
Beberapa waktu lalu, jagat media sosial sempat ramai lagi membahas istilah strawberry generation. Kamu pasti pernah dengar, kan? sebutan buat generasi masa kini yang dinilai kreatif banget dan punya ide-ide brilian yang out of the box, tapi sayangnya dicap lembek. Mirip buah stroberi, tampilannya cantik dan eksotis, tapi begitu kena tekan sedikit langsung benyek dan hancur.
Benar atau enggaknya label itu, kita memang harus jujur sama satu hal, yaitu kita sekarang hidup di zaman yang manjanya minta ampun. Semuanya serba instan. Kalau lapar melilit tengah malam, jempol tinggal mainkan aplikasi di ponsel, tahu-tahu abang ojol sudah mengetuk pintu bawa martabak manis. Mau pergi ke mana pun tinggal pesan kendaraan lewat layar sentuh. Bahkan, kalau mau tahu teori konspirasi paling absurd di dunia, kita cuma butuh waktu beberapa detik buat mencarinya di Google.
Segala kemudahan ini sadar atau enggak bikin kita jadi manusia yang punya toleransi rendah terhadap rasa tidak nyaman. Kita jadi gampang mengeluh kalau Wi-Fi lemot sedikit, atau langsung burnout kalau dikasih tugas tambahan sama dosen.
Di tengah kepungan kenyamanan yang melenakan ini, pikiran saya tiba-tiba melayang ke sebuah tempat yang justru menerapkan konsep hidup sebaliknya, yaitu pondok pesantren.
Pesantren itu bisa dibilang sebagai antitesis dari dunia modern yang serba instan. Di sana, kamu gak bakal nemu yang namanya kemewahan hidup serba dilayani. Begitu seorang remaja memutuskan atau diputuskan oleh orang tuanya buat masuk pesantren, itu adalah momen di mana dia harus menekan tombol log out dari zona nyaman rumah.
Bayangkan saja anak zaman sekarang yang biasanya tidur di kamar ber-AC, punya kasur empuk sendiri, dan kalau bangun siang tinggal teriak minta dibuatkan sarapan sama ibunya. Begitu masuk gerbang pesantren, Realitas langsung berubah 180 derajat.
Kamar yang dulunya luas dan dipakai sendiri, sekarang harus dibagi rata dengan belasan, bahkan puluhan teman sekamar. Jangan harap ada lemari baju segede gaban buat memajang koleksi fashion kekinian. Di pesantren, kamu cuma jatah satu lemari kayu kecil yang ukurannya pas-pasan. Mau gak mau, kamu harus belajar menyusun barang dengan super rapi ala permainan bongkar-pasang.
Memang kedengarannya mengenaskan buat standar anak kota. Tapi justru dari keterbatasan ruang itulah, petualangan hidup yang sebenarnya baru dimulai.
Minggu-minggu pertama di pesantren itu biasanya jadi fase yang paling berat sekaligus penuh drama. Kamar santri baru sering banget diwarnai suara isak tangis sembunyi-sembunyi di balik bantal saat malam hari. Istilah kerennya homesick, alias kangen rumah. Mereka rindu masakan ibu, rindu rebahan di sofa ruang tamu, atau sekedar rindu dimanja oleh keluarga.
Namun, air mata itu gak bertahan lama. Keadaan memaksa mereka buat mandiri secara instan. Mau baju bersih? Ya harus kucek dan sikat sendiri, gak ada mesin cuci otomatis apalagi jasa laundry kiloan yang siap antar-jemput. Uang saku pun terbatas, jadi mereka dipaksa muter otak buat mengatur keuangan biar gak “kanker” alias kantong kering sebelum akhir bulan. Secara gak langsung, mereka belajar mengendalikan emosi egoisnya tanpa bisa lagi berlindung di balik ketiak orang tua.
Salah satu ujian mental paling epik di pesantren adalah ritual mandi pagi. Bayangkan, subuh-subuh buta saat udara masih dingin menusuk tulang, para santri sudah harus bangun dan berdiri mengantre di depan kamar mandi umum.
Di sinilah pelajaran karakter yang sesungguhnya terjadi. Gak ada yang namanya serobot antrian cuma karena kamu merasa anak orang kaya di luar sana. Di depan pintu kamar mandi pesantren, semua orang berstatus sama, sama-sama kebelet dan sama-sama harus sabar menunggu giliran. Dari hal sepele ini, mereka belajar menghargai hak orang lain dan sadar kalau dunia ini gak berputar cuma buat menuruti kemauan mereka sendiri.
Salah satu tradisi paling hangat yang selalu bikin alumni pesantren gagal move on adalah momen makan bersama. Bayangkan, satu porsi nasi putih hangat ditambah lauk seadanya seperti tempe, tahu, atau kerupuk, ditaruh di atas satu nampan besar atau selembar daun pisang panjang. Kemudian, empat sampai lima orang duduk melingkar dan makan bareng-bareng pakai tangan.
Di momen ini, gengsi dan status sosial langsung hilang. Anak seorang pejabat, anak pengusaha sukses, sampai anak petani biasa duduk bersimpuh di lantai yang sama, berebut lauk yang sama, dan menertawakan lelucon yang sama. Gak ada ruang buat gengsi atau rasa jijik. Kebersamaan seperti inilah yang melahirkan rasa persaudaraan yang ikatannya kadang lebih kuat daripada saudara kandung sendiri. Mereka belajar kalau menghargai manusia itu bukan dari apa merek bajunya, tapi dari bagaimana cara dia berbagi.
Melihat realita kehidupan santri, saya jadi tersadar kalau pesantren itu sebenarnya adalah ruang simulasi kehidupan yang sebenarnya. Di saat orang-orang di luar sana gampang stres dan mengeluh cuma karena hal-hal sepele, para santri justru sudah terlatih buat berdamai dengan keterbatasan sejak dini. Mereka diajarkan untuk berlapang dada menerima keadaan yang gak selalu ideal.
Tulisan ini tentu saja bukan untuk menceritakan kalau hidup di pesantren itu tanpa cela dan selalu indah seperti di negeri dongeng. Pesantren punya tantangan sendiri yang gak mudah.
Tapi, ada pelajaran mahal yang bisa kita lihat bareng-bareng buat bertahan di dunia modern yang keras ini. Pertama, berani keluar dari zona nyaman. Kedua, seni hidup secukupnya. Dan yang paling penting, kemampuan buat mengendalikan ego sendiri
Sebab, percayalah, sebelum kita bermimpi bisa mengubah dunia luar yang liar ini, kita harus lebih dulu lulus mengubah diri kita sendiri. Dan di balik dinding-dinding sederhana sebuah pesantren, pelajaran hidup yang sebenarnya justru diajarkan dengan cara yang paling sederhana.
Hanifah Nazwa Khoerunisa, berasal dari Cikarang Selatan, Bekasi, Jawa Barat. Bisa disapa melalui Instagram @hnfahnaz_




