Merangkum Sepuluh Hari ‘Selametan’ Lebaran Literasi dan Rilisnya “Teh Hijau” Sebagai Hadiah (Part II)

Supaya tuntas silakan baca dahulu:
Merangkum Sepuluh Hari ‘Selametan’ Lebaran Literasi dan Rilisnya “Teh Hijau” Sebagai Hadiah (Part I)

Senin yang Haram Monday Sickness 

Bagi anak sekolah, Monday sickness mungkin terjadi karena berarti harus mengakhiri libur akhir pekan dan kembali ke realita jadwal sekolah dan segala tugas-tugasnya. Pun bagi pekerja kantoran bisa juga mengalaminya. Siapapun bisa mengalaminya, apa pun statusnya, perannya, kondisinya.

Tak terkecuali aku yang Senin itu mendadak buru-buru berangkat lebih pagi setelah mendapat kabar tentang pembicara yang akan sampai lokasi jauh lebih dini sebelum acara dimulai. Setidaknya di antara aku, Mba Rahmi, Mas Neo, Mas Fikri, atau Mas Fajrul, harus sudah ada yang standby untuk menyambut pembicara yaitu Bu Eta Farida. Pagi itu tidak banyak persiapan yang harus dilakukan karena sesi bincang inspiratif tidak memerlukan properti tambahan dari yang sudah tersedia. Walaupun begitu, sejak pagi aku merasa tidak tenang karena belum beresnya segala persiapan untuk pementasan teater di malam harinya. Bayangkan sudah hari H, aku dan Mas Fajrul masih bolak-balik penginapan-stasiun-festival, masih back up beberapa tamu yang hadir, dan memikirkan sambil mempersiapkan pementasan nanti malam.

Kalau agak cemas, biasanya aku jalan ke meja ticketing dan among tamu, sebatas menyapa teman-teman volunteer di sana dan berharap mendapatkan afirmasi ketenangan dari mereka. Untungnya aku memiliki teman-teman LO yang bisa diandalkan, minimal mereka tidak keberatan setiap balasan WhatsApp-ku seadanya atau justru pesannya tidak sempat aku baca, aku betul-betul mengapresiasi kedewasaan mereka yang ‘nggak baperan’ di situasi tersebut. 

Hari itu aku banyak menetap di sekretariat. Membersamai para pembicara maupun moderator yang hadir dan mendapatkan sesi bincang inspiratif versi intimate. Sebab ketika sesi bincang inspiratif dimulai, entah kenapa ada saja yang kemudian aku kerjakan sehingga tidak mengikuti sesi-sesi tersebut. Aku cukup senang (dan merasa terobati) karena obrolan-obrolan menyenangkan tersebut aku dapatkan di ruang tunggu sekretariat dari Mas Haikal, Pak Sultoni, Mas Refandy, dan Pak Sinung. Sehat-sehat para Bapak dan Mas, bahagia selalu di hidup yang seru ini.

Segala rasa khawatir dan Monday sickness tersebut masih aku rasakan sampai pementasan teater berlangsung setengahnya. Aku berulang kali berdoa supaya hujan tidak turun malam itu. Di sebelah seorang dosenku dan kawan kuliah doktoralnya, aku memeluk lutut dan menonton pementasan yang unik konsep tersebut, walaupun salah satu keunikannya terjadi karena keterbatasan kami sebagai penyelenggara acara menyediakan sarana prasarana pementasan. Bagaimanapun, pementasan tersebut tetap memukau, betul-betul seniman para aktornya!

Demi apapun, terima kasih Mas-mas logistik. Tanpa kalian Monday sickness-ku bisa jadi lanjut sampai Tuesday sickness. Kacau!

Merayakan Lebaran Sekaligus Tahun Baru Dalam Satu Waktu

Biasanya perayaan tahun baru (apa pun itu) tidak bersamaan dengan perayaan lebaran. Tapi BIL Fest 2026 mewujudkan kedua perayaan tersebut dalam satu waktu. 

Tahun baru Islam + lebaran literasi = BIL Fest 2026. Ah, sedap. Paten.

Selayaknya lebaran aku mengenakan gamis, hari itu aku berhasil memaksa Arum bergamis juga, Arum gamis hitam sedangkan aku gamis ungu. Niat hati menjiwai lebaran sebagaimana biasanya, eh dikabulkan sejak pagi menerima tamu para mahasantri Ma’had Aly Andalusia, disusul ada Pak Ismail kemudian. Jujur, rombongan Mas Mujib ini solid, alat tempur dokumentasinya dimanfaatkan dari sebelum sesi hingga setelah sesi selesai.

Hari itu aku cenderung merasa damai karena semua sesinya tidak membutuhkan treatment khusus. Seru juga topik-topik yang cenderung islami dari pagi hingga sore itu dibawakan di forum yang inklusif dan kolektif. Minimalnya yang jarang ikut kajian keagamaan bisa menemukan batu loncatan untuk kajian-kajian lainnya. Dari pembahasan soal tafsir yang anak muda banget di sesi Mas Mujib dan Pak Ismail, ekologi dan literasi sebagai kolaborasi pengingat fungsi manusia dalam konteks spiritual maupun fungsional di sesi Ustaz Alvin dan Ustaz Gilang, sampai sharing session memaknai Muharram dalam upaya menjadi pribadi yang lebih literat dan berbenah di sesi YukNgaji Purwokerto.

Walaupun, ya, nggak ikut full semuanya. Ada agenda menjemput Mas Wis di stasiun dan mampir ke rumah keluarganya sebelum ke penginapan, ke Gramedia Rita SuperMall untuk mengambil beberapa buku, lalu ke tempat pencucian mobil guna mengantar mobil jihad Ayla putih milik Mas Neo supaya mandi, ditutup dengan jalan kaki ke Hetero Space Banyumas dan lanjut mengikuti sesi. Anggap serangkaian kegiatan tersebut seperti rangkaian agenda silaturahmi ketika lebaran.

Malamnya, Mas Wis menepati wacananya datang ke lokasi festival dari penginapan dengan berjalan kaki, Mas Ega datang membawa kopernya dari perjalanan dinas di kota sebelumnya, Mas Ilham selaku moderator datang bersama rombongan keluarga, dan Bu Iik sebagai teman berbincang ketiga Mas-mas tersebut datang bersama seorang kawannya. Aku cukup antusias mengikuti pembahasan “Rahasia Salinem” malam itu, secara pribadi aku menyukai cerita yang mengisyaratkan kedekatan cucu dengan neneknya, karena aku memahami (dan mengalami) betapa dalam perasaan itu. Apalagi setelah aku puas memastikan ke kedua penulisnya bahwa Mbah Salinem adalah nyata dan Mas Ega (salah satu penulisnya) adalah cucunya, malam itu aku cukup bahagia. Bahkan saat sesi tidak berjalan semulus jalan tol hingga akhir, aku masih bahagia karena di mobil dalam perjalanan mengantar Mas Ega dan saudaranya ke stasiun masih bisa membahas Mbah Salinem dan “Rahasia Salinem”, aku bisa memahami sedalam apa cinta Mas Ega untuk Mbah Salinem dari obrolan 15 menit perjalanan tersebut. Cita-cita bertemu Mas Ega dan membahas langsung Mbah Salinem sudah terwujud!

Giliran Tumbang Itu Datang Juga

Hari ketujuh dimulai dengan workshop kepenulisan dengan aku moderatornya. Sebagai pengakuan dosa, aku sudah menangkap sinyal tidak sehat dari tubuhku, yang biasanya aku rasakan sebelum pingsan semasa SMA dulu kembali aku rasakan pagi itu. Pagi itu aku hampir menyerah, tapi ada penolakan dari diri sendiri, membersamai Wisnu Suryaning Adji adalah kesempatan sekaligus pencapaian yang aku nggak tahu kapan datang lagi.

Aku melakukan apapun semampuku mencegah situasi yang aku takuti sendiri. Tidak memberitahu siapapun adalah salah satu pilihanku untuk mencegah afirmasi rasa khawatir. Walaupun akhirnya aku mengetik beberapa pesan singkat di room WhatsApp group Founder setiap merasa tidak kuat.

Sesekali kepalaku enteng, pandanganku kabur, tapi aku percaya teori ibuku tentang kekuatan luar biasa besar yang mampu menguatkan di titik paling lemah sekalipun. Sepanjang sesi aku tidak berhenti menyebut kalimat sugesti penguat dalam hati sambil terus menyeimbangkan penjelasan dari Mas Wis. Mas Wis dengan segala energi positifnya bahkan mungkin tidak menyadari kalau aku terbantu karena terafirmasi.

Mungkin tidak maksimal performaku membersamai Mas Wis di panggung tersebut, tapi setidaknya aku memilih tidak menyerah.

Selesai sesi tersebut aku masih duduk mendengarkan seorang audiens yang rupanya teman dari dosenku berbincang dengan Mas Wis. Obrolan mereka menyenangkan dan halal aku dengarkan. Lalu aku masih harus bersabar menunggu ruang sekretariat yang penuh dengan pejabat Universitas Terbuka Purwokerto dan Disnaker Kebumen untuk sepi terlebih dahulu sebelum aku jadikan tempat makan siang dan beristirahat. Mas Wis yang seharusnya masih aku temani itu sudah bergabung bersama para volunteer yang merokok di belakang sekretariat. Terima kasih ya, Mas-mas.

Aku ingat Mba Sri, Irwan, dan Rafi adalah tiga orang yang paling sering menanyakan keadaanku. Mas Anton adalah orang yang secara tersirat berkali-kali mengingatkan aku untuk tidur. Tidur setengah hampir satu jam menjelang sore hari itu cukup berdampak buatku menjadi lebih pantas dilihat sebagai manusia di tengah live music yang berlangsung. Bisa dibilang baru di hari itu, Arum, aku, dan Mas Fikri merasa segala beban selesai bertepatan dengan segala to do list administratif selesai (TOR dan beragam surat undangan). Kami bertiga ibaratnya manusia-manusia paling bahagia menikmati live music sore itu. 

Malamnya aku hanya punya cukup tenaga untuk duduk-duduk di dalam sekretariat sambil menonton dari kejauhan line up yang tampil dari Standup Indo Purwokerto. Padahal sesi ini termasuk yang paling aku nantikan. Nggak apa-apa, setidaknya jadi penyemangat makan malam yang beberapa kali terjeda.

Sejujurnya ada perasaan bersalah karena tidak maksimal di hari ketujuh ini. Tapi aku juga enggan bertindak bodoh dengan semangat tabrakin aja yang sering membuatku pingsan semasa sekolah dulu. Nggak ada volunteer bagian kesehatan selayaknya PMR, nggak ada UKS, nggak ada sekotak obat, juga nggak ada teh manis untuk pasien. Apalagi nggak cuma aku yang kedapatan giliran sakit, malam itu ada juga satu orang (yang merasa, deh) yang menempati sofa di seberang sofa tempatku mengumpulkan tenaga untuk pulang, sofa-sofa tersebut adalah saksi pokoknya. 

Jadi untuk teman-teman volunteer semuanya, banyak terima kasih dariku atas pengertiannya, terima kasih atas perhatiannya, terima kasih atas dedikasinya. Aku nggak perlu mengkhawatirkan jalannya semua sesi di hari ketujuh karena seluruh teman-temanku bisa menjalankan perannya. Bangga sebesar bumi atas loyalitas kalian! Aku nggak akan bosan pamer ke orang-orang kalau aku punya teman-teman volunteer sehebat ini.

Hari Kedelapan: Melihat Teman-teman Volunteer yang (Mungkin) Sudah Kelelahan 

Akhirnya setelah hari-hari yang selalu penuh sesi, datang juga hari dengan sesi pagi yang kosong. Aku datang agak siang sambil membawa koper milik temanku. Lalu aku bersama Hafidan membeli sarapan bersama di daerah Unsoed. Di dalam ruang Founder, aku menemukan Irwan dan Rafi yang masih tertidur pulas dengan selimut yang menutupi seluruh tubuh.

Mas-mas lainnya yang menginap pun menunjukkan lelah yang sama. Zombie adalah sebutan yang pas kalau tega menyebutkannya. Aku membiarkan mereka menikmati waktu luang di pagi itu selayaknya suatu jeda sekaligus pencapaian setelah sepekan digempur kesiapan untuk cekatan. HT yang biasanya sejak pagi sudah dibagikan dan aku memegang salah satunya masih dibiarkan di sudut ruangan.

Lucunya, entah Irwan atau Rafi (karena mereka sepaket) menanyakan hal kocak kepadaku. “Mba, Mba Kiki kenapa kok kemarin sedih?” Jujur, lucu. Aku nggak sedih, bro..

“Aku nggak sedih. Mmm, anu, aku sakit. Hahaha.” Berarti memang aku nggak cocok sakit, terima kasih afirmasi positif secara tidak langsungnya, ya! Jangan lupakan juga momen Arum sengaja membawakan jatah suplemen vitamin c untukku. 

Sesi siang itu awalnya aku gunakan untuk membaca proposal skripsi milik Akbar. Lalu aku dan Arum kedatangan seorang teman kuliah kami yang kemudian reuni tipis sebelum setelahnya kami bergabung ke forum sesi bincang inspiratif. Walaupun aku tidak mengikuti sesi bincang inspiratif tersebut hingga selesai karena harus menggantikan penugasan LO dengan menyambut Mba Elsa selaku moderator sesi selanjutnya.

Bersama Mba Elsa aku justru update kondisi kesehatan yang memasuki hari kedua tidak prima. Biasanya aku yang menemani dan mempersilakan moderator atau pengisi acara untuk makan, tapi waktu itu yang terjadi justru sebaliknya, untungnya Mba Elsa memahami. Lagi-lagi, terima kasih Mba Sri selaku punggawa ketahanan pangan alias konsumsi yang sudah berkali-kali menanyakan dan memastikan keadaanku.

Sorenya sesi bincang inspiratif yang serba membuatku tidak menyangka. Pertama, Bu Kanthi, selaku penulis “Menghalau Halimun” merupakan penyintas kanker, dan beliau terlihat sehat juga sangat ceria sejak pertama kali turun dari mobil dan berjabat tangan denganku. Kedua, Dokter Arun, salah satu dokter yang membersamai Bu Kanthi, soft spoken nan kalem dengan wajah dan perawakan seperti Surya Saputra. Ketiga, para pasien Dokter Arun, sesama penyintas kanker, turut hadir dan menyebut diri mereka sebagai teman satu geng yang entah kenapa sama cerianya seperti Bu Kanthi. Keempat, hadir para pasien atau penyintas kanker yang diantar keluarganya untuk mengikuti bincang inspiratif tersebut, suasana sempat emosional saat mereka kemudian saling berpelukan dan menguatkan. Kelima, aku tidak menyangka forumnya akan begitu hidup dan berarti bagi para penyintas kanker maupun orang-orang yang memiliki keluarga atau saudara atau kerabat yang merupakan penyintas kanker. 

Memang betul sepertinya: niat baik kita, bahkan seandainya kita tidak mengetahui dimana baiknya, akan tetap berdampak baik meskipun kita tidak menyadarinya. 

Malamnya adalah sesi yang cukup aku nantikan. Duet Mas Jemi sebagai praktisi sastra bersama Pak Aldi selaku akademisi sastra. Kalau aku masih mahasiswa, mungkin sesi ini aku incar sebagai peluang terpantiknya ide skripsi. Bincang inspiratif ini berlangsung seru. Tapi jelang pertengahan sesi, aku sudah di batas akhir kesanggupan menahan efek kantuk dari obat yang dalam sehari sudah aku minum tiga kali, dan dari ketiganya aku belum mengiyakan kode tubuh untuk tidur. Mba Wiwit yang duduk di sebelahku meyakinkanku untuk kembali ke sekretariat dan tidur. Bagi orang yang sulit tidur selain di kamar pribadi sepertiku, tentu bukan hal mudah tidur di sekretariat, tapi malam itu aku bisa tertidur (walaupun aku masih mendengar suara di sekelilingku) di atas sofa.

Aku tidak bisa memastikan berapa lama aku tidur, yang jelas setelah aku bangun dan kembali ke forum bincang inspiratif, tidak lama kemudian sudah masuk ke closing statement. Sewaktu sesi foto bersama juga aku ikut berfoto. Hanya Mas Ilham yang sepertinya sadar kalau aku sempat menghilang dari forum untuk tidur. Meskipun aku tidur, tapi sesi bincang inspiratif ini cukup memenuhi buku catatanku, semoga tak ada penyesalan berkepanjangan mengabaikan Mas Jemi dan Pak Aldi di panggung malam itu.

Ah, iya, seingatku di hari kedelapan ini, kami memutuskan untuk mengubah lokasi Closing Ceremony yang rencana sebelumnya akan berlangsung di Ruang Gatra menjadi di panggung utama. Salah satu alasan utamanya supaya teman-teman logistik tidak perlu angkat-angkat perlengkapan lagi. Delapan hari siap siaga angkat dan menata perlengkapan tetapi tidur setiap malamnya dengan kondisi seadanya pasti berpengaruh ke kondisi mereka. Pokoknya jangan jadi bagian dari antrean yang kebagian giliran sakit. Toh di panggung utama justru memungkinkan lebih intimate bagi pengisi acara maupun audiensnya. 

Satu lagi, yang manis dari Mba-mba konsumsi, yaitu disediakannya susu, vitamin, dan buah untuk para volunteer. Entah siapa inisiatornya, harus diakui terlalu manis perhatiannya, minimal untuk aku yang sudah di mode tumbang-bangun-bertahan. Perlu diapresiasi juga atas segala seduhan kopi maupun teh yang disiapkan untuk beberapa volunteer dan tamu, selalu menanyakan request gulanya, dan nggak ngaret disajikannya. Hebat banget kalian, Mba-mba.

Kurang Sehari, Semakin Banyak Atensi

Di hari kesembilan ini sudah aku persiapkan untuk menyelesaikan dua naskah persiapan Closing Ceremony dan hal-hal lainnya yang berkaitan. Aku sudah menakar kemampuan fisikku untuk berkegiatan hari itu jika mengalokasikan istirahat di beberapa waktu. Pertimbangannya jelas: hanya ada dua agenda sesi di siang dan malam hari, ditambah satu sesi di siang hari yang diramaikan Mas Ilham dan para mahasiswanya serta Mas Jemi.

Manusia hanya bisa berencana. Karena realitanya hari itu aku kembali ke mode gangsing dan tidak ada wacana yang terlaksana.

Ada banyak mahasiswa yang datang dengan tugas wawancara. Kami sampai membagi tugas menjadi narasumber untuk beberapa kelompok mahasiswa tersebut. Nggak apa-apa, simulasi semisal tahun-tahun selanjutnya kedatangan banyak wartawan dari berbagai media.

Ada juga dramanya. Tapi cukup ytta alias yang tau-tau aja. Semua selesai dengan budaya dialektika.

Sebelum dan sesudah sesi sore itu aku mengobrol dengan Pak Lutfi dan Mas Sidiq. Spesial sesudah sesi, aku dan Mas Sidiq mengobrol tentang almamater kami juga pengalaman kuliah dulu, obrolan seperti ini yang justru membuatku merasa charge energi karena mungkin jarang ada obrolan ringan di beberapa hari terakhir. Terima kasih, Mas Sidiq, lancar-luncur studi magisternya.

Malamnya aku duduk bersama Mas Tiko di belakang sound system. Obrolan ngalor-ngidul dan bahan tawa kami malam itu belum pernah aku dapatkan meskipun setahun lalu kami sudah bertemu. Tipis-tipis, karena Mas Tiko yang (menurutku) memang pendiam, dan aku yang malam itu merasa menemukan kembali kesempatan untuk bengong. Ternyata aku lama nggak bengong, pantas seperti ada sesuatu yang kurang dari hidup.

Hari Terakhir Namun Tidak Berakhir

Hari itu ramai sejak pagi walaupun agenda dari kami baru mulai sore hari. Aku bahagia dengan kedatangan berbagai komunitas yang berkegiatan dan melakukan aktivasi di area festival. Di hari terakhir ini aku baru bisa jajan ke bazar UMKM, karena di hari-hari sebelumnya setiap niat mau jajan selalu gagal terealisasi, jadi jangan heran kalau di hari itu aku sebahagia itu bisa duduk-duduk setelah jajan bersama seorang teman dekatku yang baru bisa hadir di hari terakhir. Kesediaan Arum dan Mas Fikri menjemput Bu Selvi dan Pak Mahfud dari stasiun hingga membawa beliau berdua ke lokasi acara cukup berperan besar untukku mengambil jeda waktu lagi untuk bengong.

Siang itu aku baru selesai menyiapkan segala bahan untuk para juri Inkubasi Penulis Banyumas 2026 mengumumkan tiga naskah peraih BIL Awards 2026. Lalu dilanjut kejar tayang membuat teks MC Closing Ceremony yang akan berlangsung malamnya.

Heart rate-ku di hari kesembilan hingga kesepuluh sama diskonya seperti di hari pertama dan kedua. Kadang rasanya melayang dan kedua kaki lemas tiba-tiba. Otakku seperti lebih cepat dibanding bibirku ketika berucap. Tapi, aku pastikan tidak ada ketakutan yang menggangguku seperti yang sering aku rasakan di tujuh hari BIL Fest tahun lalu. Mungkin perlu disyukuri juga kalau salah satu warna besar BIL Fest tahun ini adalah hijau yang identik dengan kedamaian, setidaknya itu berpengaruh ke outfit hari terakhir yang aku kenakan menjadi dominan hijau, dengan harapan damai itu juga berpihak padaku.

Closing Ceremony berlangsung seperti yang direncanakan. Belum sempurna memang. Tapi setidaknya menjadi kebahagiaan bagiku yang mengonsepnya. Akhirnya penutup yang tidak mewah itu terealisasi. Segala syukur dan terima kasih tidak berhenti aku haturkan ke semua kolaborator yang dengan baik hati menyanggupi ajakan kami. Malam itu aku menonton teman-teman volunteer merayakan penutupan dengan foto bersama dan bertukar informasi username instagram. Keguyuban mereka malam itu cukup membayar segala rasa takut dan khawatir yang aku simpan berhari-hari. Aku sudah cukup senang melihat semuanya saling merayakan.

Setelah Perayaan Sepuluh Hari 

Di malam Closing Ceremony tahun lalu, tangisku sempat pecah sebentar saat memungut beberapa sampah di Ruang Gatra. Segala senang, kesal, sedih, syukur, lelah, kecewa, takut, dan perasaan lainnya yang belum terekspresikan kontan bisa diekspresikan. Untungnya waktu itu tak sampai lima orang yang ada di ruangan, hanya ada beberapa Mas-mas volunteer yang juga memungut sampah malam itu, dan tak ada satu pun yang mengetahui kalau aku menangis.

Tahun ini, setelah Closing Ceremony, aku tidak menangis. Belum ada rasa terharu. Belum ada euforianya. Sepertinya semua semestinya dan apa adanya. Tapi bukan berarti aku tidak senang atau bersyukur, ya. Maksudku, dengan segala proses panjang dan jelas ada suka dukanya, ketika yang diusahakan sudah terwujud aku tidak mengalami perasaan luar biasa. Sampai hari-hari setelahnya perasaan ‘luar biasa’ itu belum kunjung ada. Cukup aneh dan jarang terjadi untuk seorang ekspresif sepertiku.

Setelah aku bengong, merenung, dan bertemu beberapa orang membahas kondisiku ini, muncul kemungkinan-kemungkinan yang aku anggap sebagai hipotesa.

Pertama, mungkin aku mengalami yang Raditya Dika alami jika tour standup-nya selesai. Ada rasa kehilangan karena biasanya otak dan tubuh ini sudah terbiasa bekerja dengan lebih banyak excited-nya. Jadi di beberapa hari setelahnya aku masih kesulitan untuk tidur karena justru berpikir caranya supaya tidur, otakku seperti masih on fire untuk memikirkan ide dan hal lainnya (bukan overthinking nggak bisa tidur).

Kedua, mungkin aku tidak sadar kalau aku kelelahan. Butuh kesadaran berkali-kali buatku mengingatkan diri sendiri kalau tubuh ini butuh recovery. Nafsu makanku masih kacau sehingga aku lebih memilih minum jus buah sambil berpikir sadar kalau aku butuh nutrisi. Sayangnya agenda seharian membaca novel belum terlaksana setelah aku baru menyadari setumpuk buku baru yang belum dibaca di kamarku adalah buku-buku esai atau wacana kritis lainnya. 

Tapi dalam proses ‘kembali menjadi manusia normal’ yang kujalani ini aku beberapa kali mengingat teman-teman volunteer. Aku sering melihat story di WhatsApp maupun instagram mereka untuk sebatas tahu kabar dan kesibukan mereka.

Kadangkala aku ingat top one sesi deep talk sepanjang BIL Fest bersama Akbar di meja jurnalis soal asmara, Ulhaq yang setelah pembubaran panitia duduk bersebelahan denganku meminta saran melindungi diri dari ujian asmara ketika KKN, cerita Hafidan tentang segala kecewa dan harapnya kepada kesempatan mengenyam bangku perkuliahan tahun ini ketika kami membeli sarapan bersama, Mba Wiwit serta beberapa teman volunteer yang mendengarkan ceritaku (lupa soal apa) ketika makan malam di ruang volunteer, pulang bersama Ela dengan motor kami masing-masing, blush on yang diratakan Mba Sulis di pipiku ketika di meja kerja Arum, tiga kali sehari minimal interaksi dengan Fatia membahas konsumsi, niat hati beli es bersama Lalita yang kandas karena tugas insidental menanti, Mas Tiko yang menawarkan tutorial cara mengikat buku-buku dengan tali rafia, Ale yang mendadak diam dan kehilangan sebungkus rokok selama kami membersamai Aldy Amis, Restu dengan segala pengertiannya mendengarkan setiap aku mulai nggak jelas ngobrol, Azki yang selalu menimpali-mempertebal-menertawakan bersama berbagai jokes receh, Zaki yang tiba-tiba minta diskusi soal feminisme ketika sesi bincang inspiratif malam hari baru selesai, Mita yang dengan polosnya bercerita jika aku bertanya saat kami hanya berdua, Rinta yang kebingungan mengantar ayam geprek sebagai menu makan malam untuk Mas Panji (Semut Api) yang sedang meminimalisir makanan pedas, Biyel yang beberapa kali chat minta tolong di-back up dan selalu buru-buru pamit karena projek UAS, Mba Isna yang mendadak semi deeptalk di hari pertama ketika membantuku menyusun TOR, Mba Aliya yang sering memantau menu nasi kotak bersamaku sampai akhirnya membagikan jagung kupas untukku, Ari dan Silvia yang menemaniku menghabiskan sebungkus nasi rames hampir sepanjang siang, Mba Viska yang minimal hampir setiap pagi selalu menyapa wajah bingung atau kurang tidurku, Mas Alvin yang tiba-tiba membuka simposium ketika makan siang hari pertama, Mas Syahrul yang soft spoken setiap menimpali pertanyaanku dan Arum, dan masih banyak lagi hal-hal yang terjadi dan sudah bisa disebut sebagai kenangan. Bagi extrovert akut sepertiku, berbagai interaksi tersebut adalah energi baru yang mampu menopang kesiapanku berkegiatan seharian, maka aku sangat bersyukur dan berterimakasih atas berbagai interaksi manis hingga konyol yang pernah terjadi.

Aku selalu punya keyakinan bahwa orang-orang yang serius ingin belajar bisa jadi lebih berkontribusi dan berdampak. Untungnya, aku menemukan banyak keseriusan belajar itu di teman-teman volunteer BIL Fest 2026. Di saat para Founder tidak bisa menjanjikan banyak hal menguntungkan bagi mereka, mereka tetap memilih berusaha bersama kami dengan sebuah jaminan tanpa takaran pasti, yaitu: kalian bisa belajar dan upgrade diri di sini selama kalian mau berupaya.

Lewat tulisan ini aku menyampaikan setulus-tulusnya permohonan maafku untuk seluruh teman-teman volunteer yang mungkin membaca: maaf atas segala kurang dan salah dari sikap maupun perbuatanku, maaf kalau kalian sempat mendengar lengkingan suaraku, maaf semisal terlalu mulus aku berkata-kata tapi lupa memastikan kesiapan telinga dan hati yang mendengar, dan maaf-maaf yang lainnya. Kan, lebaran, jadi maaf-maafan. 

Percayalah, bertemu dan berproses bersama kalian adalah salah satu keramaian yang aku syukuri di pertengahan tahun ini. Semoga hal baik selalu menyertai kamu, kamu, kamu, kamu, semuanya.

Oh, iya, aku juga berterimakasih kepada teman-teman bazar buku. Sebab sudah menerimaku yang diam-diam membeli buku dan buru-buru karena tidak siap jika ada yang mengetahui judulnya.

Spesial terima kasih dariku untuk Mas Anton dan Mas Syahrul atas dokumentasi berupa foto dan video dari banyak momen yang tidak aku lihat secara langsung ketika berlangsung. Terima kasih juga karena aku menemukan beberapa potret diriku di berbagai ekspresi. Kalau tidak mungkin aku yang sangat strict untuk memiliki dokumentasi momen ini bisa mengalami penyesalan dan sedih yang lebay karena tidak bisa melihat ulang momen-momen itu lagi. 

“Teh Hijau” yang Merepresentasikan Diri

Saat tulisan ini sampai di bagian tengah, “Teh Hijau” dari Tulus rilis dan menjadi teman menyelesaikan hingga bagian akhir. Bukan bermaksud meromantisasi dengan merasa lagu ini untukku, tapi lagu ini rilis di situasi ketika lirik-liriknya adalah gambaran terkini kondisiku. Mulai dari euforia yang belum menggantikan perasaan biasa-biasa saja, badan yang masih butuh istirahat sedangkan isi kepala yang masih ingin bekerja riang, adaptasi jam tidur dan pola makan untuk kembali seperti dulu, ingin di tengah segala keramaian tapi masih belum seimbang ruang sendirinya, antusiasme atas apa pun yang tidak biasanya hanya datar saja. Serba tidak sinkron dan kontradiktif mungkin, ya?

Seperti ada yang hilang dari seorang aku, tapi aku menyadari ini hanya perlu jeda untuk kembali menemukan aku, atau bahkan mengumpulkan bagian-bagian dari aku. 

Bisa jadi yang membaca tulisan ini adalah bagian-bagian tersebut. Karena aku lama tidak menulis di bilfest.id, mungkin ini salah satu yang hilang tersebut. Mungkin, ya, mungkin. Oh iya, selamat satu tahun, platform bertumbuhku.

Akhirnya aku mengucapkan: “selamat hari raya literasi di setiap harinya, mohon maaf lahir dan batin, jangan lupa menikmati “Teh Hijau” bersama diri sendiri.”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top