agar perseteruan ini berakhir. Namun, manusia—dengan segala hasratnya yang tak pernah menemukan batas kepuasan—terus saja berebut batas-batas yang bahkan tidak bisa mereka bawa ketika menghadap Sang Adi Luhung.
Sementara itu, dari balik jendela rumah-rumah panggung di RW 18 dan RW 19, anak-anak yang polos mulai bertanya kepada orang tua mereka, “Mengapa kita tidak diperbolehkan bermain di sana?” sedang jawaban mereka yang diterima selalu sama saja “Itu bukan wilayah kita.”
Di lain waktu, pohon beringin mendengar suara ranting yang patah—kali ini bukan oleh besi-besi besar, melainkan oleh sekelompok anak-anak yang berusaha bermain di perbatasan terlarang. Tapi, saat mereka tertawa, ada sesuatu yang berbeda. Tidak ada rasa takut di antara mereka, tidak ada raut wajah yang gelisah, dan seolah tidak ada yang emabtasi-nya bermain. Pohon beringin tahu bahwa anak-anak ini belum memahami perpecahan yang diwarisi kepada mereka, dan untuk sesaat, beringin merasa ada harapan kecil dalam kebersamaan mereka.
Akan tetapi di pagi hari berikutnya. Seuatau ketika anak-anak kembali ke rumah masing-masing, keributan antara Pak Sumbang dan Pak Banal kembali mencuat, bahkan lebih keras dari sebelumnya. Konflik kecil di pasar berubah menjadi adu kekuatana lapangan terbuka, di mana kedua pemimpin RW berdebat di hadapan seluruh warga. Suara mereka menggema sampai ke dahan pohon beringin, yang kali ini hanya bisa menggoyangkan rantingnya, seolah menahan tangis yang tak terdengar. Seperti perkelahian arus sungai yang menggerus batu-batu di tepinya, konflik ini tak pernah selesai.
***
Ketika angin bertiup kencang dan bulan bersembunyi di balik awan, warga RW 18 dan RW 19 jatuh dalam tidur yang tak biasa. Mereka sedang mengalami mimpi yang serupa terpisah, melihat diri mereka berjalan di sepanjang jalan yang biasa memisahkan kedua RT, tapi malam itu, jalan itu penuh dengan buku-buku yang berserakan di tanah, berselimutkan debu dan lumpur. Buku-buku ini seakan hidup, membuka dan menatap diri dengan suara gerakan yang gemercik seperti desisan ular.
Pak Sumbang dan Pak Banal, bersama beberapa warga, merasakan kaki mereka terbawa ke arah buku-buku itu tanpa bisa melawan. Mereka berhenti di depan sebuah buku besar yang kulitnya sudah usang. Tetapi judulnnya masih bisa terbaca dengan jelas, tertulis dengan tinta yang sudah pudar. “Kebenaran yang Hilang”.
Tiba-tiba, halaman-halaman buku itu mulai bergetar dan membuka sendiri. Dari dalamnya keluar suara-suara asing, suara yang tidak pernah mereka dengar sebelumnya—keras, mencibir, dan penuh cemoohan. Satu demi satu, suara dari buku-buku itu berteriak, menuduh, dan mencaci dengan hinaan yang memekakkan telinga.
“Kalian pikir bisa menguasai tanah ini? Bahkan nenek moyang kalian tak sehebat yang kalian bayangkan!” suara dari sebuh buku bersampul abu mencemooh, menggema di antara para warga yang termangu.
“Berhenti mengembangkan batas-batas tak bermakna! Kalian semua tak lebih dari sekelompok dungu yang memperebutkan tanah yang akan mengubur kalian suatu hari nanti,” kata suara dari buku lain yang lembarannya terbang ke udara, seolah mengejek ketidakmampuan mereka untuk melampaui warisan kebodohann yang sudah lama ada.
Suara-suara itu begitu keras dan penuh kebencian, seolah tahu setiap ketakutan dan kelemahan yang disimpan oleh para warga dalam hati mereka. Mimpi ini membuat mereka semua merasa kecil, tak berdaya di hadapan kata-kata yang memiliki mereka tanpa ampun. Buku-buku itu terus berteriak, memuntahkan kata-kata keji yang meluluhlantahkan harga diri mereka.
Pak Banal dan Pak Sumbang sama-sama terhuyun ke belakang, wajah mereka memucat dalam mimpi yang aneh ini. Tapi di balik hinaan-hinaan itu ada satu kalimat yang terus berulang, suara yang menekan mereka, menggema di udara seperti mantra yang tak bisa diabaikan. “Hentikan perselisihan ini, atau selamanya kalian akan tetap menjadi budak dari kebodohan kalian sendiri.”
Kalimat itu berputar-putar di kepala mereka, mengiris ke dalam benak seperti luka yang perih. Mereka merasakan rasa malu yang menyakitkan, malu atas pertikaian yang mereka rawat selama ini. Dan tiba-tiba, buku-buku itu berhenti berbicara, menutup diri dengan keadaan suara menggelegar, meninggalkan keheningan yang terasa menusuk.
Mereka terbangun dengan panas-terengah, diselimuti keringat dingin. Pagi itu, matahari baru saja terbit, Pak Sumbang dan Pak Banal tak berbicara satu sama lain, namun di dalam hati mereka ada sesuatu yang berbeda—sebuah perasaan ganjil bahwa mungkin, untuk pertama kalinya, mereka harus mulai mendengar apa yang disampaikan oleh hinaan-hinaan kejam dalam mimpi itu.
***
Pak Sumbang terbangun, tubuhnya dingin dan penuh keringat membasahi pelipisnya. Mimpi aneh tadi, tentang teriakan buku-buku yang dengan keras menghina dan membuatnya terguncang. Ia mencoba kembali melelapkan dirinya pada malam, tetapi suara-suara itu perlahan bergema di kepalanya. Di siang hari, ia bersuaha mengalihkan ingatannya pada kebiasaan rutinannya. Berjalan mengelilingi wilayah RW 18, menyapa warga, dan memastikan mereka tetap loyal. Pak Sumbang selalu bangga pada kekuatannya dalam mempertahankan tradisi dan wibawa yang tak tergoyahkan.
Namun, kali ini ada sesuatu yang mengganggu benaknya. Suara dari buku itu, kembali mendengking setiap langkahnya. Saat kali ia mencoba memberi perintah atau menegur warga, ia seakan mendengar kembali bisikan dari mimpi: “Apa bedanya engkau dari seekor burung yang terus mencak-mencak tapi tak pernah pergi dari sangkarnya?”
Pak Sumbang tak ingin menampakkan kegelisahannya kepada seluruh warga, walaupun terkadang saat waktu malam, ia kehilangan fokus. Saat di mana ia mengamati langit. Dirinya terus ditempa oleh keyakinannya bahwa mimpi itu hanyalah kebetulan, dan RW 18 masih membutuhkan pemimpin yang teguh pendirian dan demi melancarkan kepentingan dirinya. Namun, dalam hati, selalu muncul keragu-raguan yang tak bias ditepis begitu saja.
“Apa bedanya engkau dari seekor burung yang terus mencak-mencak tapi tak pernah pergi dari sangkarnya?”
***
Di rumah yang berbeda, kegelisahan juga muncul dengan alasan yang sama. Tetapi, perasaan Pak banal cukup berbeda, ia justru dihantui rasa malu yang membumi. Pagi-pagi sekali, ia berjalan kaki ke pasar, menyapa warga RW 19, ada yang berbeda dari senyumya. Terasa lebih hambar. Biasanya ia selalu menikmati setiap kali menyindir kekosongan Pak Sumbang, dan memecahkan loyalitas RW 18 dengan mimpi-mimpi masa depan yang lebih baik dan penuh kedaulatan di bawah kepemimpinannya.
Di antara senyuman palsunya, Pak Banal merasakan beban oleh cacian yang di lontarkan dalam mimipinya. Suara-suara dari buku-buku itu seperti menelanjanginya, memperlihatkan bahwa ambisiya bukanlah tentang kebaikan warga, melainkan tentang egonya yang ingin mengalahkan Pak Sumbang, setiap kali ia mencoba menenangkan diri dengan berpikir bahwa RW 19 memang lebih layak memimpin, bahkan warganya pernah bilang kepada dirinya:
“Untuk sukses. Kita harus menikmati proses, lain dari itu kita harus punya akses, karena ketika kita udah punya akses, sukses sudah di depan hidung kita.” Ketika bayangan warganya itu kembali, suara dalam mimpi itu berbisik lirih di telinganya,
“Apa gunanya kau memimpin, jika kau hanya bisa melihat ke bawah sambil tertawa. Apa pentingnya engkau memimpin jika tak ada satu perubahan yang engkau lakukan selama ini, daripada hanya berpangku pengetahuan pada orang lain. Layaknya sampah yang hampir di katakan sampah!”
Malam itu, ketika ia kembali ke rumah, Pak Banal tak bisa tidur. Ia kembali duduk menatap api unggun kecil di halaman rumahnya, merenungi apa arti dari hinaan yang didapati dalam mimpi. Seperti ada bayangan dirinya sendiri yang menertawakan dari balik api, dan ia tidak bisa menghindarinya.
“Tak usah kau pikir kembali, wahai Banal. Sejatinya tak ada yang lebih daripada itu selain dirimu sendiri. Kaudapat menetukan dirimu sendiri, keharusan hanyalah upaya. Dan tergantung bagaimana kau menganggapinya.” Suara dari balik api mencoba menggoda Pak Banal.
“Yang berbicara kepadaku?” Tanya Pak Banal dengan rasa ketakutan. “Jika benar, apa yang lebih pantas dari suara-suara itu. Karena, aku menangkapnya seperti ada ketersesatan dalam hidupku, hingga akhirnya ada cerminan lain yang mencoba memberikan kebenaran itu” lanjutnya.
“Aku termasuk dari bagian mereka. Tetapi aku tidak begitu sekeji yang lain. Memang, kamu melakukan kemungkaran, tetapi. Apakah hal itu kau harus mengambilnya. Bukannya hidup itu adalah dirimu sendiri, tidak pada yang lain. Jika demikian apa bedanya engkau dengan binatang, seperti yang di bicarakan buku-buku kepadamu.”
Sahutan itu kembali mengecam Pak Banal. Tubunya bergetar merasakan ketakutan, dan tak mau menjawabnya lagi. Lalu ia pergi ke dalam kamarnya dengan tertatih-tatih. Bersama teriakan yang cukup terdengar oleh tetangganya
“Kenapa harus aku…. kenapa harus aku….”
***
Selama malam berlangsung. Mimpi itu terus berdatangan dari satu malam ke malam berikutnya, dari jendela satu ke jendela kandang ayam. Tak habis-habis, perasaan seluruh warga menggenyal, namun apalah arti dari ketidaksadaran. Bagi mereka, ia hanyalah ilusi yang tak perlu dibatasi dengan keadaan yang nyata. “Manusiawi” olokan warga, saat berkumpul menceritakan waktu yang tengah berdimensi.
Apalagi, bagi Pak Sumbang dan Pak Banal. Tak sedikitpun keyakinannya tergoyah. Meski malamnya dipenuhi dengan mimpi aneh, dengan hinaan dan cacian yang sangat menusuk. Sampai-sampai Tuhan, tidak mau tinggal diam.
“Jibril, sudahkah tugasmu” tanya Tuhan
“Sudah, Tuhan”
“Lalu, mengapa mereka masih seperti burung unta”
“Hamba telah menyampaikan perintah-Mu kepada mereka. Bahkan tidak hanya kepada kedua pemimpin itu saja. Melainkan hamba juga mengabarkan kepada kedua penduduk pemimpin itu” jawab Jibril.
Tuhan dengan marah merespon kembali “Lantas, kenapa anak kecil yang bermain di sana masih tidak gembira, mengapa masih terlihat ada ketakutan di wajahnya.”
“Hamba sudah bekerja keras dan melakukan segala cara, bagaiaman mereka bisa tersadarkan. Bahkan hamba sampai meminta bala bantuan kepada malaikat Roqib dan Atid, hasilnya tetap nihil.” Jawabnya dengan nada lirih dan tubuh yang merunduk.
Malaikat Roqib yang sedang berada di ruangan itu. Memberanikan diri membantu memberikan penjelasan apa yang tengah terjadi terhadap Jibril.
“Tuhan, maaf hamba membuka suara tanpa perintah” ucap sang Roqib “Di antara tugas-tugas yang Engkau berikan kepada kami, hanya baru kali ini kami merasa gagal sebagai makhluk yang diperintah menyampaikan kebenaran kepada manusia. Karena, kami pun merasa kewalahan menghadapi makhluk dua kelompok manusia ini.” Lanjutnya. “Roqib” sanggah Tuhan
“Catat, lalu engkau tuliska dengan semanarik mungkin, habis itu terbitkan di Diva Press atau Cantrik Pustaka. Siapa tahu Banal dan Sumbang tertarik, hingga akhirnya mereka membacanya dan tersadarkan.”
“Ya Rab. Mereka jauh dari toko-toko buku dan warung kopi, meski tahun lalu, ada pemuda yang mendonasikan buku-bukunya beserta konsep-konsep hilirisasi, tetap saja dan jauh dari impian kita. Bahkan ada juga yang menawarkan nalar Marx yang Engkau sayangi hari ini, tidak membuahi hasil.” Seru Roqib pada Tuhan
Denga penuh berhati-hati, Malaikat Atid bersuara. “Bagaimana jadinya, ketika kita datang lalu menaruh mimpi-mimpi kepada mereka dengan merubah wujud menjadi manusia. Maka hasilnya seperti nabi-nabi kecil yang sudah kita kerahkan ke sana. Hampa.”
“Jika segala upaya engkau sudah tidak lagi membuahkan hasil. Sama halnya kalian seperti mereka. Congkak, penuh kebiasaan dalam hidup. Baru kali ini Aku menemukan manusia seperti dia, padahal sebelumnnya telah Aku tenggelamkan di lautan. Apakah Aku harus menyuruh kalian untuk melongsorkan tanah yang biasanya mereka bersumpah. Tentu tidak Aku sebagai Tuhan, merasa tak pantas jika hal itu terus berangsur-angsur lama” ucap Tuhan bersama kemarahan-Nya.
“Hamba berjanji, akan menyelasikan ini secepat mungkin, karena, hamba mendapatkan kabar dari Malaikat Atid. Sebuah kelompok yang suka menghajar lawannya, dengan ambisi pembekuan, ia seperti kelompok mahasiswa Yogyakarta, yang kini sudah tinggal artefak masa lalu, ya Tuhan. Walaupun kelompok ini kekurangan diri.” Jawaban penutup dari pertemuan malaikat dengan Tuhan.
***
Beberapa setelah mimpi itu, Pak Sumbang dan Pak Banal bertemu secara kebetulan di lapangan kecil perbatasan kedua RW, pertemuan ini cukup jarang terjadi setelah bebeapa hari lalu mereka didakik-dakik oleh mimpinya. Anehnya mereka berdua tidak sedang diiringi warga masing-masing, tinggal mereka berdua bersama suara-suara burung dan keheningan pagi yang belum terpecah oleh bising, traktor besar di sebelah gunung sana.
Pak Sumbang menatap Pak Banal dengan mata yang biasanya penuh amarah, namun kali ini ada keletihan yang tampak jelas. Ia mencoba memberanikan diri mengambil ancang-ancang tarikan napas yang cukup lirih untuk bersuara. Tetapi Pak Banal lebih dulu membuka mulut, tetapi kata-kata keluar berbeda dari biasanya. “Kita ini bodoh, Sumbang. Bahkan buku-buku yang tak punya nyawa pun tahu itu. Aku tahu engkau merasakan mimpi yang sama. Bukankah sudah jelas?”
Pak Sumbang tertegun mendengar pengakuan jujur dari Pak Banal, dan untuk sesaat, ia merasakan sesuatu yang menyerupai simpati. “Aku juga mendengar hal yang sama, Banal. Mereka menertawakan kita. Kau tahu? Kita memang lucu bahkan lebih lucu dari pemerintah yang tidak pernah tahu letak kehidupan kita. Bertengkar soal batas-batas tanah yang tak akan kita bawa mati. Kita selalu menyamahi diri kita seperti mereka di sana, dan melepaskan nilai-nilai yang pernah kita pahami bersama lalu menjauhinya hanya karena batas ego kita.”
Percakapan itu terasa aneh bagi keduanya—seperti berbicara kepada diri sendiri melalui cermin yang retak. Mereka duduk di bawah pohon beringin, masing-masing mencoba memahami apa yang sebenarnya mereka perjuangkan selama ini. Tanpa mereka ketahui, perbincangan ini didengar oleh beberapa wara yang melintas, dan kabar tentang perubahan sikap dua pemimpin itu segera menyebar di antara warga.
Selama beberapa minggu berikutnya, perlahan-lahan suasana di kedua wilayah mulai berubah. Pak Sumbang dan Pak Banal tidak lagi memperkeruh suasana ataupun adu sindiran atau adu suara mana yang paling lantang saat ada perkumpulan di kecamatan. Mereka tetap berbeda, berdebada licik dengan caranya masing-masing, karena ada kesadaran baru yang merasuk dalam tindakan mereka. Mereka mengerti bahwa tak ada artinya memenangi pertempuran jika yang kalah adalah seluruh warga mereka sendiri.
Pak Banal kini lebih sering mengajak warga RW 19 untuk gotong royong memperbaiki jalan yang berlubang dan saling menutup aib satu sama lain. Pak Sumbang, meski masih terkesan keras, mengizinkan warga RW 19 menggunkan sumber mata airnya selama musim masuk angin*-(istilah dari warga RW 18 menyebut musim kemarau). Meskipun tidak semua orang langsung percaya bahwa perdamaian ini akan bertahan, namun mereka mulai merasakan ada harapan yang belum pernah mereka rasakan selama hidupnya.
Pada malam tertentu, Pak Sumbang dan Pak Banal masih bermimpi buku-buku itu kembali. Namun, kini suara-suara itu tak lagi penuh hinaan, melainkan lebih seperti gumaman yang perlahan menghilang di antara hembusan angina malam, seolah-olah tahu bahwa warga di kecamatan ini sedang berusaha berubah. Satu langkah kecil demi bisa melompat dengan langkah yang banyak.
***
Di alam yang berbeda, para malaikat semakin gelisah. Merundung kesedihan karena tak sanggup merubahnya. Sebab, kecemasan ini bukan lagi pada keduanya yang saling berselisih lalu berubah menjadi satu. Di balik bersatunya mereka, ternyata keduanya telah melakukan pertemuan tertutup, merembug untuk bersama-sama melawan sepelintir aliansi pembusukan. Gabungan dari kedua kelompok warga yang selama ini berdiam-diam memanfaatkan pertikaian mereka. “Ayok, kita bekukan mereka. Karena tak ada yang lebih dari pada kepentingan kita. Jika mereka terus dibiarkan, proyek di sebelah gunung sana tidak akan berjalan mulus sebagaimana harapan pemerintah. Dan kamu tahu sendiri Banal, kita berselisih hanyalah panggilan kehendak alam lain. Lalu, kini kita tengah sadar. Bahwa kita harus bersatu bersama-sama. Dengan tagline Warga jaga Warga”.
MH. D. Hermanto adalah Mahasiswa Filsafat Universitas Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Aktif menulis di Gasebu Pembebasan. Bisa disapa melalui Ig: @kampretis_soviet




