
Riwayat Lamblichus
1.
Ada yang tersembunyi di balik sehimpun awan yang menggumpal bagai gerombol bebulu domba. Ada keluasan yang tak tertampung cangkir bahasa, yang bertengger di ranting-ranting semesta. Dan apabila kepala pun berhenti tengadah, di antara bebiji dan mineral, terdapat pula enigma yang bertapa di kedalamannya.
Maka, setiap lengkung tanda tanya tak ubah beban yang mesti dipikul melewati alang-alang, atau surat kematian yang mengirimi cinta tanah lapang.
2.
Dua anak laki-laki di Ephesus menyalakan api di bawah tempurung kepala, dan di malam gulita, ketika angin pun enggan menari dan bertamu mengetuki jendela, keduanya terjaga.
Mereka berteman dengan bayang, dan melepas sepasang kaki, agar bisa menyamun segala bunyi. Keduanya bersembunyi dari rembulan, lalu menghilang ke balik mulut sebuah ruang.
3.
Keduanya hilang dikunyah ruang itu. Konon, keduanya terdampar di pandemonium setelah mencoba terbang menggapai yang tersembunyi, tetapi berakhir dengan sayap terbakar terkena lesat jemparing. Keduanya hilang dan riwayatnya tak terdengar lagi.
Yang tersisa dari keduanya mungkin hanya kenang, juga dua cangkir kopi di serambi kamar, yang bening, sudah mendingin.
Subang, 2026
***
Le Petit Volontaire
Ketika rumah-rumah cahaya begitu digdaya
menumbuhkan angkara sebagai musim tercela,
sedang nun di segaris cakrawala,
bunga-bunga berguguran, rebah dalam timang malam,
tanganmu ‘kan jelma partikel desau, jerit parau,
tak pernah berhenti, bakal terus menari,
mengirimkan guruh ke pucuk-pucuk menara,
tempat seluruh tawa terpenjara.
Tanganmu itu, tak pernah terpejam,
insomnia;
serupa pemuda dengan secangkir kopi di genggamannya
terus gaung raung
menggitakan hayat melarat
sepanjang Paris hingga Calais.
Sampai saat dari tubuhmu, Lettres Philosophiques lahir
dan mengungkap lebam di jisim Prancis,
semua menduga;
kaulah itu juru selamat yang terancam segera dibabat.
Sebab, semua tahu bahwa darah mereka
yang sejak mula dimarkah hukum strata,
telah menjadikan mereka sekumpulan domba afonia.
Di leher mereka, sebuah tali tersimpul,
mengikat mereka dengan dogma agama.
Barangkali Louis dan mereka yang mengaku kalis,
tak ubahnya sekumpulan bandit.
Walau sirah hidupmu berkelindan dengan para yesuit,
namun sekian dasawarsa, matamu telah demikian mengakrabi segenap pahit.
Maka; “Écrasez l’infâme.”
Kau belah tanganmu menjadi ribuan tangan lain,
terus megar seperti mata air,
melahirkan ribuan tetes,
mengembun ke hutan kering
di kepala para jelata hingga marquise.
Prancis yang bagai paradis,
tumbuh dengan rajah petang yang sudah begitu kronis,
kau tahu bahwa di bawah sidik jarimu,
ada mantra bertahun menunggu,
memecahkan lapis demi lapis enigma itu.
“Sebab, dunia ini adalah kertas yang demikian getas,
kujelmakan tangan-tanganku
menjadi aneka lambang, semarak sasmita;
mengupas fasad durja,
menghidupkan bara pada mata
yang menanggung sehimpun murka.”
Tangan-tangan itu terus mengurai,
bagaikan jengkal demi jengkal tanah kota
yang mengulurkan batas-batasnya sendiri,
kala mata pena sketsa pembangunan
semakin memperjauh garis demarkasi.
Tak terasa, sebuah dunia kian purnama,
lahir dari tanganmu yang semenjana.
Bertahun kemudian Voltaire, dunia itu akan mengubah akasa
dengan warna-warna sama sekali berbeda.
Dari empat penjuru mata angin,
sayup-sayup namamu akan dirayakan sebagai gita bahana,
dan sebuah karangan bunga tercipta untukmu di Panthéon sana.
Kau barangkali tak bakal tahu.
Ya, sebab kau, nun di surga sana, tengah berbahagia
dengan secawan anggur dan sepiring delima.
Sumenep, 2025
***
Tubuh Bahasa
Di tubuh bahasa kita bersua
Aku menjadi burung merpati
Yang mengepakkan sayap
Memasuki matamu
Sementara kau sebuah ceruk
Dengan setitik lubang
Yang sedikit lindap
Dan berbau keringat
Kuintip celah itu
Dan seketika, aku melayang
Dalam kosmos kenangan
Yang meriah spektrum warna
Pelan-pelan kubaca tubuh fanamu:
Betapa teguh ia diamuk waktu
Pelan-pelan kuraba jantung hatimu;
Betapa setia ia menemani di setiap jalan berliku.
Subang, 2025
***
Selamat datang di Instagram
Kau akan disuguhkan banyak konten
Dari akun yang kurang perhatian, haus belaian.
Mohon sisipkan waktu memencet like,
Beri komen yang baik-baik
Dan lebih afdal lagi jika kau
Memilih fitur repost.
Jika berlama-lama di kolom komentar
Harap kencangkan sabuk, dan berpeganganlah yang erat
Beribu peperangan berkecamuk di sana, dan kepalamu bisa bolong kapan saja
Juga harap berhati-hati, feed dan beranda adalah ruang ujian bagi imanmu yang terbengkalai dan dipenuhi sawang-sawang
Menanti follower bertambah adalah cara paling jitu mengetahui daya tahan sabar
Memfollow bisa jadi pertaruhan bagi harga diri yang nyala-redup seperti signal
Dan akhirnya, selamat jalan wahai user budiman
semoga kau keluar tidak dengan isi kepala terburai
Berilah bintang 5 di playstore jika kau sempat
Dan kan kudoakan semoga hidupmu tidak nolep di balik layar
Subang, 2026
***
Fathurrozi Nuril Furqon, penulis asal Sumenep yang kini berdomisili di Subang. Aktif sebagai pembina Sanggar Sastra Al-Amien. Bisa disapa melalui Instagram @zeal0108.




