
Udara Leiden membawa aroma tanah basah, bercampur dengan kopi hangat. Gang sempitnya lama dilalui waktu dan sepatu para pemikir dan penyair dan orang-orang biasa.
Di sudut kanal, ada pedagang tua yang tubuhnya membungkuk duduk di balik meja reyot. buku yang dijualkan terlihat usang dan kusam dan bau tintanya bercampur dengan bau kulit tua dan debu.
Elian sedang berjalan di gang sempit itu ketika Nora tiba-tiba berdiri di hadapannya, menghentikan langkahnya.
“Elian, bodoh. Aku mencarimu hampir ke seluruh kota. Kenapa wajahmu begitu? Bagaimana dengan lukisanmu, terjual?”
“Tidak. Mereka bilang lukisanku bahkan tidak layak dipajang di pasar ikan, hanya layak jadi tontonan anjing.”
Nora menghela napas, lalu mengambil salah satu lukisan yang dibawanya.
“Biarkan aku melihatnya. Ini bagus! mereka yang mengatakan itu pasti buta akan keindahan. Bagaimana orang bisa hidup dengan mata seperti itu?”
“Kau tau, mungkin mereka benar. Hanya ayah yang punya bakat melukis. Bunda mengetahui itu, tapi tetap menyuruhku melukis untuk menghasilkan uang. Sebenarnya apa yang dipikirkan wanita itu?”
Gang sempit itu sepi, tapi dari kejauhan sesekali terdengar makian orang-orang yang melintas.
Elian sebenarnya lebih suka menulis daripada melukis. Namun, lukisan selalu dianggap lebih bernilai di mata orang-orang kota, lebih mudah dijual, lebih cepat untuk menghasilkan banyak uang.
Nora menatapnya tajam “Tapi lukisanmu sungguhan bagus, aku tidak berbohong.”
“Aku tahu. Mereka bukannya tidak suka lukisanku. Dari reaksi mereka, aku paling tahu kalau sebenarnya yang mereka benci adalah aku.”
“Apa yang kau bicarakan? Berhentilah mengatakan hal seperti itu.”
“Nora, menurutmu, orang-orang membenciku karena apa?”
Nora tidak menjawab dan membiarkan Elian bersandar di antara dinding tua. Elian sering sekali mengeluh dan mengatakan hal aneh. Nora pernah melihatnya berteriak di tepi danau sambil memaki dunia seolah begitu hebat mencuranginya.
“Aku benci orang-orang. Mereka memaki seolah yang dibenci tidak punya hati.”
“Sudah cukup, aku akan mengantarmu pulang. Aku sudah tidak mau mendengarkan ocehanmu lagi.”
—
Rumah kecil itu sederhana. Dindingnya dari bata merah dipenuhi lumut lembut. Atapnya menjingga tembaga, dan Bunda selalu mengabaikan kehadirannya setiap kali pintu rumah terbuka.
“Aku pulang.”
“Bagaimana dengan lukisanmu? Terjual berapa?”
Bunda duduk di sudut ruang, di depan meja yang penuh benang. Tangannya sibuk menyulam sehelai kain.
“Orang-orang tidak akan sudi membeli lukisan bodoh ini walau hanya satu euro.”
Suara Elian diabaikan.
Bunda adalah Perempuan yang selalu tampak sendiri dengan rupa elok sekali. Wanita itu hobi menyembah lembaran uang, yang dengan senang hati menukar Elian dengan peradaban.
“Kamu bahkan tidak bisa menghasilkan uang?”
Suara bunda mulai meninggi.
Bingkai foto keluarga jatuh pecah dilempar gelas kaca. Bunda lempar seisi ruangan dengan benang sulamnya, dan Elian memilih diam tidak menyahut, lalu ia punguti sisa-sisa kekacauan yang bunda sebabkan.
—
Di bawah langit jingga di kota tua, Nora duduk di tepi jalan berbatu, bersandar pada tembok di dekat penjual buku. Rambutnya yang coklat terlihat kusam, tangannya mendekap erat lukisan milik Elian.
Sampai suara berat seseorang membuatnya mendongak.
“Hai, anak muda. Kau jual berapa lukisan itu?”
Langkah seorang pria berhenti. Tubuhnya tegap menciptakan bayangan panjang yang menutupinya. tubuhnya dibalut setelan jas mahal. Sepatu kulitnya memantulkan sisa cahaya sore dengan aroma rempah dan kekuasaan mengikutinya.
“Ah… bukankah anda?”
“Oh, gadis muda sepertimu mengenalku?”
“Tentu saja, anda ada di koran pagi ini. Walikota Amsterdam sedang berkunjung ke Leiden. Apakah anda datang untuk bertamasya? Padahal Leiden terlalu sempit untuk orang terhormat seperti anda.”
Lode van Aemstel namanya, dia mulai tertawa seolah Nora memang mengajaknya bercanda hingga satu dua orang melihat ke arah mereka.
“Kau pandai bicara, aku menyukainya. Jadi… berapa harga lukisanmu?”
“Maaf tuan, lukisan ini sebenarnya milik teman saya. Dia sedang pergi membeli roti. Kalau anda mau, anda bisa menunggu.”
“Boleh aku melihatnya lebih dekat?”
Lode amati tiap-tiap goresan pada lukisan yang menyajikan gambar sekelompok milisi bersenjata. Sorot mata mereka tajam, langkahnya bersiaga dan denting senjata terdengar samar seolah keluar dari cat minyak yang mengering. Tiap wajah, tiap gerak tangan, bahkan cahaya yang jatuh di bahu menyoroti tumit, membawa cerita yang dalam.
Bocah itu tidak hanya melukis rupa, tapi menyalin waktu ke dalam warna, menciptakan teater dan panggung penuh gema dari zaman yang memuja keberanian dan kehormatan.
Yang paling menggugah selera Lode adalah bagaimana remaja Leiden itu menggambarkan seorang gadis kecil di antara prajurit. Bukan anggota milisi, tanpa senjata dan membawa cahaya. Lalu Lode amati lagi, gaunnya kuning keemasan, rambutnya riang dan dari pinggangnya tergantung ayam Jantan.
“Aku lihat temanmu cukup berbakat.”
“Tentu saja dia berbakat, tapi si bodoh itu bahkan tidak menyadarinya.”
Kalimat Nora terhenti ketika jalanan batu yang biasanya sepi kini dipenuhi orang-orang yang berjalan tergesa dan berbicara panik. Orang-orang keluar dari gang sempit dan rumah-rumah bata.
Penjual ikan berhenti menimbang dagangannya. Anak-anak yang sedang bermain menepi, hingga seorang ibu masih menggenggam roti yang belum dibayar.
“Tunggu, tuan, apa yang terjadi? Kenapa semua orang berlari ke arah pelabuhan?”
Nora yang bingung menghentikan seorang pria berusia yang lewat di depannya.
“Ada seseorang yang menenggelamkan dirinya di laut.”
Anggun Meilani, menggemari cerita-cerita sekaligus sesekali mencoba menulis cerita pendek. Saat ini menjadi mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Dapat dihubungi via surel anggunmeilani0813@gmail.com.




