
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) selalu punya efek berantai dalam kehidupan sehari-hari. Dampaknya tidak berhenti pada angka di papan SPBU, tetapi merembet ke biaya transportasi, pengeluaran harian, sampai cara orang memandang mobilitas mereka sendiri. Ketika harga BBM naik, banyak orang mulai menghitung ulang: berapa ongkos pulang-pergi, berapa uang yang habis untuk bensin setiap minggu, dan apakah kendaraan bermotor masih menjadi pilihan yang paling masuk akal untuk semua kebutuhan.
Pada Juni 2026, Pertamina kembali menaikkan harga BBM nonsubsidi. Harga Pertamax naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter, sedangkan Pertamax Green naik dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter. Kenaikan ini memang tidak menyentuh BBM subsidi seperti Pertalite, tetapi tetap menimbulkan kegelisahan, terutama bagi masyarakat yang sehari-hari menggunakan kendaraan pribadi dan terbiasa memakai BBM nonsubsidi. Di tengah kondisi itu, muncul fenomena yang menarik di media sosial: semakin banyak anak muda yang membagikan aktivitas bersepeda, baik untuk olahraga, nongkrong, maupun mobilitas jarak dekat. Bersepeda pun terlihat bukan lagi sekadar hobi, tetapi mulai diposisikan sebagai alternatif yang hemat, sehat, dan—di era media sosial—cukup estetik untuk dibagikan.
Fenomena ini menarik karena memperlihatkan bahwa perubahan gaya hidup anak muda tidak pernah berdiri di satu sebab saja. Ada faktor ekonomi yang menekan, ada kebutuhan untuk tetap bergerak dengan biaya lebih ringan, tetapi ada juga peran media sosial yang membuat suatu kebiasaan tampak keren, relevan, dan layak diikuti. Karena itu, tren bersepeda di tengah kenaikan BBM perlu dibaca secara lebih hati-hati. Apakah benar bersepeda menjadi solusi mobilitas yang lahir dari kebutuhan, atau sebenarnya ia lebih dekat dengan tren gaya hidup yang kebetulan muncul di saat yang tepat?
Pertanyaan itu penting, terutama jika kita melihat betapa besarnya ketergantungan masyarakat perkotaan terhadap kendaraan bermotor. Di banyak kota di Indonesia, motor masih menjadi alat transportasi paling praktis. Jarak rumah ke sekolah, kampus, tempat kerja, atau pusat aktivitas sering kali tidak ramah untuk ditempuh dengan jalan kaki, sementara transportasi umum belum selalu menjangkau semua titik secara nyaman. Dalam situasi seperti itu, kenaikan harga BBM jelas terasa. Sekalipun yang naik adalah BBM nonsubsidi, pesannya tetap sama: biaya mobilitas bisa sewaktu-waktu menjadi lebih mahal, dan masyarakat perlu menyesuaikan diri.
Di sinilah sepeda mulai tampak relevan. Untuk perjalanan jarak dekat, sepeda menawarkan hal yang sederhana tapi penting: tidak butuh bensin. Di tengah ongkos hidup yang terus bergerak naik, hal sekecil ini bisa terasa besar, apalagi bagi pelajar atau mahasiswa yang masih bergantung pada uang saku. Bersepeda ke minimarket, kampus, tempat les, atau rumah teman bisa menjadi cara untuk menghemat pengeluaran tanpa harus benar-benar berhenti bergerak. Dari sudut pandang ini, tren bersepeda bisa dibaca sebagai bentuk adaptasi, meski mungkin belum masif dan belum dilakukan semua orang.
Namun, kalau berhenti di situ, pembacaannya jadi terlalu sederhana. Anak muda tidak hanya hidup di tengah tekanan ekonomi, tetapi juga di tengah arus media sosial yang sangat kuat membentuk selera dan kebiasaan. Hari ini, bersepeda bukan cuma aktivitas fisik. Ia juga bisa tampil sebagai bagian dari citra diri: sehat, produktif, ramah lingkungan, dan punya “vibes” tertentu. TikTok dan Instagram membuat hal-hal yang sebenarnya biasa menjadi lebih menarik karena dibungkus dengan visual yang rapi, musik yang pas, dan narasi yang dekat dengan keseharian. Perjalanan pagi dengan sepeda, outfit olahraga, mampir beli kopi setelah gowes, atau sekadar video jalanan yang sepi di jam tertentu—semuanya bisa berubah menjadi konten.
Di titik inilah bersepeda punya dua wajah sekaligus. Wajah pertama adalah wajah yang fungsional: sepeda sebagai alat transportasi yang murah dan masuk akal untuk perjalanan dekat. Wajah kedua adalah wajah simbolik: sepeda sebagai bagian dari gaya hidup urban yang sehat dan estetik. Dua wajah ini tidak saling meniadakan. Seseorang bisa saja mulai bersepeda karena ingin lebih hemat, lalu bertahan karena merasa aktivitas itu menyenangkan dan cocok dengan gaya hidupnya. Sebaliknya, ada juga yang awalnya tertarik karena melihat tren di media sosial, lalu justru menemukan bahwa bersepeda memang lebih praktis untuk kebutuhan tertentu.
Masalahnya, tidak semua tren gaya hidup otomatis berubah menjadi kebiasaan jangka panjang. Banyak hal viral di media sosial terasa besar di satu momen, lalu perlahan hilang ketika perhatian publik bergeser ke hal lain. Karena itu, kalau tren bersepeda mau dibaca sebagai perubahan mobilitas yang serius, kita tidak bisa hanya melihat jumlah konten di TikTok atau ramainya orang mengunggah foto sepeda. Kita juga harus bertanya: apakah kota-kota kita memang cukup aman untuk pesepeda? Apakah anak muda punya ruang yang layak untuk menjadikan sepeda sebagai alat mobilitas, bukan sekadar alat rekreasi?
Pertanyaan ini penting karena bersepeda di Indonesia masih berhadapan dengan banyak kendala yang sangat nyata. Jalan yang padat, minimnya jalur sepeda, budaya berkendara yang belum ramah pesepeda, sampai anggapan bahwa jalan raya adalah wilayah kendaraan bermotor, semuanya membuat bersepeda tidak selalu mudah. ITDP Indonesia dalam catatan teknisnya tentang jalur sepeda Jakarta menunjukkan bahwa 94 persen pesepeda merasa lebih percaya diri jika tersedia jalur sepeda yang terproteksi. Angka ini menunjukkan satu hal sederhana: minat bersepeda bisa ada, tetapi keberlanjutannya sangat bergantung pada rasa aman. Tanpa infrastruktur yang mendukung, bersepeda akan sulit berkembang menjadi pilihan mobilitas yang stabil.
Artinya, tren bersepeda di kalangan anak muda memang punya potensi positif, tetapi tidak cukup jika hanya ditopang semangat individu atau dorongan media sosial. Ia perlu lingkungan yang mendukung. Kalau tidak, bersepeda akan berhenti sebagai aktivitas sesekali: dilakukan saat senggang, saat sedang ramai di FYP, atau saat ingin mencoba hidup lebih sehat, tetapi tidak benar-benar menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari. Padahal, jika didukung dengan jalur yang aman dan tata kota yang lebih ramah, bersepeda bisa menjadi jawaban atas beberapa persoalan sekaligus: biaya transportasi, kesehatan, polusi, bahkan kualitas ruang publik.
Di sisi lain, menarik juga melihat bagaimana media sosial bisa menjadi jembatan antara kebutuhan dan kebiasaan. Tidak semua perubahan perilaku harus lahir dari kampanye besar atau kebijakan pemerintah. Kadang, perubahan justru mulai dari sesuatu yang tampak sepele: orang melihat konten bersepeda, merasa itu menyenangkan, lalu mencoba sendiri. Setelah dicoba, ia sadar bahwa ternyata bersepeda ke tempat yang dekat memang lebih hemat dan tidak seribet yang dibayangkan. Dalam konteks ini, media sosial tidak selalu harus diposisikan sebagai biang tren kosong. Ia juga bisa menjadi ruang yang memperkenalkan alternatif gaya hidup yang lebih sehat dan lebih ramah lingkungan.
Karena itu, menurut saya, tren bersepeda anak muda di tengah kenaikan BBM tidak tepat jika dipaksa masuk ke salah satu kotak saja. Ia bukan semata-mata solusi mobilitas, tetapi juga bukan sekadar gaya hidup kosong. Fenomena ini justru menarik karena berada di tengah-tengah keduanya. Ada dorongan ekonomi yang membuat orang mulai mempertimbangkan pilihan transportasi yang lebih hemat. Ada pula pengaruh media sosial yang membuat pilihan itu terasa lebih dekat, lebih menarik, dan lebih mudah diterima oleh anak muda. Keduanya bertemu dan saling memperkuat.
Pada akhirnya, yang lebih penting bukanlah membuktikan apakah semua anak muda bersepeda karena BBM naik, melainkan membaca apa yang sedang berubah dari cara generasi muda memaknai mobilitas. Jika sebelumnya kendaraan bermotor hampir selalu dianggap pilihan paling praktis, kini mulai muncul kesadaran bahwa untuk jarak tertentu, ada alternatif lain yang lebih murah dan lebih sehat. Kesadaran itu mungkin belum besar, belum merata, dan belum tentu bertahan lama. Tetapi tetap penting untuk dicatat, karena dari perubahan kecil seperti inilah arah gaya hidup dan kebiasaan sosial sering kali mulai terbentuk.
Kenaikan BBM memang tidak otomatis mengubah jalanan Indonesia menjadi lajur sepeda. Namun, ia bisa menjadi momentum yang memaksa orang berpikir ulang tentang cara bergerak, cara menghemat, dan cara hidup di kota yang makin mahal. Jika momentum itu bertemu dengan dukungan infrastruktur dan kesadaran yang terus tumbuh, bersepeda mungkin bisa lebih dari sekadar tren. Ia bisa menjadi bagian dari cara baru anak muda memaknai mobilitas: lebih hemat, lebih sehat, dan lebih sadar pada ruang hidupnya sendiri.
Gendis Zulfa Ziana, mahasiswi kelahiran Cilacap, tahun 2008 yang berdomisili di Patimuan, Cilacap, saat ini sedang menempuh pendidikan pada program studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Memiliki ketertarikan mendalam di bidang pendidikan, pengabdian masyarakat, literasi, serta pengembangan diri. Ia dapat disapa melalui Instagram @g.zzna_.




