Banyak Misteri di Dunia Ini, Salah Satunya Adalah Jodoh (Surat Terbuka untuk Seluruh Relawan BIL Fest)

Halo teman-teman, selamat malam. Aku sudah membaca surat kalian satu per satu, tepat setelah sampai di rumah setelah acara closing ceremony. Terima kasih ya, aku merasa sangat terhormat sekali setelah membaca pesan kalian yang tulus apa adanya tanpa ChatGPT itu. Terima kasih ya, untuk tidak berputus asa dalam merapalkan doa-doa BIL Fest yang butuh energi besar serta sering bikin deg-degan. Terima kasih ya, sudah membangun koneksi dengan satu sama lain. Aku yakin pasca BIL Fest, banyak yang masih menjalin komunikasi, atau malah jadi bestie. Percayalah, aku bersyukur sekali melihat dampak sederhana itu.

Terima kasih ya, atas semangat belajar kalian. Mungkin ada yang baru pertama kali jadi LO, ada yang pertama kali jadi jurnalis, atau bahkan ada yang baru pertama kali jadi volunteer. Respect banget kepada kalian yang sangat berusaha maksimal untuk setiap tugas di BIL Fest. Aku bahagia berjodoh dengan kalian.

Bicara soal jodoh, aku memang selalu terkesima dengan “cara kerja” jodoh. Berjodoh dengan Neo Amroni juga bikin aku terkesima sampai sekarang, tapi bukan itu yang ingin aku bicarakan. Tentu saja, jodoh bukan hanya soal dua orang yang akhirnya menikah. Menurutku, jodoh juga tentang dipertemukan dengan orang-orang yang tepat, di waktu yang tepat, untuk alasan yang tepat. Dan tahu tidak, asyiknya berjodoh dengan seseorang karena mencintai misi yang sejalan? Rasanya tuh, kita kayak sudah kenal lama saja. Hati dan pikirannya terkoneksi secara natural.

Coba bayangkan, dari sekian banyak manusia yang hidup di dunia ini, kenapa kita bisa dipertemukan di BIL Fest? Ada yang awalnya tidak saling kenal, sekarang jadi teman jalan. Ada yang awalnya canggung, sekarang bisa saling bercanda. Ada yang mungkin sebelumnya merasa sendirian, sekarang mulai sadar ternyata ada banyak orang yang punya keresahan dan mimpi yang sama. Aku percaya sih, itu sama sekali bukan kebetulan.

Kalian adalah jodoh BIL Fest tahun ini, dan BIL Fest pun berjodoh dengan kalian. Mungkin, nanti kita akan sibuk dengan jalan hidup masing-masing. Kembali ke aktivitas normal: kuliah, kerja, mengejar mimpi, atau bisa jadi kita akan bertemu lagi dalam acara yang sama sekali berbeda. Tapi, aku berharap, ketika suatu saat mendengar kata “BIL Fest”, yang teringat bukan cuma acaranya, tapi juga orang-orangnya, obrolan-obrolannya, deg-degannya, tawa yang muncul di sela-sela kepanikan, dan juga rasa lelah yang ternyata bisa berubah menjadi cerita yang selalu menyenangkan untuk dikenang.

Terakhir, aku minta maaf kalau selama proses ini ada banyak kekurangan. Mungkin ada pesan yang terlambat kubalas, ada keputusan yang kurang berkenan, atau ada hal-hal yang belum sempat kuperhatikan satu per satu. Percayalah, itu bukan karena aku tidak peduli, tapi karena BIL Fest ternyata tumbuh jauh lebih besar dari yang kubayangkan.

Oh ya, ada satu pertanyaan dari salah satu relawan melalui surat itu: “Mba Rahmi kenapa sih bisa kalem dan tenang banget?” Aku jadi bertanya-tanya, memangnya aku kelihatan kalem dan tenang ya di mata kalian? Kayaknya aku lumayan emosional deh, tanya saja Mas Neo. Hehehe. Tapi terima kasih lho atas pertanyaan itu, aku jadi tahu kalau vibes-ku di hadapan orang lain itu kalem. Kenapa bisa kalem? Mungkin karena aku suka bertanya dan terbiasa menguraikan pertanyaan di kepala dengan pelan-pelan. Aku mencoba menerima semua kegelisahan atau pertanyaan hidup dengan menjawabnya satu per satu. Tuma’ninah. Begitu kurang lebihnya, kalau jawabannya butuh follow up, silakan di-follow-up secara langsung ke aku, hehehe.

Sekali lagi, terima kasih ya, sudah menjadi bagian dari perjalanan ini. Kalau suatu hari nanti semesta kembali mempertemukan kita dalam satu kerja-kerja baik, semoga kita masih sama-sama berkata, “Oh, ternyata kita berjodoh lagi.”

Sampai bertemu di cerita berikutnya. Kuberikan satu syukurku untuk kalian.

Rahmi Wijaya

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top